
Pagi yang sangat cerah untuk Nesa dan Vino, baru saja dia mendapat kabar bahagia dari dokter anton bahwa istri kecilnya itu sudah di perbolehkan pulang
"Istrimu sudah diperbolehkan pulang tapi ingat! Kau harus tetap menjaga kesehatan istrimu" Ucap dokter Anton pada Vino lalu tatapannya melihat suster yang sedang melepas infus Nesa
"Terimakasih"
Setelah semuanya selesai, dokter Anton dan suster segera keluar, mereka tak ingin mengganggu kebahagiaan ini, toh juga Anton masih mempunyai pasien lagi yang harus di cek
"Hubby, jadi sekertarismu sia-sia membawa pakaian ini" Ucap Nesa melirik koperasi kecil yang berada di sofa
............
Di satu sisi, mata panda Selena terlihat jelas di area matanya, terbukti dia semalaman tidak tidur,
"Aku harus balik sekarang" Gumamnya saat melirik jam sudah menujukan pukul 6 pagi
Di kibasnya selimut yang menutupi tubuhnya semalaman, tak menyangka di desa yang terpencil ini, memiliki suhu lebih dingin di pagi hari,
Tak ingin berlama-lama bergelut dengan hawa dingin, Selena langsung keluar kamar rumah bu sisi, dia mencari keberadaan tuan rumah yang sudah berbaik hati memberikan tumpangan untuk dirinya
Mencium aroma yang sangat menggoda membuat cacing diperut Selena berteriak meminta jatah sarapan paginya,
"Ibu" Panggil Selena saat melihat punggung bu sisi di dapur
Ibu sisi yang merasa dipanggil pun menoleh, dia melihat wanita yang ditolongnya sedang berada di belakangnya sambil menatapnya
"Apa ibu membangunkanmu? " Ucap bu sisi
"Tidak bu, oh iya.. aku harus kembali sekarang juga"
"Apa suami ibu sudah tahu kehadiran aku" Tanya Selena, karna suami bu sisi belum mengetahui keberadaannya,
Bu sisi mematikan kompor lalu mendekati Selena, dia menyuruh Selena untuk duduk di kursi meja makan "Kita sarapan dulu, ibu sudah memberitahu suami ibu, jadi persiapkan dirimu untuk kembali ke Jakarta"
"Ta-tapi aku tidak mau merepotkan ibu terlalu banyak, ibu sudah menolong memberi tumpangan buat aku tidur semalam juga sudah cukup"
"Aku tidak akan melupakan kebaikan yang ibu berikan padaku" Ucap Selena sambil tersenyum
"Sudah jangan difikirkan lagi, justru ibu merasa senang saat kamu mau menginap dirumah ibu, rumah menjadi ramai,"
"Dan ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kita semua, lebih baik kamu mandi, segarkan badanmu"
"Terimakasih bu, tapi aku tidak membawa pakaian ganti,"
"Kamu bisa memakai pakaian anak ibu nak, kebetulan anak ibu menyisahkan beberapa pakaiannya di kamar"
"Sebentar biar ibu ambilin pakaian anak ibu" Ucap bu sisi lalu berjalan meninggalkan Selena yang sedang duduk
__ADS_1
Beberapa menit kemudian bu sisi membawa pakaian yang untuk digunakan Selena, dia membawa kaos oblong dengan celana jeans panjang yang menurutnya sangat cocok dipakai gadis di hadapannya
"Tersisa beberapa kaos, coba kamu pakai, jika tidak cocok nanti ibu akan belikan di pasar dekat sini" Titah bu sisi sambil memberikan pakaian yang tertata rapih
Selena mengambil pakaian yang diberikan bu sisi, "Memakai pakaian apa saja aku tidak apa-apa bu, aku justru harus banyak-banyak berterimakasih pada ibu"
"Ya sudah bu, aku masuk ke kamar untuk membersihkan diriku"
"Iya nak"
Setelah mendapat persetujuan dari bu sisi, Selena berjalan menuju kamar tamu yang ditidurinya semalam,
........
Oekk.. Oekk... Oekk
Sudah dari semalam dan baby Revan masih terus menangis,
Bibi yang ditugaskan menjaga baby Revan pun dibuat pusing,
"Cup.. Cup.. Cup sayang, jangan menangis terus" Bibi menepuk pelan baby Revan yang berada di gendongnya, berharap setelah mendapat tepukan ringan dibokongnya, dia akan tertidur
Oekkk... Oekk.. Oekk...
Tangis baby Revan semakin menjadi, bukannya tenang, bayi mungil itu semakin menangis.
"Cup.. Cup.. Cup..anak pintar jangan menangis, nanti ibumu pulang" Ucap Bibi lagi
Diliriknya jam dinding yang bertengger di tembok kamar Selena, waktu sudah menujukan pukul 8 pagi, seharusnya dijam segini Bibi membereskan dapur dan mengecek pelayan lain yang menjalankan tugasnya
1 jam kemudian, akhirnya yang diharapkan Bibi terkabul juga, tangis yang kencang kini sudah berubah menjadi hening
Ditaruhnya bayi mungil itu kedalam box bayi tapi baru saja Bibi meletakkan bayi itu, baby Revan sudah menangis lagi, membuat mau tak mau Bibi menggendongnya lagi.
"Cup.. Cup..diam sayang, kalau revan diam, Bibi ajak main ke teras rumah deh" Tawar Bibi yang sudah kehabisan akal, mungkin bayi mungil itu jenuh di dalam kamarnya fikir Bibi
Akhirnya Bibi membawa baby Revan ke teras depan rumah yang memperlihatkan deretan rumput dan bunga-bunga kecil,
Melihat keadaan yang berbeda, membuat bayi mungil itu sedikit tenang, matanya menatap rumput kecil di depannya
Bibi tersenyum saat bayi mungil yang berada digendongannya berhenti menangis,
Tak lama kemudian, mobil Nesa dan Vino terparkir mulus di depan teras rumah, melihat majikannya sudah kembali pulang, Bibi langsung menyambutnya memberi hormat
"Hei kenapa kamu ada disini sayang" Tanya Nesa saat melihat Revan digendongan Bibi nya
"Dari semalam baby Revan menangis Non, mungkin dia rindu pada ibunya karna Nona Selena tidak pulang semalaman" Jawab Bibi
__ADS_1
"Oh, iya memang Selena tidak pulang bi, biarkan aku yang menggendongnya" Ucap Nesa berusaha mengambil Revan dalam gendongan Bibi,
Vino yang baru saja menurunkan tasnya dalam bagasi mobil pun terkejut saat istrinya mau menggendong baby Revan
"Sayang" Pekik Vino yang berlari menuju istrinya
Nesa mengabaikan panggilan Vino dia tetap meraih Revan lalu menggendongnya, membuat Vino semakin kesal
"Sayang, kau baru saja pulang dari rumah sakit, dan kata dokter Anton kau tak boleh terlalu lelah, biar aku saja yang menggendong Revan atau kau bisa berikan Revan pada Bibi"
"Ingat kesehatanmu"
"Aku sudah sembuh, dan siapa yang lelah? Aku hanya menggendong Revan, apa itu melelahkan?
" Lagipula sampai saat ini Selena belum bisa ditemukan kan? Biar aku saja yang menjaganya, dan Bibi boleh kembali bekerja "
"Ta-tapi"
"Gak ada tapi-tapian by! Aku mau menjaga Revan lagipula dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, apa kau tega melihatnya terus menangis" Jawab Nesa sambil menepuk-nepuk bokong Revan, dia membawa Revan mendekat pada rumput di teras rumahnya karna sedari tadi mata Revan selalu tertuju pada rumput hijau itu
Vino yang tak ingin bertengkar dengan istrinya pun mengalah, dia duduk diteras dan melihat istrinya sedang bercanda ria dengan Revan
"Andai Revan putraku pasti aku sangat senang" Gumam Vino melihat istrinya tersenyum sesekali tertawa bermain dengan bayi mungil yang belum tahu apa-apa
Hari sudah semakin siang, dan Nesa sudah berdiri terlalu lama di rumput itu, Vino yang takut istrinya akan kelelahan pun menghampirinya
"Biar aku saja yang menggendong, kau pasti lelah menggendong Revan sedari tadi" Ucap Vino berusaha mengambil Revan dalam gendongan istrinya
Nesa pun tak ambil pusing, dia menyerahkan revan kedalam gendongan suaminya, jujur saja dia sudah lelah, tubuhnya belum fit total
Melihat babu Revan sudah tertidur, Vino dan Nesa berniat membawa bayi mungil itu kedalam rumahnya, lagipula sinar matahari sudah membuat bumi ini semakin panas
.
.
.
.
.
Hay gaes, mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat
Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini (like, favorite, komen, vote Dan hadiah🎁)
...... #Happy Reading😘#......
__ADS_1