Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda
# 66


__ADS_3

Melihat Novi mengangguk, dengan gerakan cepat Neon membuka rok dan pagar kain penutup rumah Mbak Nikmat lalu membuangnya ke sembarang arah.


Neon pun mulai mengarahkan Mas Perkasanya ke depan pintu rumah Mbak Nikmat. Sesampainya di depan pintu, Mas Perkasa mengetuk-ngetuk pintu rumah terlebih dahulu.


"Sayang..." Lirih Novi. Meski hasratnya menginginkan lebih tapi ingatan tentang rotan yang ibu tirinya masukkan kedalam Mbak Nikmatnya masih terekam jelas diingatannya dan rasa sakitnya juga masih sangat jelas Novi rasakan.


Apalagi melihat penampakan Mas Perkasa yang memang sangat perkasa seperti namanya, membuat Novi jadi takut rasa sakitnya akan sama seperti rasa gagang rotan.


"Tenang saja Sayang, ini bukan gagang rotan yang menyakitkan itu, meski ini lebih besar dari gagang rotan, tapi ini tidak menyakitkan malah sebaliknya, akan membuat mu berteriak karena nikmat." Ucap Neon yang tahu tentang kegelisahan yang Novi rasakan.


"Jangan pejamkan matamu agar ingatan buruk itu tidak muncul di kepalamu. Terus lah buka mata mu dan tatap aku. Oke!" Pinta Neon.


Novi pun menganggukkan kepalanya.


Melihat Novi menganggukkan kepalanya, perlahan Neon pun membantu Mas Perkasa membuka pintu rumah Mbak Nikmat.


Novi menggigit bibir bawahnya saat kepala Mas Perkasa mulai membuka pintu rumah Mbak Nikmat.


Meski dirinya sudah tidak perawan lagi, tapi tetap saja dirinya masih merasakan sakit, namun sakit yang bercampur rasa nikmat.

__ADS_1


"Sakit?" Tanya Neon saat melihat ekspresi wajah Novi.


"Sedikit. Lanjutkan lah." Jawab Novi.


Dan dengan sekali dorongan, Mas Perkasa pun masuk kedalam rumah Mbak Nikmat dengan gagahnya.


"Ssh... Aaahhh.." des*ah keduanya saat Mas Perkasa terbenam sempurna di dalam rumah Mbak Nikmat.


"Oh.. Nov, punya mu enak sekali. Aku belum pernah merasakan yang seperti ini." Ucap Neon. Maklum saja selama ini Mas Perkasa masuk kedalam rumah singgah yang pastinya sudah banyak batangan-batangan yang lain yang juga singgah disana. Apalagi kali ini Mas Perkasa tidak memakai pengaman, jadi rasanya sangatlah berbeda dari yang biasa Mas Perkasa rasakan.


"Benarkah? Apa kau suka?" Tanya Novi.


Mendengar itu Novi menangis terharu.


"Kenapa menangis?" Tanya Neon.


"Aku takut tidak bisa memuaskan suami ku karena aku tidak perawan lagi." Jawab Novi. Wajar saja dia berpikiran seperti itu, berpikir ada laki-laki yang mau menerima dirinya apa adanya saja, Novi tidak berani. Dan setelah menjadi istri Neon, hal yang Novi takutkan adalah tidak bisa memuaskan Neon.


"Aku puas Sayang. Malah aku berterimakasih pada mu karena sudah menerima ku keadaan ku yang seperti ini. Jangan lagi ingat-ingat masa lalu mu, aku juga akan mengubur semua masa lalu ku. Kita tidak perlu membahas masa lalu kita. Mari kita buka lembaran baru hidup kita, kau paham kan?" Ucap Neon.

__ADS_1


Novi pun menganggukkan kepalanya.


Neon pun mendaratkan bibirnya ke bibir Novi, mereka pun berciuman panas dan tangannya bermain dengan dua gundukan daging untuk membangun gairah mereka yang sempat drop karena Novi yang menangis.


Saat merasakan gairah mereka sudah kembali naik, Neon pun melepaskan tautan dan belitan lidahnya.


"Aku lanjutkan yah." Izin Neon sebelum menghentak-hentakkan Mas Perkasa dalam rumah Mbak Nikmat.


Novi menganggukkan kepalanya.


Melihat Novi menganggukkan kepalanya, Neon pun mulai menggerakkan pinggulnya dan memberikan hentakan lembut di dalam rumah Mbak Nikmat.


Novi tak kuasa mengeluarkan desa*hannya, tubuhnya juga menggeliat seperti cacing kepanasan karena sensasi yang tak pernah ia rasakan.


Sama seperti Novi, Neon pun memejamkan matanya untuk menikmati sensasi yang tak pernah ia rasakan dengan wanita-wanita penghangat ranjangnya.


Racauan, erangan, desa*han pun tak henti-hentinya keluar dari mulut keduanya sepanjang Mas Perkasa menghentak-hentak rumah Mbak Nikmat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2