Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 37


__ADS_3

Sedangkan dari dalam warung, Julya yang mendengar teriakan ibu-ibu itu, langsung keluar dari dalam warung dan cepat-cepat menarik March menjauh dari kerumunan ibu-ibu.


"Kenapa kau keluar? Kan sudah ku bilang jangan keluar!!" Ucap Julya menggeram.


"Habisnya kau lama sekali datang, aku kan sudah lapar!!" Balas March. Setelah mengatakan itu March pun kembali berjalan menuju warung dan pastinya sambil tebar pesona pada gerombolan ibu-ibu.


"Iiikh." Julya menggeram.


Mau tak mau Julya pun menyusul March yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam warung.


Julya langsung menarik tangan March dan membawanya ke dapur.


"Eh.. calon cucu mantu Nenek sudah bangun." Ucap Nenek Julya saat melihat March.


Mata Julya membulat sempurna mendengar kata-kata sang Nenek. Lalu menoleh ke arah March dan memberi tatapan tajam pada March.


Mendapat tatapan tajam dari Julya, March hanya menggedikkan bahunya.


"Siapkan sarapan untuk calon suami mu Julya." Perintah Nenek Julya pada sang cucu.


Sengaja Nenek Julya mengatakan seperti itu karena sekarang di dapur sedang ada tiga pekerja yang membantu di dapur, tiga pekerja itu masih gadis dan tatapan tiga gadis itu sangat membuat Nenek Julya risih.


Sedangkan yang diberi perintah menganga mendengar perintah sang Nenek. Kalau reaksi March tidak perlu ditanya, yang pasti ia senang Nenek Julya mendukung dirinya dengan Julya.

__ADS_1


"Kok bengong? Cepat sana siapkan sarapan untuk calon suami mu!" Perintah Nenek Julya lagi.


Julya menghela nafasnya kasar.


"Tunggu disini!" Ucap Julya ketus pada March lalu memutar tubuhnya untuk mengambil lauk yang sudah masak di etalase.


"Kok kamu tinggalin calon suami kamu? Bawa kedepan dong Jul!" Ucap Nenek Julya lagi. Ia tak mau calon cucu mantunya menjadi bahan kehaluan tiga pekerjanya.


Nenek Julya tidak tau kalau di depan bukan hanya tiga orang yang akan menjadikan March sebagai bahan kehaluan, tapi banyak.


"Ayo." Ucap Julya sambil menarik tangan March. Mau tak mau ia membawa March ke depan.


"Duduk disini!! Dan jangan sekali-sekali menoleh kebelakang!" Julya mendudukkan March di kursi yang membelakangi ibu-ibu yang sedang memandang March, lalu berjalan ke etalase untuk mengambil nasi dan beberapa lauk pauk untuk March.


Dengan sepiring nasi dan lauk pauk, Julya kembali berjalan mendekati March.


"Cepetan habisin!! Habis itu pulang!" Kata Julya lagi.


"Pulang? Pulang ke ibukota maksud mu?" Tanya March.


Julya menganggukkan kepalanya.


"Kau dengan kata-kata ku kemaren, setelah kau menandatangani surat perjanjian, kau harus ikut dengan ku ke ibukota."

__ADS_1


"Aku akan menyusul."


"Aku tidak percaya!"


"Hish!!!" Geram Julya. Ingin sekali rasanya Julya memukul kepala March.


"Sudah sana layani pembeli mu, biar cepat habis lauknya. Setelah itu kita pulang ke ibukota bersama!" Ucap March.


Mau tidak mau Julya pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju etalase. Sedangkan March, ia langsung melahap makanan yang Julya berikan untuknya.


"Jul, dia siapa?" Tanya salah seorang ibu-ibu yang ingin membeli lauk.


"Bukan siapa-siapa Bibik." Jawab Julya.


"Apa itu kekasih mu?" Tanya salah seorang ibu yang lainnya.


Julya menggelengkan kepalanya.


"Bukannya kau baru bercerai, kenapa sudah memiliki kekasih yang baru? Apa kau tidak trauma dengan laki-laki?" Tanya ibu yang lainnya lagi. Ada lima orang ibu-ibu yang saat ini sedang mengantri di layani Julya.


Julya menarik nafasnya dalam-dalam, ia mencoba mengontrol emosinya pada ibu-ibu kepo yang ada di hadapannya.


"Bibik-bibik ini mau membeli lauk atau mau menggosip? Kalau mau menggosip, mending pulang saja!!" Geram Julya.

__ADS_1


Lantas kelima ibu-ibu itu diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun sambil menunggu Julya membungkus lauk yang mereka beli.


Bersambung...


__ADS_2