
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Para tamu juga sudah berpulangan. Begitu pun dengan Julya yang sudah bersiap untuk pulang.
Dari kejauhan, March yang sejak tadi memantau Julya pun pamit undur dari dari hadapan Neon dan Nexus untuk mengikuti Julya.
"Aku pergi dulu, ada urusan." Pamit March.
"Urusan apa? Apa kau mau mendapat pelayanan khusus setelah kau kembali?" Teriak Nexus.
March tidak menjawab dan malah mengacungkan jari tengahnya ke arah Nexus.
"Mau kemana dia? Kenapa sepertinya buru-buru sekali?" Tanya Nexus heran pada Neon.
Neon menggedikkan bahunya.
"Sepertinya March tidak akan memakai pelayanan kamar yang kau berikan, bagaimana kalau aku saja yang memakainya?" Ucap Neon.
"Woah, aku tak menyangka kau nakal Neon." Balas Nexus.
"Baik lah. Aku akan menyuruh orang membawa pelayanan khusus untuk mu. Tunggu saja di kamar mu." Ucap Nexus lagi.
"Aku pergi dulu." Pamit Nexus sambil menepuk pundak Neon.
Sedangkan di tempat lain ada March yang sedang mengendap-endap mengikuti Julya mulai dari resort sampai Julya tiba dirumah Neneknya.
KRIIING.. KRIIING..
Saat March hendak mendekati rumah yang di masuki Julya, tiba-tiba saja ponsel March berbunyi.
Neon. Nama yang tertera di layar ponsel March.
March pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Jawab March dengan nada kesal.
"Apa kau sedang mengikuti wanita itu sekarang?"
"Sudah tau kenapa bertanya?"
"Hanya memastikan." Jawab Neon.
"Kau tidak memakai pelayanan kamar yang di berikan Nexus kan? Kalau tidak, biar aku yang pakai."
"Cih.. kau menelpon ku hanya untuk itu? Membuang waktu ku saja!!"
"Aku tidak ingin kau protes nanti karena Nexus memberikan pelayanan kamar padaku."
"Pakailah!! Aku tidak selera memakai pelayanan kamar dari Nexus!!"
"Oke, baiklah. Kalau begitu bersenang-senang dulu."
"Ya aku mengerti." Balas Neon.
Panggilan pun berakhir. Karena tak ingin ada yang mengganggunya saat dirinya sedang menjalankan misi, March pun menonaktifkan ponselnya lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya.
March pun berjalan mendekati rumah Nenek Julya.
Tok Tok Tok. March mengetuk pintu rumah Nenek Julya.
Mendengar suara ketukan pintu, Julya yang baru selesai membersihkan tubuhnya langsung berjalan menuju pintu.
"Katanya Nenek baru pulang lusa, tapi kenapa sekarang sudah pulang." Gumam Julya sambil berjalan.
Nenek Julya sedang tidak ada dirumah, ia sedang pergi ke pulau seberang untuk menghadiri acara keluarga suaminya yang ada di pulau seberang.
__ADS_1
Tanpa mengintip terlebih dahulu siapa yang mengetuk karena sudah merasa pasti itu adalah sang Nenek, Julya pun membuka pintu rumah.
Ceklek.
Mata Julya membulat sempurna begitu melihat orang yang berdiri di depan pintu rumah. Bukan sang Nenek.
Sama sepeti Julya, mata March juga membelalak sempurna melihat penampakan asli Julya.
"Kau..." Kaget March.
Sadar kalau sekarang dirinya tidak memakai tompel dan kacamata, cepat-cepat Julya menutup pintu rumahnya, tapi sayangnya gerakan Julya tak secepat gerakan March. Tau Julya akan menutup pintu, cepat-cepat March menahan pintu rumah dan menerobos masuk ke dalam rumah lalu menutup dan mengunci pintu rumah.
"Ternyata benar dugaan ku, kau adalah wanita itu." Ucap March.
"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti." Balas Julya masih berpura-pura tidak mengenali March.
"Jangan bohong!! Dari sorot mata mu saja mengatakan kalau kau mengerti maksud ku dan mengingat siapa diri ku!!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" Ucap Julya masih bersikeras.
"Apa perlu aku menjelaskannya dengan bahasa tubuh Julya?" Tanya March dengan senyuman penuh arti sambil berjalan mendekati Julya.
Julya menelan salivanya kasar sambil berjalan mundur karena March berjalan mendekatinya.
"Kau mau apa?! Keluar kau dari rumah Nenek ku, atau aku akan berteriak!!" Ancam Julya.
"Memangnya kalau kau berteriak, akan ada yang mendengar? Kau lupa kalau tidak ada rumah di sekitaran rumah ini!!" Balas March.
Dan dengan gerakan cepatnya, March langsung menarik tangan Julya lalu menggendong Julya seperti karung beras. Ia berjalan menuju kamar Julya.
Karena tidak tahu yang mana kamar Julya, March pun membuka satu persatu pintu yang ada di rumah itu, dan saat melihat kamar dengan foto Julya yang terpajang di dinding, March pun yakin kalau itu kamar Julya. March pun masuk ke kamar itu lalu mengunci pintu kamar dan memasukkan kunci kamar ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Bersambung...