
Ceklek. March membuka pintu kamarnya.
"Jul.. Baby.. Julya my baby.." teriak March sambil berjalan menuju ruang ganti.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.
March yang sudah di depan pintu ruang tunggu memutar tubuhnya.
"Kau baru mandi?" Tanya March.
Julya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak menunggu ku?"
"Kenapa aku harus menunggu mu!" Balas Julya.
"Ish.. tidak peka!!" Cebik March.
"Siapa yang datang tadi?" Tanya Julya.
"Petugas yang mengganti password pintu." Jawab March sambil mendekati Julya yang sudah duduk di meja rias.
"Jadi sudah sudah di ganti kode password-nya?" Tanya Julya.
"Sudah. Jadi kita bisa bebas mengeksplor segala ruangan yang ada di apartemen ini." Bisik March memberi kode pada Julya.
__ADS_1
"Cih!! Itu saja isi kepala mu!" Decih Julya.
"Lalu bagaimana dengan permintaan ku?"
"Rumah mu?"
Julya menganggukkan kepalanya.
"Neon kan sedang cuti, jadi kita tunggu saja dia selesai cuti. Kalau soal wedding organizer, semua sudah beres. Nanti selesai Neon cuti, baru kita resmikan." Jawab March.
"Apa harus menunggu Neon selesai cuti dulu baru bergerak?! Aku ingin mendapatkan rumah itu segera March!" Rengek Julya.
"Baiklah. Besok aku akan langsung turun tangan." Balas March pasrah. Ingin menolak dan bersikeras menunggu Neon selesai cuti, tapi March takut Julya ngambek dan ujung-ujungnya Mister Peni tidak bisa berkencan dengan Miss Vigi.
Senyum sumringah pun mengembang di pipi Julya.
"Masih 30%. Kalau semua syarat yang aku minta sudah kau penuhi baru tingkat senang ku 100%." Jawab Julya.
"Aku sudah memenuhi keinginan mu dengan mengandung anak mu. Jadi kau juga harus secepatnya memenuhi keinginan ku." Kata Julya lagi.
"Iya Baby. Kenapa sekarang kau jadi cerewet sekali, hah?!" Balas March. Tapi tangannya mulai menarik tali bathrobe yang Julya pakai.
Sadar kalau sekarang tangan March mulai bergerak nakal, cepat-cepat Julya menahan tangan March.
"Mandi dulu sana!" Perintah Julya.
__ADS_1
"Untuk apa mandi baby, kalau ujung-ujungnya keringatan lagi." Balas March.
"Tapi keringat yang keluar nanti akan terasa asin March kalau kau tidak mandi! Mandi dulu sana. Biar aku bersiap-siap." Balas Julya dengan kerlingan mata genit.
"Benarkah? Apa malam ini kau akan memimpin permainan kita?"
"Kalau itu yang kau mau, akan ku lakukan." Balas Julya sambil tangannya meraba Mister Peni yang masih tertutup dua lapis kain.
March memejamkan matanya menikmati elusan yang Julya berikan. Mister Peni yang tadi masih setengah sadar, kini sudah seratus persen sadar. Daging tak bertulang itu pun mengeras mendapat pancingan dari Julya.
Namun, saat March sedang enak-enaknya menikmati sentuhan tangan Julya pada Mister Peni, tiba-tiba Julya menghentikan aksinya dan mendorong tubuh March. Rasanya seperti diterbangkan ke langit ketujuh lalu tiba-tiba di hempaskan ke dasar bumi. Sakit.
Sontak March membuka matanya.
"Kok berhenti? Ayo lanjutkan!"
"No!! Mandi sana!" Tolak Julya.
"Kau harus tanggung jawab, 'adik kecil' ku sudah bangun karena ulah mu." Protes March.
"Mandi dulu atau tidak sama sekali." Ancam Julya. Julya pun berjalan menuju ruang ganti tanpa menghiraukan wajah March yang sudah sangat sendu.
"Haish!!!" Geram March.
Dengan kesal March pun membuka pakaiannya satu persatu. Setelah dirinya sudah dalam keadaan polos, barulah March berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Tumben sekali dia jijik dengan keringat ku yang belum mandi!" Gerutu March sambil melangkahkan kakinya.
Bersambung...