
Kini March dan Julya sudah berada di rumah sakit tempat Neon membawa Novi.
Sesampainya di lobi rumah sakit, Mang Sardi yang tadi pergi bersama Nenek Julya sudah menunggu di depan pintu lobi atas suruhan Neon untuk menunggu March dan Julya lalu mengantarkan mereka ke kamar rawat Novi.
"Novi sakit apa Mang?" Tanya Julya sambil mereka berjalan menuju lift.
"Kurang tahu Nyonya, tanya nanti sama Pak Neon." Jawab Mang Sardi berbohong karena sebenarnya Mang Sardi tahu apa yang terjadi pada Novi.
Kini mereka sudah berada dalam lift.
Ting. Tak sampai tiga menit, pintu lift pun terbuka.
Cepat-cepat mereka keluar dari dalam lift dan berjalan menuju kamar rawat Novi dengan Mang Sardi berjalan di depan sebagai pemandu.
"Ini kamarnya Tuan." Ucap Mang Sardi setelah mereka sampai di depan pintu kamar rawat Novi.
Ceklek. March pun membuka pintu itu.
March dan Julya yang dari awal kedatangan mereka sudah panik, namun rasa panik mereka berganti heran karena saat mereka masuk ke dalam kamar, tak ada raut kesedihan, kepanikan dan kegelisahan dari Neon, Novi maupun Nenek, yang ada mereka malah tertawa sambil Neon terus menciumi punggung tangan Novi dan Nenek sibuk mengupasi buah jeruk dan menyuapi ke Novi.
"Novi sakit apa Nek?" Tanya Julya sambil berjalan mendekati ranjang Novi.
__ADS_1
"Biasalah lah Jul, sakit baik." Jawab Nenek Julya.
"Sakit baik? Memangnya ada sakit baik?" Tanya March.
"Ya adalah. Sakit mau punya anak kan namanya sakit baik." Jawab Nenek Julya.
Mata March dan Julya membulat mendengar itu.
"Novi hamil Nek?" Tanya Julya senang.
"Iya Kak, udah empat minggu." Jawab Novi.
Mendengar kata-kata Julya, March memutar bola matanya malas. Bukan karena tidak suka dengan kehamilan Novi melainkan...
"Kenapa dunia gak selebar daun kelor sih?! Udah Bapaknya kemana-mana bareng, lah sekarang punya anak juga, anak aku dan Neon juga harus barengan. Kan pergaulan cuma berputar-putar disitu-situ aja!" Gumam March dalam hati.
"Tapi kenapa Novi di infus kayak gini? Perasaan waktu aku awal hamil gak kayak gini." Tanya Julya saat melihat jarum infus tertancap di urat nadi Novi.
"Novi dehidarasi, dehidrasi pada ibu hamil kan sangat berbahaya, makanya dokter memasukkan cairan infus agar Novi tidak dehidrasi lagi." Jawab Nenek Julya.
"Oh.." Julya hanya membulatkan mulutnya.
__ADS_1
"Ya udah yuk kita pulang. Udah malem, kamu juga harus istirahat." Kata Nenek Julya lagi.
Julya menganggukkan kepalanya.
"Kami pulang dulu yah, besok kami datang lagi." Pamit Julya pada Novi sambil memeluk adik angkatnya itu.
"Neon, ingat pesan dokter! Jangan curi-curi kesempatan menjenguk anak mu!" Kata Nenek Julya memberi peringatan pada Neon.
Mendengar itu, March menggelembungkan pipinya menahan tawa. Akhirnya Neon bisa merasakan apa yang March pernah rasakan.
March berjalan mendekati Neon.
"Aku pulang dulu, jangan hubungi aku, karena malam ini aku mau menjenguk anak ku." Bisik March mengejek.
"Cih..." Decih Neon sambil memutar bola matanya malas.
"Ayo Sayang kita pulang. Aku sudah tidak sabar ingin sampai apartemen." Ucap March sambil merangkul pundak Julya.
March, Julya dan Nenek pun keluar dari dalam kamar rawat Novi. Meninggalkan Neon yang senang tapi apes juga karena terpaksa harus puasa kurang lebih dua minggu sampai janin yang ada dalam kandungan Novi kuat.
Bersambung...
__ADS_1