
"Pergilah, biarkan aku sendiri, aku butuh waktu.. "
"Setidaknya sampai Sean memberi informasi tentang alex.. " Batin Vino
"Okeh aku pergi, tapi kamu jangan lupa makan, aku taruh makanan itu di meja.."
Nesa beranjak pergi meninggalkan suaminya yang tak mau menatapnya
Setelah mendengar langkah kaki yang semakin jauh darinya, Vino berbalik, dia menoleh menatap punggung istrinya yang sudah menjauh,
Hati kecilnya selalu mengatakan bahwa istrinya tidak bersalah dan pembicaraan ibunya sudah cukup menjadi bukti yang kuat, tapi kenapa Vino masih bersikap dingin pada Nesa, atau adakah alasan lain yang membuatnya bersikap dingin?
Setelah Nesa menutup pintu ruang kerja suaminya, tiba-tiba Renata, ibu mertuanya sudah menunggu di depan pintu, tangannya di silangkan di depan dada sambil tersenyum sinis
"Lebih baik siapkan mentalmu dari sekarang, karna esok atau lusa, aku pastikan Vino akan menceraikanmu, haha..!! "
Tangan Nesa mengepal erat, selama ini dia diam bukan berarti dia lemah, dia berusaha menghormati juga menjadi menantu yang baik untuk Renata tapi Renata tidak pernah memandangnya sama sekali.
"Cukup bu! Batas kesabaranku sudah habis!.. "
Renata terkejut saat menantunya berani membentak dan melawannya, dia pikir menantunnya akan terus diam dan tunduk
"Beraninya kamu!! " Renata melayangkan tamparan di pipi Nesa
Plakk..
Pipi Nesa tiba-tiba menjadi merah, diusapnya pipi itu dengan tangannya
"Apa yang ibu inginkan dariku!! "
Nesa sebisa mungkin tegar, air mata yang sudah berada di pelupuk matanya berusaha ia masukan kembali, tapi sayang, air mata itu tak mau, tanpa izin dia menetes membasahi pipi merah Nesa
"Pergi dari kehidupan Vino, atau kau izinkan Vino menikah lagi, dia butuh anak untuk meneruskan perusahaannya.. "
"Aku tidak akan pergi dari kehidupan Vino sampai kapanpun kecuali jika Vino sendiri yang menyuruhku pergi dari kehidupannya, Reza sudah menitipkan aku pada Vino, dan sekarang Vino adalah suamiku, jadi yang berhak mengusir aku dalam kehidupan suamiku adalah suamiku sendiri.. "
"Ibu harus paham itu!! Dan urusan menikah lagi..
"Aku tidak akan mengizinkan Vino menikah lagi, karna sampai kapanpun aku tidak siap di madu..
"Kita saling mencintai bu.. "
Setelah mengeluarkan isi hatinya, Nesa langsung pergi ke kamarnya, dia menutup dan mengunci kamarnya, tubuhnya merosot kebawah sambil disenderkan ke pintu, Nesa menangis mengugu, kedua kakinya ia tekuk dan kedua tangannya dia gunakan untuk menutupi wajah cantiknya yang sedang menangis..
"Reza aku sendiri za, semua orang sudah tidak mempercayaiku lagi, bahkan suami aku juga tidak mempercayaiku....aku sendiri za, lebih baik aku ikut mati bersamamu saja hiks..hiks.... "
"Aku cape, aku lelah, aku pasrah!!!, sudah 1 tahun aku menghadapi ibu mertuaku yang kejam, aku selalu berharap akan ada keajaiban datang tapi mungkin keajaiban itu tidak akan pernah datang dalam hidupku.. Dan sekarang aku harus menghadapi kesalahpahaman ini sendiri,....... "
"Hiks... Hikss... "
Di dalam ruang kerja Vino dia bisa mendengar pertengkaran antara ibu dan istrinya, ingin rasanya dia membela istrinya tapi lagi-lagi dia tidak mampu, dia hanya bisa mendengarkan
"Maafkan aku, seharusnya aku membelamu, kamu tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu, ini hanya masalah waktu saja, setelah aku mendapatkan biodata Alex, aku pastikan drama ini selesai.. " Batin Vino meremas tangannya
Segera dia berjalan dan duduk di meja kerjanya, di senderkan tubuhnya ke belakang kursi, sungguh lelah rasanya, menghadapi ini sendiri
Drtt... Drtt...
__ADS_1
Ponsel Vino bergetar, dia melihat nama sekertarisnya di layar ponselnya
"Bagimana? " Tanya Vino saat panggilan sudah terhubung
"Maaf Tuan, saya sudah berusaha meretas data pribadi Tuan Alex tapi saya tidak bisa, tidak ada data pribadi miliknya, mungkin dia menutup rapat identitasnya.. "
Emosi Vino tak bisa di tahan lagi, dia melampiaskannya pada sekertarisnya
"Bedebah!, apa kau tidak bisa menemukan sedikit saja! "
"Saya sudah mencari hacker handal, dia hanya bisa memberi sedikit informasi,.. "
"Apa itu! "
"Dia tinggal di apartemen dan mempunyai perusahaan yang sekarang di pegangnya, lalu dia mempunyai seorang adik perempuan.. "
"Siapa nama adiknya?? "
"Maaf Tuan, kami belum bisa mengetahui siapa adiknya.."
Tiba-tiba Vino mematikan panggilannya, dia menghela nafasnya kasar, segera dia melirik jam di dindingnya, terlihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, segera dia bangkit keluar ruangan,
Setelah sampai di depan pintu kamar, Vino terkejut saat pintu terkunci dari dalam, dia juga tidak mendengar suara tangis istrinya, wajahnya menjadi pucat, dia khawatir jika istrinya berbuat hal yang tidak diinginkan karna perdebatan bersama ibunya tadi
Dia turun tangga dan mencari ketua pelayan, lalu meminta kunci cadangan kamarnya
Setelah mendapat kunci cadangan, Vino langsung berlari ke kamar dan berusaha membuka,
Matanya membulat sempurna saat Vino melihat istrinya tergeletak di lantai dekat pintu tak sadarkan diri, dia langsung membopong istrinya lalu merebahkannya di kasur
"Cepat kemari, dalam 10 menit kau harus sudah sampai di sini!! "
"Tap-.. " Belum sempat Anton menjawab, Vino sudah memutuskan panggilannya
Pikirannya kacau saat melihat Nesa tidak sadarkan diri, dia mondar mandir menunggu kedatangan Anton, sesekali Vino melirik jam di pergelangan tangannya
"Vin, ada apa!! " Tanya Anton yang baru saja tiba dengan nafas yang tidak beraturan,
"Cepat cek istriku, aku takut dia kenapa-napa.. "
Anton mengangguk, dia meletakan tas kerjanya di atas nakas, lalu mengeluarkan stetoskop untuk mengecek istri saudaranya
"Bagaimana keadaannya? " Tanya Vino setelah Anton selesai mengecek Nesa
"Aku tidak percaya kamu menyiksa istrimu sampai seperti ini,.. "
"Cepat katakan! "
"Vin, kamu sudah dewasa, dan dia baru beranjak dewasa, umurnya tidak sesuai dengan penderitaannya, dia mengalami stres berkepanjangan, dan aku melihat pipi sebelah kiri membiru, apa kamu menamparnya?? "
"Tidak, aku tidak berani menampar istriku sendiri,. "
"Lalu luka di pipi dan di kening, siapa yang melakukannya?? "
"Ibu menamparnya dan di kening, itu kesalahanku,.. "
"Tapi dia baik-baik saja kan?? " Tanya Vino lagi
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku menyarankanmu untuk pindah ke apartemen, kalian sudah berumah tangga, dan kamu tidak bisa di setir terus oleh ibumu, jadi yang terkena imbasnya istrimu sendiri, apa kamu tidak kasihan melihatnya? "
Vino menunduk, apa yang dikatakan Anton selalu benar, lagi dan lagi dia merutuki kebodohannya
"Ibu mengeluh tentang cucu.. " Ucap Vino memandang istrinya yang sedang terbaring lemah
Anton menghembuskan nafasnya kasar, dia menghampiri saudaranya
"Apa kamu belum menceritakan semuanya? "
"Aku sudah mengatakan pada ibu, bahwa aku tidak bisa memiliki keturunan tapi ibu tidak percaya.. "
"Vin!! Siapa yang bilang tidak bisa, kalian bisa memiliki keturunan hanya saja kemungkinan itu sangat kecil.. "
Vino tersenyum saat mendengar ucapan Anton
"Iya kecil, dan aku sudah berusaha 1 tahun ini tapi tidak membuahkan hasil.. "
"Lakukan sewaktu masa subur istrimu, sebelum melakukannya kamu berdoa, siapa tahu Tuhan akan mengabulkan doamu.. "
"Istrimu baik-baik saja, jangan tekan mentalnya lagi, dia bisa gila.. "
"Aku berikan resep obat penenang untuk istrimu.. "
Vino mengangguk, dia tetap memandang istrinya yang tak sadarkan diri
"Ini,.. " Anton menyerah kertas berisi resep obat untuk Nesa
"Aku pergi, ingat jaga dia! Dia masih terlalu kecil untuk memikirkan beban berat.. "
"Terimakasih.. "
Setelah melihat Anton keluar kamar, Vino langsung menyuruh ketua pelayan untuk membelikan resep obat dari Anton
Lalu dia kembali ke kamar, dipandangnya wajah cantik istrinya yang di penuhi beberapa luka
"Maafkan aku.. " Gumam Vino mengelus punggung tangan istrinya
.
.
.
.
.
.
.
Hay gaes, Mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat
Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini (like, favorite,komen, vote dan hadiah🎁)
..........#Happy Reading😘#........,
__ADS_1