
Nesa melihat jam dipergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, dan artinya jam makan siang sudah tiba.
"Nanti aku akan mencari makan siang.. "
"Hati-hati, jika ada apa-apa, segera hubungi aku.. "
"Iya hubby... "
Nesa memutuskan panggilan, dia kembali menuju mobilnya,
"Pak kita makan siang dulu.. "
"Baik Nona, " Jawab pak Diman sambil membuka pintu mobil.
..........
"Apakah aku siap?? " Batinnya memasukan ponsel kedalam sakunya
"Kita sudah sampai Tuan.. " Sean sudah mengucapkan kalimat itu sebanyak 3 kali
"-_-"
Ketakutan Vino membuatnya tidak memikirkan keadaan sekitar termasuk sekertarisnya yang sedang menggerutu kesal
"Ada apalagi dengan dia? "
"Ah jika seperti ini, lebih baik kita kembali ke kantor, karna pekerjaanku bukan untuk melihatmu melamun tak jelas seperti ini.. " Batin Sean yang sudah kesal
"Lain kali aku harus menyediakan Cuttonbud untuknya di kantor. "
"Tuan.. " Panggil Sean sedikit berteriak
Vino terkejut saat sekertarisnya memanggilnya dengan kencang
"Kau ingin mati ya! Telingaku masih normal!! " Ucap Vino yang memegang dadanya
"Hei kau bilang apa! Normal!! Sudah beberapa kali aku memanggilmu tapi kau sama sekali tidak mendengarkan dan memilih melamun tidak jelas.. " Sean bergumam di dalam hatinya, jika Vino bukan atasannya mungkin sudah dihabisi olehnya
"Ma-maaf Tuan.. " Akhirnya dia mengalah karna dia masih membutuhkan pekerjaannya
Sean membuka pintu dan keluar dari mobil, lalu dia membukakan pintu mobil untuk bossnya
"Silahkan Tuan.. "
"Hemm.. "
Vino keluar dari mobil lalu merapihkan jas dan pakaian, setelah itu dia berjalan memasuki rumah sakit diikuti oleh Sean dibelakangnya
"Maaf Tuan, kita sudah membuat jadwal dengan dokter Anton, jadi kita langsung saja menuju ruangannya.. "
Sean menjelaskan dengan cepat, dia berusaha mengimbangi langkah kaki bossnya ini.
Vino terkejut dengan tindakan sekertarisnya yang gegabah, lalu dia menghentikan langkahnya dan berbalik
"Kenapa kau menghubungi dia!! "
"Karna saya tahu anda datang kesini untuk menemui dokter Anton.. " Sean berbicara dengan bangga, dia ingin dipuji oleh bossnya akan rasa peka
"Bodoh! Memangnya aku menyuruhmu untuk menemui dokter gila itu! "
"Eh, lalu Tuan? " Senyum yang diterbitkan di bibir Sean tiba-tiba lenyap ditelan bumi
Dari arah kejauhan Anton yang baru saja keluar dari ruangannya, di suguhkan dengan pemandangan yang tak biasa, seketika bibirnya tersenyum,
__ADS_1
"Akhirnya dia mau datang.." Batin Anton yang sedang melihat perdebatan antar boss dan sekertarisnya,
Anton segera menghampiri saudaranya dan menyuruhnya untuk memasuki ruangannya
"Rupanya ucapanku selalu terpikirkan olehmu.. " Ucap Anton sambil berjalan menuju ruangannya
Vino dan sekertarisnya hanya diam, Sean yang sudah mendapatkan peringatan dari bossnya itu hanya diam dan diam
"Duduk! " Ucap dokter Anton yang sudah berada diruangannya
Vino dan Sean bagaikan boneka, dia menurut dan patuh dengan setiap kata yang diucapkan saudaranya itu.
"Apa kau sudah memikirkan ucapanku dengan matang.. "
Anton duduk di hadapan saudaranya
"Sean kau tunggulah diluar.. "
Sean mengangguk dia pergi dari ruangan dokter Anton itu.
"Sejujurnya hari ini aku dibuat bingung oleh mereka semua,.."
"Kira-kira ada apa dengan mereka, sampai-sampai aku tidak boleh mengupingnya.. " Dengus Sean yang menutup pintu ruangan dokter Anton
"Sudah siap untuk melakukan pemeriksaan.. "
"Cepat lakukan.. "
"Baik, tunggu sebentar.. " Anton bangkit dari duduknya lalu menghubungi salah satu dokter spesialis yang menangani penyakitnya
"Untuk apa kau menghubungi dokter lain!! " Ucap Vino yang bangkit lalu melangkah pergi tapi langkahnya ditahan oleh ucapan Anton.
"Diam disitu, dan kembalilah duduk! "
"Harus kau ingat! aku hanya seorang dokter umum, jadi aku tidak bisa memberikan hasil yang pasti, lebih baik aku panggilkan dokter yang sudah ahli.. " Jawab Anton
......................
Nesaa meletakkan buket bunga yang dibeli di dalam perjalanannya ke atas makan Reza
"Hai rez, aku datang.. "
"Maaf sudah lama aku tidak mengunjungimu lagi.. "
"Tenanglah disana, dan terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk mencintai orang lain setelahmu.. "
Setelah mengucapkan perasaannya, Nesa mendoakan Reza lalu pamit untuk pergi ke kota, dia ingin mengecek perusahaan Reza.
"Pak Diman, kita ke kota sekarang. " Ucap Nesa setelah berada di dalam mobil.
"Baik Nona.. "
Nesa memperhatikan setiap jalan perjalanan ke kota,
"Sungguh aku merindukan kenangan di desa itu,.. " Setelah mengucapkan kata-kata itu, Nesa menghembuskan nafasnya, dia mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya
"Hallo hubby... "
"Ada apa sayang, kau baik-baik saja kan? " Tanya Vino dengan cemas, dia baru saja melakukan pemeriksaan di rumah sakit.
"Aku baik-baik saja hubby, apa kamu sudah pulang? "
"Belum, apa kamu sudah berada di kantor Reza? "
__ADS_1
"Belum juga by,.. "
"Cepatlah pulang, jika hari sudah petang, kau bisa memeriksa kantor Reza besok.. "
"Iya by, .. "
Telfon itu terputus, Nesa memasukan ponselnya kedalam tas, dan kepalanya ia senderkan kebelakang.
"Aku harus menjadi pribadi mandiri dan tidak boleh bergantung pada suamiku,.. "
"Akan ku buktikan bahwa setiap ucapan yang dilontarkan ibu, itu salah! .. " Batin Nesa
Waktu sudah menujukan pukul 5 sore, dan Nesa baru sampai di kota,
"Pak kita langsung pulang saja, aku takut Vino sudah pulang dan mencariku.. "
"Baik Nona... "
Mobil yang dipakai Nesa kini sudah memasuki halaman rumah yang sangat luas, mobilnya terparkir dengan sempurna, dan pak Diman segera turun dan membukakan pintu mobil untuk majikannya
"Terimakasih pak.. " Ucap Nesa tersenyum lalu turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumah milik mertuanya
Nesa bisa melihat mertuanya sedang duduk di ruang tamu, hanya sorot mata yang sulit diartikan yang di dapat Nesa.
"Assalamu'alaikum bu.. " Nesa tersenyum saat mengucapkan salam, tak ada balesan dari mertuanya,
"Harusnya kamu sudah terbiasa dengan ini.. " Batin Nesa yang melangkah kedalam kamar.
Nesa memutar handle pintu kamarnya, dan pintu kamar terbuka, dia masuk dan sudah melihat jas suaminya di sofa, pertanda suaminya sudah pulang, terdengar pula gemercik air di dalam kamar mandi.
Nesa meletakkan tas dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Pintu kamar mandi terbuka, dia bisa melihat suaminya yang hanya menggunakan jubah untuk menutupi tubuhnya.
Pesonanya semakin terpancar saat melihat rambut suaminya yang basah dan berantakan.
Nesa tersenyum saat melihat ketampanan sang suami.
"Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu, cepat pakai, aku tidak mau kamu sakit.. " Nesa menunjuk pakaian diatas ranjang nya..
"Hemm.. Hari ini pasti melelahkan.. " Vino berjalan dan memakai pakaiannya,
"Sedikit by, oh ya, aku boleh minta nomor ponsel Vier ?" Tanya Nesa yang sedang membereskan jas dan pakaian suaminya yang tergeletak sembarangan.
Vino menghentikan gerakannya, "Untuk apa? "
.
.
.
.
.
.
.
Hay gaes, Mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat
Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini (like, favorite, komen, vote dan hadiah🎁)
__ADS_1
....... #Happy Reading😘#.......