
Keesokan harinya.
Setelah jam operasional kerja berakhir, Rai dan Satria pun pergi ke tempat praktek psikiater.
Dokter psikiater yang banyak direkomendasikan di sebuah aplikasi kesehatan.
Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan dari kantor ke tempat praktek, kini Rai dan Satria sudah berada di tempat praktek psikiater yang paling terkenal. Psikiater laki-laki yang sudah paru baya dan dengan jam terbang yang tinggi.
Dokter Bagas Jagapati, Sp.KJ
Pasien yang datang ke tempat praktek dokter Jagapati rata-rata memiliki penyakit bipolar, skizofrenia dan trauma yang mendalam atas apa yang terjadi pada mereka. Seperti korban pelecehan sek*sual, korban kecelakaan, atau korban tindak kekerasan.
Satria dan Rai berjalan menuju meja resepsionis.
"Selamat sore. Ada yang bisa di bantu?"
"Kami sudah membuat janji dengan dokter Jagapati." Jawab Satria tanpa basa-basi.
"Atas nama siapa, Pak?" Tanya resepsionis untuk mengecek kebenaran kata-kata Satria.
"Atas nama Tuan Raiden Maharaja Alfian." Jawab Satria.
"Apa Anda yang bernama Tuan Raiden?" Tanya resepsionis sambil melirik Rai yang berdiri di samping Satria.
Satria menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Tapi dia yang bernama Raiden." Jawab Satria sambil menunjuk Rai yang ada di sebelahnya.
Sedangkan yang di tunjuk sama sekali tidak membuka suaranya dan malah memasang gaya cool-nya dengan kacamata hitam dan tangan yang ia masukkan ke dalam saku.
__ADS_1
"Oh." Resepsionis membulatkan mulutnya.
"Tunggu sebentar, saya informasikan lebih dulu pada dokter Jagapati." Ucap resepsionis.
Resepsionis itu pun mengangkat gagang telepon yang ada di meja-nya lalu menghubungkan ke meja dokter Jagapati.
Tak sampai tiga menit, resepsionis itu pun menutup teleponnya.
"Sabar menunggu yah Pak, karena dokter Jagapati sedang menerima pasien." Ucap resepsionis.
"Berapa lama saya harus menunggu?" Tanya Rai. Akhirnya Rai membuka suaranya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dokter Jagapati.
"Tidak lama Pak, paling setengah jam." Balas resepsionis.
"Setengah jam kau bilang tidak lama?" Komplain Rai dengan nada sedikit meninggi.
Tahu sahabatnya itu emosi, Satria pun merangkul pundak Rai sebagai kode pada Rai untuk mengontrol emosinya.
"Lepas!!" Rai yang kesal langsung menghempaskan tangan Satria dari pundaknya begitu sampai di ruang tunggu.
"Aku menunggu di mobil saja!! Hubungi aku kalau pasien yang di dalam sudah selesai!" Ucap Rai lalu berlalu dari hadapan Satria.
Sedangkan Satria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Rai yang sangat emosian.
"Gara-gara lama tidak bercinta, sekarang dia sangat emosian." Gumam Satria.
Satria pun duduk di kursi lalu mengeluarkan ponselnya. Sambil menunggu pasien yang ada di dalam, Satria sambil memainkan game online di ponselnya.
Baru lima menit Satria bermain game online, tiba-tiba saja pintu ruang dokter Jagapati terbuka.
__ADS_1
Sontak Satria menoleh ke arah pintu.
Mata Satria membulat saat melihat sosok yang membuka pintu.
Sama dengan Satria, sosok yang membuka pintu juga kaget melihat Satria.
"Ka-kamu." Lirih wanita yang masih berdiri di depan pintu.
"Mi...." Lirih Satria, ia tidak tahu sosok yang di depannya saat ini Mishea atau Mishella.
Satria pun berdiri dan berjalan menghampiri sosok wanita itu dan sosok wanita itu juga berjalan mendekati Satria.
"Kamu Mishea atau Mishella?" Tanya Satria.
"Aku Mishella." Jawab Mishella.
"Kamu kok bisa ada di Indonesia? Bukannya kamu di London? Dan kenapa kamu bisa di klinik ini? Apa kamu pasien yang sedang konsultasi dengan dokter Jagapati?" Rentetan pertanyaan Satria lontarkan dengan menggebu-gebu karena penasaran.
"Ceritanya panjang." Balas Mishella dengan raut wajah sedih.
Merasa ada yang tidak beres, Satria pun merangkul Mishella dan membawanya duduk di kursi.
Setelah mendudukkan Mishella, Satria pun duduk di kursi sebelah Mishella.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" Ucap Satria penasaran. Karena feelingnya mengatakan kalau sesuatu telah terjadi pada Twin Mi itu.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...