
"Kau tidak ingin ikut aku pulang?" Tanya March.
Kini March sudah bersiap untuk pulang.
Julya menggelengkan kepala.
"Aku akan ikut dengan mu setelah aku resmi menjadi istri mu." Balas Julya.
"Bagaimana kalau kau disini selingkuh?"
"Itu kan urusan ku! Toh, kita juga tidak punya hubungan apa-apa!"
"Tapi kita sudah sepakat. Dan bisa saja benih ku sekarang sudah tumbuh dalam rahim mu." Balas March.
"Lebih baik kau ikut dengan ku, biar aku bisa tenang." Kata March lagi. Ia masih trauma dengan perselingkuhan.
"Aku tidak mau! Nenek ku juga belum datang. Nanti kalau Nenek ku pulang dan aku tidak ada dirumah, nanti Nenek ku pikir aku di culik." Jawab Julya tegas.
"March menghela nafasnya. Ya sudah kalau sudah tidak mau. Tapi kalau nanti aku datang dengan membawa surat perjanjian, kau harus ikut dengan ku." Paksa March.
"Ti.."
"Aku tidak menerima penolakan!" Belum juga Julya menyelesaikan kata-katanya, March langsung memotong ucapan Julya.
"Hish pemaksa!!!" Gerutu Julya.
__ADS_1
"Ya sudah aku pulang." Pamit March.
March pun berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu. Namun, begitu di depan pintu ia kembali memutar tubuhnya dan menghampiri Julya.
"Apalagi? Apa ada yang ketinggalan?"
March tidak menjawab dan malah menarik tangan Julya hingga Julya berdiri dari tempat duduknya, lalu menarik pinggang Julya.
Cup. Tanpa aba-aba March langsung mengecup bibir Julya.
"Ish.. kau!!!" Bentak Julya sambil mendorong tubuh March. Ia pun menyeka bibirnya.
Mata March membulat saat melihat Julya menyeka kecupan bibir yang ia berikan di bibir Julya.
"Hemph.." Julya meronta.
March tidak memperdulikan rontaan Julya dan baru melepaskan tautan bibirnya setelah dia puas.
"Ish.. kau tuh yah!!?" Bentak Julya sambil mendorong tubuh March lalu hendak menyeka kembali sisa air liur March yang menempel dibibirnya.
"Berani kau menyekanya, ku cium lagi bibir mu!!" Ancam March.
Julya pun menurunkan tangannya dan tak jadi menyeka sisa air liur March.
"Aku hanya ingin meninggalkan ingatan romantis pada mu, agar kau selalu ingat tentang perjanjian kita!" Ucap March.
__ADS_1
"Dan ingat, jangan coba-coba kau mengkonsumsi pil kontrasepsi, awas kau kalau sampai ku tahu!!" Ancam March lagi mengingatkan Julya.
Julya melengos.
"Pergi kau sana!! Belum jadi suami tapi sudah banyak aturannya!!" Gerutu Julya.
"Kalau kau punya aturan untuk ku, berarti aku juga bisa memberi mu peraturan!!"
"Memang kau mau memberi peraturan apa pada ku, baby?" Tanya March sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Aku belum memikirkannya, tapi akan aku pikirkan!" Balas Julya.
"Oke. Kalau begitu pikirkan lah." Balas March.
"Aku pulang dulu kalau begitu." Pamit March untuk yang kedua kalinya.
March pun berjalan menuju pintu lalu membuka pintu rumah Nenek Julya dan keluar dari rumah itu.
Setelah March keluar dari rumahnya, cepat-cepat Julya menutup lalu mengunci pintu rumahnya itu, agar March tidak bisa masuk lagi.
"Bagaimana ini? Apa aku harus mengikuti kata-katanya untuk tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi? Tapi kalau aku hamil dan ternyata March tidak serius dengan kata-katanya, bagaimana?" Lirih Julya.
"Akh.. biar saja, kalaupun aku hamil, aku kan bisa bilang ke Nenek kalau ini anak Agus. Aku bilang saja, aku tidak tau kalau aku hamil ketika aku sudah bercerai darinya. March sangat tampan, pasti anak ku juga nanti akan sangat tampan atau cantik, sayang sekali kalau benih March ku sia-siakan begitu saja." Lirih Julya lagi.
Bersambung...
__ADS_1