
"Apa yang Anda katakan sampai-sampai Tuan Rayhan marah seperti itu? " Ucap sekertaris Sean pada Selena
"Dia menuduhku menaruh racun di makanan ini, dan dia menuduhku juga atas kematian suamiku, apa aku harus diam saja Sean, aku tidak bersalah, bukan aku yang membunuh Vicky, dan aku akan buktikan itu pada om Rayhan"
"Tapi, bukankah Tuan Vino meminta anda untuk diam dan jangan melakukan tindakan apapun? lebih baik anda mengikuti perintahnya"
"Dengar! bagaimana perasaanmu kalau kamu dituduh melakukan sesuatu padahal kamu tidak melakukan apapun,"
"Apa kamu akan diam saja? sedangkan ada seseorang yang selalu memfitnahmu"
"Aku wanita yang mempunyai hati Sean, bagaimana aku tak sakit saat Ayah mertuaku memfitnahku seperti tadi hah! " Geram Selena, dia langsung pergi menuju kamarnya
Setelah berada di kamarnya, Selena mengunci pintu lalu menangis di pintu, tubuhnya merosot kebawah, air matanya semakin deras
"Aku harus kuat, aku harus mencari bukti itu sendiri, aku tidak ingin di cap sebagai pembunuh, aku tidak bisa diam saja, dan aku tidak mungkin mengandalkan Vino"
"Iya, aku harus bangkit, demi Vicky dan putraku" Gumam Selena sambil menghapus air matanya, dia berdiri lalu berjalan menuju box putra kecilnya
Diusapnya wajah kecil yang terlelap dalam tidurnya, "Ibu janji sayang, ibu akan mengungkap kematian ayah" Ucap Selena lalu menarik tangannya saat putra kecilnya menggeliat tapi tak bangun dari tidurnya
Setelah puas memandang wajah putranya, kini dia berjalan menuju kamar mandi, tubuhnya terasa lengket karna dia bangun terlalu pagi,
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Selena berdandan cantik untuk pergi kerumah sakit menjenguk Nesa sekalian dia ingin membicarakan sesuatu pada Nesa
Tak lupa baby Revan dititipkan pada bibi yang menjadi ketua pelayan dirumah Vino, karna dia tak mau putra kecilnya masuk kedalam rumah sakit, gudang penyakit
"Bi, aku titipkan Revan ya, dan dimana barang yang akan kubawa kerumah sakit? " Tanya Selena saat di dapur bersama bibi
"Sebentar biar saya ambilkan barang milik Nona dan Tuan, oh iya Non, makanan ini bagaimana? " Ucap bibi karna tadi dia sempat mendengar keributan antara Selena dan Rayhan
"Biar aku yang urus bi, aku akan membawakan untuk Nesa, jika Nesa tak mau memakan ya sudah tak apa, oh iya ini kita kan masak banyak, dan aku hanya membawa sedikit,"
"Jangan lupa dibagikan pada semua pelayan disini"
"Dan ASI baby Revan ada di kulkas, bibi bisa panaskan dulu sebelum diberikan putraku" Ucap Selena yang diangguki bibi
"Baik Non, biar saya ambilkan dulu barang milik Nona nesa dan Tuan" Jawab bibi yang langsung berlari menaiki tangga mengambil tas berukuran standar yang sudah diisi dengan pakaian majikannya lalu bibi turun lagi dan memberikan tas itu pada Selena
"Ini Non, " Bibi memberikan tas itu pada Selena
__ADS_1
"Ya sudah bi, aku berangkat dulu, jangan lupa putraku bi"
"Iya Non, Hati-hati" bibi mengantar Selena sampai halaman rumah, setelah Selena pergi menggunakan taksi, bibi segera masuk dan melihat baby Revan, tapi sebelum dia sampai di kamar Selena, bibi bertemu dengan sekertaris Sean yang sedang mencari sesuatu
Melihat sekertaris majikannya bingung, bibi pun bertanya "Permisi sekertaris Sean, apa anda mencari sesuatu? " Tanya bibi saat melihat ekor mata Sean yang berlarian melihat setiap sudut ruangan
"Dimana Selena bi? " Tanya sekertaris Sean yang tak melihat batang hidung Selena
"Oh, Nona Selena sudah berangkat, baru saja dia pergi " Jawab bibi membuat mata Sean membulat
"Apa! kenapa tidak ada yang memberitahu aku!!" Pekik sekertaris Sean yang langsung berlari keluar
Sebelum keluar dari pintu utama, sekertaris Sean berhenti, dia memutar tubuhnya menatap bibi yang sedang menatapnya "Apa dia menggunakan ojek online atau-" Ucapan sekertaris Sean terpotong oleh bibi
"Taksi, baru saja taksi itu berangkat, mungkin masih berada di sekitar sini"
"Ya sudah, aku titip rumah"
Sekertaris Sean langsung berlari masuk kedalam mobilnya, dia menyalakan dan menancap gas, bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini, bagaimana kalau Tuan Vino tahu, pasti dia akan mendapat surat peringatan atau langsung di depak dari perusahaan Vino
"Semoga saja aku bisa menemukan taksi itu, agar Tuan Vino tidak memarahi aku yang telah lalai menjaga Nona Selena"
Beberapa kali sekertaris Sean menghentikan taksi dan tidak ada Selena di dalamnya, seakan frustasi, sekertaris Sean langsung meluncur kerumah sakit, berharap Selena sudah sampai dirumah sakit
15 menit berada di jalanan dan kini sekertaris Sean sudah sampai di parkiran rumah sakit, segera dia melepas sabuk pengaman dan turun dari mobilnya,
Dia berlari menuju ruangan majikannya sambil sesekali melirik kanan kiri berharap Selena ada dirumah sakit ini
Tok.. tok..
Sekertaris Sean mengetuk pintu ruangan Nesa lalu masuk kedalam, melihat Vino dan Nesa yang tengah berbincang-bincang, hubungan keduanya sudah sedikit membaik karna percakapannya di taman tadi
Pandangan sekertaris Sean mengedar, dia mencari sosok Selena tapi tak ada, Vino yang melihat sekertarisnya datang dengan wajah cemas pun segera menyuruh sekertarisnya duduk di sofa yang sedikit jauh dari tempat tidur Nesa
"Ada apa? kenapa wajahmu panik seperti itu? semua aman kan? " Tanya Vino setelah mendudukan bokongnya di sofa dekat sekertarisnya
"Tidak aman Tuan" Lirih Sean
"Apakah Nona Selena sudah sampai disini? " Tanya sekertaris Sean sambil melirik setiap sudut ruangan
__ADS_1
"Jaga matamu! tidak ada Selena disini, bukankah dia berada dirumah? "
"Apa! "
"Ma-maafkan saya, saya kecolongan lagi Tuan, Nona Selena pergi tanpa pamit padaku, dia berniat untuk menjenguk Nona Nesa"
"Dan aku kira nona Selena sudah sampai"
"Selena belum sampai, dan bagaimana bisa kau kecolongan hah! sudah aku peringatkan padamu, jaga dia!
" Kau tahu dia dalam bahaya, bagaimana jika dia-" Ucap Vino menjeda ucapannya, "Bagaimana jika Ayah mencelakai Selena" Sambungnya lagi
"Ma-maksud Tuan? oh tidak! " sekertaris Sean menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Apa ini ulah Ayah Tuan, karna sebelum Nona Selena pergi dia sempat bertengkar dengan Ayah Tuan" Sambung Sean yang tak percaya
"Lebih baik kita tunggu saja, kapan Selena pergi? siapa tahu dia sedang di dalam perjalanan, kita tak boleh menuduh sembarangan"
"Baik Tuan"
"Dan hubungi bibi, suruh dia beritahu kita jika Selena sampai dirumah"
"Satu lagi, jangan bicarakan ini pada istriku, aku tidak mau kesehatannya memburuk"
"Baik Tuan"
.
.
.
.
Hay gaes, Mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat
Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini (like, favorite, komen, vote dan hadiah🎁)
........ #Happy Reading😘#......
__ADS_1