
Hari yang dinanti pun tiba. Hari pernikahan March dan Julya.
March dan Julya hanya perlu membawa tubuh mereka ke tempat ikatan janji suci dan tempat resepsi, karena semua kebutuhan yang di perlukan untuk janji suci dan resepsi, mulai dari surat-surat, catering, gaun, tuxedo, penata rias, menyebar undangan semua sudah Neon siapkan. Tamu undangan tidak terlalu banyak, hanya keluarga inti March yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan March dan beberapa teman serta kolega bisnis. Jika di total hanya ada seratus orang yang diundang.
Nenek Julya pun juga sudah berada di ibukota sehari sebelum acara pernikahan cucunya.
*****
"Saudara March Alfian, apakah saudara menerima Saudari Julya Maharani sebagai istri anda, dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun senang, dalam sehat maupun sakit? Apakah Saudara bersedia menemani Saudari Julya Maharani hingga akhir hayat hingga maut memisahkan?" Tanya pemuka agama yang menjadi pemimpin upacara peresmian janji suci.
"Ya saya bersedia." Jawab March lantang.
"Saudari Julya Maharani, apakah Saudari menerima Saudara March Alfian sebagai suami anda, dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun senang dalam sehat maupun sakit? Apakah Saudari menemani Saudara March Alfian hingga akhir hayat hingga maut memisahkan?" Pertanyaan yang sama pemuka agama tanyakan pada Julya.
__ADS_1
"Ya saya bersedia." Jawab Julya tak kalah lantang dari March.
"Dengan ini saya nyatakan bahwa Saudara March Alfian dan Julya Maharani telah sah menjadi pasangan suami istri." Ucap pemuka agama mengesahkan hubungan March dan Julya.
PROOK.. PROOK.. Para tamu undangan pun bertepuk tangan meriah saat pemuka agama menyatakan March dan Julya sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tak terkecuali Nenek Julya, bahkan air mata juga sudah menggenang di pelupuk matanya karena melihat sang cucu bisa menikah lagi.
"Saudara March dan Saudari Julya, silahkan kalian bertukar cincin sebagian tanda pengikat hubungan kalian. Cincin yang melingkar di jari manis kalian hanyalah simbol, karena cinta yang ada di dalam hati kalian lah yang sebenarnya mengikat tali pernikahan kalian." Ucap pemuka agama.
March pun mengambil cincin yang sudah disiapkan Neon lalu menyematkannya di jari manis Julya. Setelah cincin tersemat di jari manis Julya, gantian sekarang Julya yang menyematkan cincin di jari March.
"Saudari Julya, anda bisa mencium punggung tangan suami anda, sebagai tanda bahwa menghargai suami anda." Ucap pemuka agama.
Julya pun mengambil tangan March dan mencium punggung tangan March.
__ADS_1
"Sekarang giliran anda saudara March yang mencium istri anda." Ucap pemuka agama.
"Apa aku boleh mencium bibirnya?" Tanya March pelan pada sang pemuka agama tapi masih bisa di dengan Julya.
Pertanyaan bodoh memang, meski ini pernikahan kedua March tapi sewaktu pernikahan pertamanya dengan Mey, March tidak mencium bibir Mey, ia hanya mencium kening Mey.
Mendengar pertanyaan March pada pemuka agama, Julya melototkan matanya.
"Dasar sin*ting! Kenapa juga dia bertanya seperti itu!! Mau cium yah cium saja!! Bo*doh!" Umpat Julya dalam hati.
"Tentu saja boleh Tuan, kan yang ada di hadapan Tuan sekarang adalah istri anda." Jawab pemuka agama sambil tersenyum tipis.
Mendapat lampu hijau dari pemuka agama, March pun mendekati Julya.
__ADS_1
Melihat March mendekatinya, Julya menelan salivanya kasar. Meski ini bukan yang pertama kali untuk mereka, bahkan mereka sudah melakukan lebih dari ciuman panas, tapi tetap saja Julya gugup karena sekarang banyak mata yang sedang memandang mereka.
Bersambung...