
"Kau gi*la! Masa dia harus melihat kita bercumbu! Aku tidak mau!" Tolak March.
"Bukankah kita harus membuktikan pada mantan istri mu itu kalau Mister Peni sudah sadar dari mati surinya? Lagipula cara ini sekaligus membalaskan dendam mu padanya." Jawab Julya.
March diam nampak memikirkan rencana Julya.
"Apa kau yakin dengan cara itu si pengkhianat itu akan menyerah?"
"Aku yakin." Jawab Julya mantap.
"Ya sudah terserah mu saja!" Akhirnya March pun menyetujui rencana Julya.
"Kalau begitu, kau mandi lah lebih dulu." Perintah Julya.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Tawar March sambil melingkarkan tangannya di pinggang Julya.
"Lebih baik kita mandi sendiri-sendiri dulu March. Karena kalau kita mandi bersama, takutnya nanti tenaga ku keburu habis di kamar mandi. Dan ujung-ujungnya rencana kita gagal!" Jawab Julya.
"Kalau gagal hari ini, kan masih bisa besok." March masih saja bernego.
"Kau ingin mantan istri mu berlama-lama disini? Baiklah, kalau kau ingin mantan istri mu berlama-lama disini!" Balas Julya ketus.
"Cepat buka resleting gaun ku, biar kita mandi bersama!" Perintah Julya lagi.
__ADS_1
"Kenapa kau marah-marah?!"
"Aku tidak marah! Kan aku hanya menuruti kemauan mu! Bilang saja kau masih cinta dengan mantan istri mu itu, makanya kau ingin dia berlama-lama disini!"
"Kenapa kau menuduh ku! Kan kau yang ingin dia tinggal disini dan mengikuti permainannya! Kenapa jadi aku yang disalahkan!"
"Ah sudah lah tidak usah banyak alasan! cepat buka resleting gaun ku!" Perintah Julya lagi.
"Sudah lah! Aku mandi sendiri saja kalau gitu!" Balas March mengalah. Daripada Julya berpikir yang macam-macam padanya dan ujung-ujungnya mereka malah berdebat, lebih baik March mengalah.
March pun membuka setelan tuxedonya hingga menyisakan boxer yang menutupi Mister Peni. Setelah itu March berjalan menuju kamar mandi.
"Dasar wanita! Sudah jelas-jelas tadi dia yang memohon agar aku mengizinkan si pengkhianat itu tinggal disini. Kenapa ujung-ujungnya jadi aku yang disalahkan!" Gerutu March setelah dirinya berada dalam kamar mandi.
*****
Seperti yang March perintahkan padanya, kini Neon dan Nenek Julya sudah berada di hotel.
Neon memesan dua kamar. Yang satu untuknya dan yang satu untuk Nenek Julya.
Setelah kunci kamar berada di tangan Neon. Neon dan Nenek Julya pun berjalan menuju lift untuk naik ke lantai dimana kamar mereka berada.
Kini mereka sudah berada tepat di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Ini kamar Nenek." Ucap Neon sambil membukakan pintu untuk Nenek Julya.
"Dan kamar ku yang itu. Jadi kalau Nenek membutuhkan apa-apa jangan sungkan bilang pada ku." Ucap Neon lagi sambil menunjukkan kamar yang ada tepat di depan kamar Nenek Julya.
"Baiklah." Balas Nenek Julya.
"Ya sudah sana, masuk lah ke kamar mu dan beristirahatlah. Dari wajahmu kelihatan sekali kalau kau sangat lelah." Ucap Nenek Julya.
"Baiklah. Saya permisi." Balas Neon lalu memutar tubuhnya. Namun baru beberapa detik, Neon kembali memutar tubuhnya.
"Apalagi?" Tanya Nenek Julya.
"Nenek jangan pergi kemana-mana tanpa saya, karena kalau sampai terjadi apa-apa pada Nenek, kepala saya taruhannya! Dan satu lagi, kalau Nenek membutuhkan pelayanan kamar, Nenek tinggal melakukan panggilan ke nomor yang ada di dekat telepon. Nenek paham kan?!"
"Cih!!! Kau pikir saya ini manusia hutan, yang tidak tau apa-apa tentang menginap di hotel!" Decih Nenek Julya tidak suka.
"Nenek memang bukan manusia hutan, tapi manusia di pulau terpencil!" Balas Neon dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu. Nenek masuk lah lebih dulu." Ucap Neon.
Nenek Julya pun masuk ke dalam unit kamarnya. Setelah Nenek Julya masuk, barulah Neon mendekati pintu kamarnya, lalu masuk ke dalam.
Neon langsung mendaratkan tubuhnya kasar diatas sofa.
__ADS_1
Ia benar-benar sangat lelah. Bagaimana tidak lelah, kalau dirinya harus mempersiapkan pesta pernikahan March dalam waktu singkat dengan resepsi yang cukup mewah.
Bersambung....