
"Jadi tugas apa yang di berikan pria ini pada mu?" Tanya Neon pada Hannoks.
PLAK. March memukul lengan Neon.
"Pria ini.. pria ini!! Aku ini suami Kakak Ipar mu!!" Protes March.
"Cih..!!" Decih Neon sambil memutar bola matanya malas lalu duduk disebelah Hannoks.
"Ternyata mantan suami Julya yang melakukan semua ini." Kata March menjawab pertanyaan Neon untuk Hannoks.
"Benarkah? Lalu, apa kalian sudah melaporkannya ke polisi?" Tanya Neon.
March menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin menghajarnya dengan tangan ku terlebih dulu sebelum ku serahkan ke kantor polisi." Jawab March dengan sorot mata penuh dendam.
"Makanya aku dan Hannoks sedang membicarakan tempat untuk mengeksekusinya." Kata March lagi.
"Bagaimana dengan gudang kosong kita yang ada di dekat hutan? Kita bawa saja dia kesana!" Usul Neon.
"Ya, kau benar juga! Kenapa aku tidak ingat kalau aku masih punya gudang disana yah." Desis March.
"Memangnya apa yang kau ingat tentang perusahaan mu, karena selama ini aku yang urus ini-itu'nya! Kau kan cuma tahu tanda tangan berkas yang sudah ku periksa terlebih dahulu!" Balas Neon.
"Untung saja aku asisten mu! Kalau tidak, bisa-bisa kau kehilangan perusahaan mu!!" Dumel Neon lagi.
"Oh.. jadi kau menyombongkan diri?!" Balas March dengan tatapan mengintimidasi.
"Baiklah!! Mulai bulan ini gaji mu aku naikkan dua kali lipat!" Kata March lagi.
Mata Neon membulat mendengar March menaikkan gajinya.
"Benarkah? Kau tidak salah minum obat kan?" Tanya Neon masih meragu.
"Benar. Apa kau mau gaji mu aku naikkan tiga kali lipat?" Jawab March.
Perasaan Neon semakin tidak enak.
"Tidak usah, dua lipat saja." Jawab Neon. Gaji naik dua kali lipat saja Neon sudah merasakan hal yang tak beres, apalagi jika tiga kali lipat. Pasti ada sesuatu yang lebih dahsyat mengancam waktu-nya.
"Baiklah kalau kau tidak mau! Kalau begitu nanti setelah kau selesai cuti, kau yang urus perusahaan selama sebulan. Karena dokter bilang, Julya harus bed rest selama sebulan agar janin-nya semakin kuat. Kau bawa saja berkas-berkas yang harus ku tanda tangani ke apartemen." Ucap March.
__ADS_1
"Benar kan feeling ku!" Dumel Neon dalam hati sambil menghela nafasnya.
"Apa kita sudah bisa berangkat sekarang?" Tiba-tiba Hannoks membuka suaranya karena merasa muak dengan perdebatan March dan Neon.
March dan Neon pun menganggukkan kepala mereka bersama.
"Tunggu aku pamit pada istri ku dulu." Kata Neon.
"Aku juga." Timpal March.
Neon dan March pun masuk kedalam kamar rawat Julya untuk berpamitan pada istri mereka masing-masing.
"Enak sekali mereka sudah punya istri. Aku juga sepertinya harus segera mencari istri agar ada yang bisa ku pamerkan." Lirih Hannoks setelah March dan Neon masuk kedalam kamar rawat Julya.
*****
Di dalam kamar Julya.
"Kau sudah bangun Sayang?" Tanya March sambil berjalan mendekati ranjang Julya.
"Sejak Novi masuk." Jawab Julya.
"Mmm... Sayang, aku tinggal sebentar yah, ada yang harus aku urus terkait si penabrak lari. Tidak pa-pa kan?" Tanya March meminta izin.
March menggelengkan kepalanya.
"Tapi tim kepolisian sudah berhasil menemukan titik keberadaannya. Makanya sekarang aku dan Neon ingin ikut kesana." Jawab March.
"Kamu juga ikut Sayang?" Tanya Novi pada Neon.
Neon menganggukkan kepalanya.
"Boleh kan?"
"Boleh. Tapi lama tidak? Kan kita harus membeli pakaian untuk ku."
"Astaga, aku lupa!" Pekik Neon.
"Begini saja, kalau sampai jam tujuh malam aku tidak kembali, kau beli saja lewat aplikasi." Usul Neon.
"Tapi ponsel ku kan masih polyphonik Sayang." Jawab Novi jujur.
__ADS_1
Neon pun mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya.
"Pakai ponsel ku, belanja lah sesuka mu. Ini pin m-banking ku." Kata Neon sambil memberikan pin m-bankingnya pada Novi.
"Kau mengerti kan cara memakainya? Kalau tidak mengerti tanyakan saja pada Kakak Ipar ku." Kata Neon lagi.
"Kakak Ipar, tolong ajarkan istri ku tercinta yah." Ucap Neon pada Julya.
Senyum Julya mengembang mendengar ucapan minta tolong Neon padanya.
"Pastinya Adik Ipar ku." Balas Julya.
Sedangkan March memutar bola matanya malas mendengar ke-uwu'an Neon dan Julya.
"Sudah.. sudah, ayo kita pergi!" Kata March.
Cup. March mengecup kening Julya.
"Aku pergi yah Sayang." Pamit March.
Tak ingin kalah dari March, Neon pun mengecup Novi tapi bukan di kening melainkan di bibir.
Cup.
"Aku pergi yah Sayang." Pamit Neon pada Novi.
Melihat itu, March juga tidak mau kalah lagi.
Cup. Kali ini March mengecup perut Julya.
"Daddy pergi dulu yah Sayang." Ucap March di depan perut Julya. March tersenyum licik karena yakin kali ini pasti Neon tidak bisa membalas.
Tapi sayangnya Neon tak kehabisan akal untuk membalas aksi March. Neon juga mengecup perut Novi.
"Pasukan Mas Perkasa, Papi pergi dulu yah. Kalau kalian tidak bisa menembus pabrik produksi, tenang saja, nanti malam Papi kirim lagi pasukan yang lebih banyak." Ucap Neon. Sengaja ia mengatakan itu selain untuk membalas March, ia juga yakin kalau sekarang pasti March sedang dalam masa puasa.
Gantian, sekarang Neon lah yang tersenyum licik pada March.
"Cih." Decih March sambil memutar bola matanya malas.
"Sudah ayo!!" Kalah telak dengan Neon, March pun menarik kerah baju Neon dan mereka pun keluar dari dalam kamar rawat Julya.
__ADS_1
Bersambung...