
Malam harinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
March yang tadinya hanya berbaring, lama kelamaan malah ketiduran.
"Eugh." Lenguh March sambil mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupil matanya.
March meraba nakas disebelahnya untuk mengambil ponselnya.
"Astaga udah malam ternyata." Lirih March dengan suara seraknya.
March pun mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk lalu menurunkan kakinya kelantai dan meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Setelah itu March pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Setelah selesai mencuci wajahnya, March pun keluar dari dalam kamar mandi lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
Sesampainya di lantai bawah, March langsung berjalan kedapur untuk mengambil minum.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat meja makan yang terisi dengan dua jenis menu makanan.
"Apa Julya yang memasak ini atau dia pesan?" Monolog March.
"Di lihat dari menunya sih, sepertinya dia yang memasak. Karena bahan-bahan ini ada di kulkas ku." Gumam March lagi.
March pun mengambil gelas dan menuangkan air minum yang juga sudah tersedia di atas meja.
Setelah segelas air putih tandas, March meletakkan gelas yang ia pakai minum keatas meja lalu berjalan menuju kamar Julya.
Ceklek. March memutar handle pintu.
__ADS_1
Julya ceroboh. Ia lupa mengunci pintu kamarnya.
March pun masuk kedalam kamar Julya.
Bersamaan dengan March yang masuk ke dalam kamarnya, Julya pun juga keluar dari dalam kamar mandi, ia baru saja selesai mandi. Julya keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, panjang handuk pun sejengkal di atas lutut. Dan penampakan Julya yang sehabis mandi berhasil membuat jantung March berdegup kencang. Bukan hanya jantung March, 'adik kecilnya' pun sudah menegang dan berdenyut di bawah sana.
"Astaga March!!! Keluar kau!!" Teriak Julya.
March tidak memperdulikan teriakan Julya yang mengusirnya. Ia malah berjalan mendekati Julya dengan nafas yang memburu karena kini hasratnya sudah sampai di ubun-ubun.
"Teriakan mu membangunkan singa yang sedang tidur baby." Ucap March dengan suara seraknya.
Dan tanpa basa-basi, March menarik tengkuk Julya dan mendaratkan bibirnya di bibir Julya. March melu*mat rakus bibir Julya.
"Hemph..." Sekuat tenaga Julya meronta dan mendorong March.
Tautan bibir mereka pun terlepas paksa.
"Untuk apa aku memperko*sa mu, kalau sentuh saja titik lemah mu, kau langsung menyerahkan diri." Balas March.
"Cih!!!" Decih Julya sambil memutar bola matanya malas.
"Keluar kau! Aku mau pakai baju dulu!" Usir Julya lagi.
March menggelengkan kepalanya.
"Ish!! Mau mu apa sih!!" Bentak Julya saat melihat March menggelengkan kepalanya.
Dengan bahasa tubuhnya, March menunjuk 'adik kecilnya' lalu menunjuk ke mulut Julya.
__ADS_1
Julya tidak bodoh dan tidak polos. Ia tau apa arti bahasa tubuh March itu. March ingin Julya menenangkan 'adik kecilnya' di dalam goa bergigi milik Julya.
"Jangan gi*la kau!!" Tolak Julya.
"Sudah sana keluar! Aku sudah menyiapkan makan malam, kau makan lah duluan!" Kata Julya lagi.
"Sebelum aku yang makan, tenangkan dulu 'adik' ku ini!!" Tegas March.
"March...." Julya menggeram.
"Atau kau mau aku melakukan lebih dari sekedar itu?" Tanya March sambil memicingkan matanya.
"Ingat perjanjian kita!!!" Balas Julya sambil melotot kan matanya.
"Kalau kau tidak mau, makanya bantu aku tenangkan 'adik kecil' ku ini!! Kan dia bangun juga gara-gara kau!"
"Kenapa jadi aku? Kan kau yang masuk sendiri, bukan aku yang mengundang mu masuk!!"
"Siapa suruh keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk!! Kan ada bathrobe!!" Balas March.
"Aku tidak mau menggunakan bathrobe bekas istri mu!!" Balas Julya ketus.
March memicingkan matanya melihat Julya.
"Kau cemburu?" Tanya March.
"Tidak!! Untuk apa aku cemburu! Aku tau posisi ku!! Aku hanya lah teman ranjang mu yang akan melahirkan keturunan mu!" Balas Julya ketus. Ia masih kesal dengan ucapan March tadi.
Melihat wajah kesal Julya, March menarik pinggang Julya hingga tak ada jarak diantara mereka, lalu March menarik dagu Julya agar Julya mendongakkan wajahnya agar mata mereka saling bertemu.
__ADS_1
"Kau bukan teman ranjang ku. Kau calon istriku yang sebentar lagi akan menjadi istri ku dan kau juga bukan wanita yang hanya sekedar melahirkan keturunan ku, melainkan kau adalah ibu dari anak-anak ku." Balas March dengan tatapan mata yang begitu dalam pada Julya.
Bersambung...