
Setelah satu setengah jam terapi, akhirnya Mishea dan Rai keluar dari dalam ruangan dokter Jagapati.
"Apa Anda tidak jadi konsultasi Pak Rai?" Tanya dokter Jagapati.
"Sebentar dok, saya antar dulu Mishea ke parkiran." Jawab Rai.
"Baiklah, saya tunggu." Balas dokter Jagapati.
"Ayo Shea, kita pulang." Ajak Rai sambil merangkul pundak Mishea dan mereka pun berjalan menjauhi pintu ruangan dokter Jagapati.
"Kemana dua orang itu?" Lirih Rai mencari keberadaan Satria dan Mishella.
Tak lama, saat mereka sudah hampir sampai di pintu keluar, tiba-tiba Satria dan Mishella datang dari arah luar.
"Darimana kalian?" Tanya Rai dengan tatapan mengintimidasi.
"Kami dari kedai kopi yang ada disebelah." Jawab Satria santai, ia sama sekali tidak takut dengan tatapan Rai.
Sedangkan Mishella, ia langsung menghampiri Mishea.
"Bagaimana terapinya?" Tanya Mishella.
"Semua berjalan lancar. Minggu depan datang lagi untuk terapi." Jawab Rai.
"Terimakasih Rai sudah mau mendampingi Kak Shea. Dan sekali lagi atas perbuatan kami dulu padamu." Ucap Mishella.
"Sudahlah tidak perlu bahas lagi, sekarang fokus saja pada kesembuhan Mishea." Balas Rai.
"She, ingat kata dokter tadi yah, lawan terus rasa takut mu. Percayalah, kau sudah ada di tempat yang aman sekarang. Tidak ada lagi kamera tersembunyi yang sedang mengintai mu dan tidak akan ada yang berani menjahati dirimu, kau paham?" Ucap Rai pada Mishea.
__ADS_1
Mishea hanya menganggukkan kepalanya lemah.
"Apa kau akan menemaniku lagi minggu depan?" Tanya Mishea.
"Mmm.. kalau kau mau aku menemanimu, pasti akan ku temani." Jawab Rai.
"Aku ingin kau menemani ku, aku nyaman bersama mu." Balas Mishea.
"Baiklah, aku pasti akan menemani mu terapi minggu depan." Balas Rai sambil mengelus rambut Mishea.
"Shell, simpan nomor ponsel ku, hubungi aku bila butuh bantuan ku." Ucap Rai.
Mishella pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya lalu menyimpan nomor ponsel Rai.
"Ya sudah kami pulang yah." Pamit Mishea.
"Hati-hati di jalan." Balas Rai.
Mishella yang baru melangkah satu langkah pun menoleh ke arah Satria.
"Dadah.. Nanti malam aku telepon." Ucap Satria.
Mendengar itu Rai melirik tajam Satria.
"Mmm.." balas Mishella dengan senyum malu-malu.
"Aku pulang." Pamit Mishella pada Satria.
"Mmmm.." balas Satria.
__ADS_1
Mishella dan Mishea pun pergi dari hadapan Rai dan Satria.
Satria tak hentinya tersenyum melihat kepergian Mishella dan senyum Satria itu terlihat jelas di mata Rai.
"Apa tidak kering gigi mu itu tersenyum terus?!" Sindir Rai lalu memutar tubuhnya dan berjalan menuju ruangan dokter Jagapati.
"Siapa yang senyum? Biasa saja!!" Balas Satria sambil menyusul Rai dari belakang.
"Cih.. mau bohong!! Kau pikir aku buta, hah!!!" Cibir Rai.
"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!! Mishella harus fokus membantu Mishea sembuh, jadi jangan kau mendekatinya hingga membuatnya tidak fokus pada Mishea!!" Kata Rai lagi.
"Siapa yang sedang mendekatinya? Aku cukup tau diri untuk mendekati Mishella, dia gadis baik-baik dan tidak mungkin aku merusak gadis seperti dia." Balas Satria.
"Yah... kecuali dia yang mau aku rusak, aku bisa apa?!" Lanjut Satria berseloroh.
Mendengar itu, Rai langsung memiting leher Satria.
"Jangan macam-macam kau!! Cukup Mishea yang terapi di dokter Jagapati, jangan kau buat adiknya ikut terapi disini!! Akan ku lempar kau ke lubang buaya kalau sampai itu terjadi!!" Ancam Rai.
"Wow... Lubang buaya? Apa tidak bisa kau melempar ku ke lubang yang lain? Ke lubang kenikmatan misalnya." Goda Satria.
"Kalau itu, tanpa ku lempar kau bisa melemparkan diri mu sendiri kesana!!" Balas Rai sambil memutar bola matanya malas.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...