
Mata March membulat mendengar permintaan Julya.
"Yang benar saja kau Jul! Masa mau makan sate Padang harus ke Padang?! Kan disini juga banyak yang jual!" Omel March.
"Tapi maunya makan disana March!!" Balas Julya dengan nada meninggi.
"Tidak! Aku tidak mau! Kita pesan online saja!" Balas March ngotot.
Tak sampai sepuluh detik tiba-tiba March merasa perutnya seperti terguncang-guncang. March pun berdiri dari tempat duduknya dan berlari menuju wastafel pencuci piring.
Hooeeeek... Hoooeeeek. March memuntahkan isi perutnya yang semalam.
Melihat March muntah-muntah, Julya pun berdiri dari tempat duduknya dan menyusul March ke wastafel.
"Kau baik-baik saja March?" Tanya Julya sambil memijat pelan tengkuk March.
March tidak menjawab karena ia masih belum puas memuntahkan isi perutnya. Dan setelah merasa puas memuntahkan isi perutnya, March pun membersihkan mulutnya.
"Sepertinya aku masuk angin." Jawab March.
"Sepertinya memang begitu. Bagaimana tidak masuk angin kalau sepanjang malam kau tidak memakai pakaian mu. Sudah tidak memakai pakaian, selimut juga hanya menutupi Mister Peni mu saja." Balas Julya.
"Ya sudah, ayo sarapan dulu." Julya pun memapah March kembali ke meja makan.
Sesampainya di meja makan, Julya menuangkan air minum ke gelas lalu memberikannya pada March.
__ADS_1
"Minum dulu."
March pun mengambil gelas itu dari tangan Julya dan menenggak air yang ada di dalamnya sampai tandas.
Selagi March menenggak air minumnya, Julya mengambil selembar roti tawar lalu mengoleskan selai cokelat diatasnya lalu mengambil selembar roti tawar lagi lalu menutup roti tawar yang sudah ia olesi selai.
"Ini makan lah." Julya menyodorkan roti itu pada March.
"Aku buatkan teh hangat dulu." Ucap Julya.
Namun baru Julya melangkahkan kakinya selangkah, March kembali berdiri dari tempat duduknya dan berlari menuju wastafel.
Hoeeek... Hooeek... March kembali memuntahkan isi perutnya, yang kali ini hanya berbentuk cairan putih.
Melihat March kembali muntah-muntah, cepat-cepat Julya menyeduh teh hangat untuk March.
"Ini, minumlah." Julya memberikan teh hangat itu pada March.
March pun mengambil teh itu dari tangan Julya lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit.
"Bagaimana? Sudah enakan?" Tanya Julya.
March menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya kau kena karma karena tidak mau membawa ku makan sate Padang langsung ke Padang!" Sindir Julya.
__ADS_1
"Cih!! Mana ada seperti itu!" Balas March.
Baru March mengatakan itu, tiba-tiba perutnya mual dan March pun kembali memuntahkan isi perutnya.
"Tuh kan!! Apa ku bilang, kau itu kena karma!" Sindir Julya lagi.
"Terus aku harus gimana? Apa kita harus ke Padang sekarang juga?" Tanya March.
Julya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Baik lah. Ambil ponsel ku di kamar, biar aku hubungi Neon untuk menyiapkan tiket." Ucap March pasrah.
"Yes!!" Teriak Julya kesenangan. Julya pun pergi dari hadapan March untuk mengambil ponsel suaminya itu.
Dan ajaibnya, setelah March memutuskan untuk menuruti kemauan Julya, perut March yang sedari tadi serasa di obrak-abrik langsung reda dengan sendirinya.
"Aneh. Kok perut ku terasa lebih baik yah? Apa jangan-jangan benar yang di katakan Julya kalau aku kena karma karena tidak memenuhi permintaan Julya?" Gumam March.
"Akh.. tidak mungkin. Pasti hanya kebetulan saja!" Gumam March lagi.
Tak lama Julya pun datang dengan membawa ponsel March.
"Ini." Julya menyerahkan ponsel itu ke tangan March.
"Tapi kita langsung pulang yah. Aku tidak mau kita menginap. Bisa-bisa si jagoan Neon itu mengamuk pada ku kalau aku besok tidak bekerja. Karena aku sudah janji padanya untuk tidak mengambil cuti setelah kita menikah." Ucap March sebelum melakukan panggilan ke nomor Neon.
__ADS_1
Julya menganggukkan kepalanya. Tidak apa kalau tidak menginap satu hari di Padang yang penting ia ingin merasakan makan sate Padang di bawah langit Padang langsung.
Bersambung...