
Jonah mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terbangun dari tidurnya dalam posisi masih mendekap Ally. Pria itu segera melepas pelukannya dan bangkit duduk. Ia melirik jam dinding, sudah siang rupanya.
Jonah menghela napas sembari melihat Ally yang tertidur dengan napas teratur. Jonah mencoba menempelkan punggung tangannya pada dahi Ally. Sedikit panas, Ally agak demam.
Jonah menghela napas panjang, ada perasaan bersalah pada Ally. "Jika saja kau tidak menyebalkan, aku tak akan membencimu. Apa yang sebenarnya kau lakukan dikamar mandi sampai-sampai jatuh pingsan?!" tanya Jonah pada Ally yang tengah terlelap.
Posisi selimut yang membungkus tubuh Ally sedikit menggumpal, tangan Jonah tergerak untuk membetulkannya. Saat itu juga, Jonah tak sengaja menariknya terlalu turun sehingga belahan dada Ally terpampang dibaliknya.
"Aishh... aku lupa bahwa ia tak berpakaian." desis Jonah lalu segera menutup tubuh Ally dengan selimut lagi.
Jonah mengusap wajahnya. Bayangan lekukan tubuh Ally segera memenuhi kepalanya lagi. Sial, Jonah tak sengaja melihatnya dan terus kepikiran akan hal itu.
Jonah hanya tak menyangka ternyata Ally memiliki tubuh yang bagus. "Sial, apa yang kau pikirkan, Jonah!" racaunya pada diri sendiri.
Setelah selesai berdebat dengan diri sendiri. Akhirnya Jonah memutuskan untuk pergi kerumah ibunya. Ia ingin bertemu Diva dan bertanya akan suatu hal.
Jonah segera meraih kunci mobil dan segera mengendarai mobil itu menuju rumah lamanya. Disela-sela perjalanannya Jonah sempat mampir ke toko buah-buahan sekedar untuk membeli buah tangan.
Setelah menempuh waktu sekitar kurang 40 menit, Jonah sampai dan langsung masuk kedalam rumah. Jane segera menyambutnya.
"Anakku, sayang. Ada apa kemari? Mana istrimu? kenapa tidak dengan istrimu?" tanya Jane.
"Ah, itu... tadi aku kebetulan lewat jadi mampir. Ally sedang istirahat dirumah." alibi Jonah.
"Apa dia sakit?" tanya Jane.
"Ah, tidak! di-dia tidak sakit. Hanya istirahat. Ya, hanya istirahat." cerocos Jonah panik.
__ADS_1
"Ah, syukurlah."
"Ah... Ibu, apa Bibi Diva masih ada disini?" tanya Jonah.
"Iya. Dia masih disini. Sepertinya dia sedang didapur." ucap Jane.
"Baiklah, Ibu. Kalau begitu aku ngin bertemu dengannya dulu." pamit Jonah.
"Silakan, temuilah dia."
Jonah segera mengambil langkah menuju dapur. Tapi orang yang ia cari tidak ada disitu. Jonah meneruskan langkahnya menuju halaman belakang. Diva ada disana.
"Jonah, kau kesini? Dimana putriku?" tanya Diva segera setelah melihat Jonah.
"Ally sedang dirumah. Aku hanya kebetulan lewat sini dan menyempatkan diri untuk mampir." balas Jonah.
"Terima kasih." Diva menerimanya senang.
"Bibi, aku ingin berbincang denganmu." ucap Jonah.
"Silakan. Aku senang jika diajak berbincang. Apalagi dengan menantuku," senyum Diva. "Mari kita duduk disitu." Jonah dan Diva segera berjalan kearah kursi disamping kolang renang dan segera mendaratkan pantat diatasnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Diva.
"Ah, tidak. Sebenarnya aku hanya ingin lebih tahu tentang istriku lebih jauh. Mungkin Bibi dapat memberitahuku tentangnya agar aku bisa menjaganya dengan baik." kata Jonah.
Diva tersenyum. "Baiklah. Hal mana yang ingin kau tahu terlebih dahulu?"
__ADS_1
"Ceritakan kepadaku semua tentang Ally," pinta Jonah. "Hal apa saja yang dia suka?"
"Ally menyukai banyak hal. Gadis itu sangat suka memasak. Ally juga penyayang binatang, dia sangat suka dengan kucing. Sejak dulu ia ingin sekali memelihara kucing, tapi aku tidak mengijinkannya." Diva tertawa.
"Tapi dia itu gadis yang sangat manja. Ally sangat suka dipeluk, ia sering merengek kepadaku minta dipeluk saat tidur. Sekarang kaulah yang harus memeluknya menggantikanku," Diva tertawa kecil.
"Oh, iya. Ally tidak bisa tidur tanpa memeluk atau dipeluk. Hanya itu pilihannya." sela Diva lagi.
"Ah, satu lagi kuberi tahu. Jika Ally sakit, dia akan sangat menyusahkan. Dia akan merengek dan tak akan bisa tidur. Ah, dia akan sangat menyebalkan jika sakit. Tolong maklumi itu jika terjadi." tutur Diva.
"Lalu, apa ada hal yang bisa kulakukan untuk menanganinya?" tanya Jonah
"Jika Ally tak bisa tidur, maka kau harus mengelus-elus perut atau punggungnya." jelas Diva.
Jonah tertegun sesaat. Meneguk ludah lalu mengangguk samar.
"Bibi, apakah Ally memiliki penyakit atau semacam hal yang dibenci?" tanya Jonah ingin menggali lebih dalam.
Diva berpikir sejenak. "Ally tidak suka dikasari atau ditentang kehendaknya, sepertinya kau harus sering mengalah," Diva tertawa samar. "Ah, kalau penyakit sepertinya tidak ada yang serius, tapi Ally sering demam ringan. Gadis itu tak tahan dingin." sambung Ally.
Itu dia. Hal yang ingin Jonah ketahui.
"Bisakah Bibi menjelaskannya secara detail?"
Diva mengangguk. "Ini bisa disebut trauma masa kecil atau sejenis phobia. Ally tak bisa menahan dingin terlalu lama. Saat masih kecil waktu kami liburan keluar negeri, Ally hampir mati kedinginan karena badai salju. Sejak saat itu, sepertinya Ally ketakutan terhadap dingin. Ally selalu mandi cepat jika suhu airnya dingin, ia juga tak terlalu suka minum air dingin maupun es. Jika ia kedinginan terlalu lama Ally bisa-bisa pingsan atau demam." jelas Diva panjang lebar.
Kini Jonah mulai mengerti sedikit tentang gadis yang bernama Allyssia Heron itu.
__ADS_1