
"Aku hanya ingin sharing urusan kantor, aku tidak begitu pandai dan aku sangat membutuhkan Vier untuk membantuku.. " Ucap Nesa yang keluar dari kamar mandi untuk meletakkan pakaian kotor suaminya
Nesa berjalan kearah balkon, dia ingin melihat matahari terbenam,
"Aku akan memberikan untukmu.. " Vino mengikuti langkah kaki istrinya dan berdiri di sampingnya.
"Ada apa? Bukankah orang kepercayaanku sudah sangat membantu perusahaan Reza??"
Vino merangkul pundak istrinya, lalu menyuruh istrinya untuk bersandar di dada bidang Vino
"Aku ingin belajar dan memimpin perusahaan itu sendiri, dan aku tidak ingin bergantung kepada orang lain.. " Nesa menjawab pertanyaan suaminya sambil memandang matahari yang sedang terbenam.
Vino mengecup pucuk kepala Nesa, lalu mengelus pundak Nesa.
"Aku tidak ingin kamu lelah.. "
"Aku tidak mengizinkan kamu mengurus perusahaan itu sendiri.. " Sambungnya lagi.
Nesa melepaskan pelukan suaminya, dia mendongakan kepalanya agar bisa melihat wajah tampan suaminya.
"Terimakasih tapi aku sangat menyukai tantangan ini, dan aku tidak akan lelah, aku akan berusaha membuat perusahaan ini menjadi terkenal di seluruh dunia.. "
"Jangan khawatirkan aku by.. " Setelah mengucapkan itu, Nesa langsung memeluk suaminya dari samping, kedua tangannya dia ulurkan untuk memeluk pinggang Vino
"Cepat mandi, hari semakin larut, .. " Vino melepaskan pelukannya,
Nesa mengangguk dia berjalan masuk kedalam kamar dan mengambil handuk lalu berjalan kedalam kamar mandi.
Setelah mendengar gemercik air di dalam kamar mandi, Vino tersenyum, dia meneteskan air matanya, Kata-kata dokter Rizal sangat menganggu pikirannya
Beberapa jam lalu..
"Ini dokter Rizal, dokter Rizal ini yang akan membantumu.. "
"Dokter Rizal perkenalkan dia Vino, .. "
"Senang bisa bertemu dengan Tuan Vino... " Rizal memberi hormat pada orang yang berpengaruh dalam dunia bisnis
"Mari ikut saya, .. " Ucap dokter Rizal
"Ikuti dia, jangan membuat masalah.. " Bisik Anton pada Vino
Lalu ketiga lelaki itu keluar dari ruangan dokter Anton, Sean yang melihat segera mengikuti majikannya.
"Kau tunggulah disini.. " Anton memperingati Sean
"Saya akan menjaga Tuan.. " Sean tetap mengikuti langkah ke 3 orang itu.
"Sean, patuhi dia, aku baik-baik saja.. " Ucap Vino tanpa menghentikan langkahnya.
Sean menganggukan kepalanya, dia kembali ke depan ruangan dokter Anton.
__ADS_1
Sekitar 1 jam Vino diperiksa oleh dokter Rizal, dan dokter Anton hanya memantaunya, dia tidak ingin saudaranya akan membuat masalah.
"Bagaimana? Apa dugaanku benar? " Tanya dokter Anton saat dokter Rizal sudah menyelesaikan pemeriksaannya
"Bagaimana? Apa dugaanku benar? " Tanya dokter Anton saat dokter Rizal sudah menyelesaikan pemeriksaannya
Dokter Rizal menganggukan kepalanya dan berkata "Ini hanya perkiraan dokter, tapi kita tidak bisa menentang takdir Tuhan, semoga ada keajaiban dari Tuhan,"
"Sudah aku duga, lalu cara mengobatinya? "
"Berdoalah dan meminta mukjizat itu datang.. "
Dokter Anton menganggukan kepalanya setelah itu dokter Rizal kembali menemui Vino dan memberikan selembar surat yang menyatakan kondisi Vino
"Maaf Tuan, kami harus menyampaikan hal buruk ini kepada Anda.. " Kata-kata dokter Rizal mempu membuat suasana hati Vino tak tenang
"Maaf Vin, perkiraanku benar, setelah dokter Rizal mengecek semuanya, memang kau terkena penyakit itu.. " Ucap Dokter Anton yang bisa melihat wajah dingin milik saudaranya menjadi kusut dan sedih
"Ini, anda bisa baca sendiri, .. " Dokter Rizal menyerah selembar surat.
Vino membaca lalu melipat surat itu kembali, dia menyimpan di saku jasnya, lalu pamit kepada 2 dokter itu.
"Bisakah aku meminta kalian untuk merahasiakan ini dari siapapun, aku akan mengirim sejumlah uang yang kalian minta... "
"Maaf Vin, tapi orang tuamu berhak tahu termasuk istrimu.. " Lagi-lagi Anton tidak sependapat dengan Vino
"Biar aku saja yang memberitahu mereka, kalian cukup tutup mulut, dan bekerjalah.. " Vino melangkah keluar menghampiri Sean lalu menyuruhnya untuk kembali ke rumah..
Sean melihat suasana hati bossnya sedang jelek, terbukti sedari keluar dari ruangan, sikap Vino sangat dingin, dia tidak berbicara sepatah kata pun padanya, selain menyuruhnya pulang.
"Akan kucoba selama beberapa bulan lagi, siapa tahu Tuhan memberikanku kesempatan untuk memiliki anak.. " Gumam Vino lalu masuk kedalam kamarnya..
...1 tahun kemudian....
"Kalian ini sudah 1 tahun lebih menikah tapi kenapa kamu belum juga hamil!! " Ucap Renata saat mereka sudah menyelesaikan sarapan paginya
Nesa menunduk, hampir setiap hari dia mendapatkan sindiran yang membuat hatinya sakit.
"Maafkan aku bu.. " Hanya kata maaf yang bisa diucapkan Nesa, dan Vino, dia masih menutupi rahasianya.
"Sudahlah, lebih baik kamu pergi bekerja.. " Vino bangkit lalu menggandeng tangan istrinya.
Renata geram, dia selalu diabaikan dengan putranya, dan Vino selalu membela istrinya
"Kau selalu membelanya, apa kau tidak menginginkan seorang anak hah!! " Renata berbicara dengan nada kesal, dia bangkit lalu mengambil tasnya dan pergi
"Ingat nak! Kau butuh penerus untuk perusahaanmu kelak nanti.. " Ucap Renata yang masuk kedalam mobil.
Vino mengecup punggung tangan istrinya, lalu berkata "Jangan dengarkan ucapan ibu.. "
"Kamu boleh menceraikanku, ibu benar, kamu butuh penerus perusahaan.. " Jawab Nesa yang tetap tersenyum, lalu mengecup singkat bibir suaminya dan masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Pak jalan.. " Nesa menyuruh pak supir untuk mengantarkan dia ke perusahaan Reza yang kini sudah menjadi miliknya, 1 tahun belakang Nesa banyak belajar dan dia sekarang sudah menguasai bisnis di bidangnya
Nesa memandang pinggir jalan, tiba-tiba ucapan mertuanya terlintas di pikirannya
"Kau butuh penerus perusahaan.. "
"Apa benar aku tidak bisa memiliki seorang anak?? "
"Jika benar, kenapa! Apa karna aku terlalu lelah bekerja!!"
Batin Nesa, tanpa sadar air matanya menetes, pak diman yang melihat hanya diam saja, dia sudah hafal dengan istri bossnya,
"Malang sekali nasibmu.. " Batin pak diman.
"Pak kita ke danau dekat sana ya.. "
Pak diman menganggukan kepalanya, dia mengikuti setiap perintah majikannya
.....
"Ini bukan salahmu sayang, tapi ini karna keadaanku! "
Sean yang sedang menyetir pun melihat bossnya sedang berbicara sendiri.
"Sudah saatnya Tuan berbicara yang sejujurnya, saya hanya merasa kasihan kepada Nona.. " Tiba-tiba Sean berbicara, dia sudah diceritakan semuanya oleh bossnya
"Sean, aku tidak sempurna, aku cacat, aku takut istriku meninggalkanku, disaat aku menceritakan semuanya.. "
"Jika Nona mencintai anda, dia akan tetap berada disamping Tuan, walaupun Tuan mempunyai sebuah kekurangan.. "
"Berat untuk mengatakan yang sejujur, tapi kau ada benarnya juga, hanya saja setiap kali aku ingin mengucapkan ini, hatiku rasanya enggan, .. "
Sean tersenyum,
"Anda bisa mengadopsi anak.. " Jawab Sean membuat Vino menimang-nimang ucapan sekertarisnya
...Sesungguhnya aku tak berharap banyak dalam hidup ini, ...
...Namun jika hatimu boleh menyapa dan kepingan kata boleh menyatu bersama serpihan rasa, aku hanya ingin mengucapkan apa yang seharusnya terucapkan, Menjelaskan apa yang seharusnya terjelaskan, dan Menyampaikan apa yang harus tersampaikan. ...
.
.
..
.
.
Hay gaes, Mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat
__ADS_1
Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini (like, favorite, komen, vote dan hadiah🎁)
........ #Happy Reading😘#.......