Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Pagi Yang Kacau


__ADS_3

Sinar mentari mulai merambat memaksa masuk menembus tirai dan sela-sela ventilasi. Cicitan burung-burung dipagi hari membuat telinga siapapun yang mendengarnya merasa damai.


Pagi yang indah, cuaca yang bagus, udara yang sejuk, selimut yang hangat, tapi ada satu masalah bagi Ally.


Ally dapat merasakan helaan napas di lehernya dan dengkuran halus dekat telinganya. Selain itu, ia juga merasakan ada sebuah lengan yang melingkar dipinggangnya. Setelah kesadarannya terkumpul, barulah ia terperanjak dan menjerit.


"Jonah! Sialan kau! berani-beraninya memelukku!" hajar Ally.


Jonah yang masih tidur mau tak mau harus terbangun paksa akibat teriakkan nyaring Ally.


"Apa-apaan kau ini!? mengganggu tidurku saja!" desis Jonah sambil mengucek matanya.


"Kau, kenapa memelukku!? Oh Tuhan, apa kau melakukannya sejak tadi malam!?" raung Ally.


"Apa yang kau bicarakan!?" tanya Jonah tak mengerti.


"Asal kau tahu saja! aku terbangun dengan lengan sialanmu yang memelukku!" adu Ally.


Jonah mengerutkan kening. "Mana mungkin begitu, aku yakin tadi malam aku memeluk guling."


"Lalu dimana gulingmu?!" semprot Ally.


Jonah menatap kanan kirinya. Tak menemukan guling. Yang tersisa diatas kasur hanyalah guling milik Ally.


"Ah, dimana gulingku?!" gumam Jonah sambil beranjak duduk. Setelah itu, ditemukannya guling itu tengah tergeletak dilantai. Sepertinya terjatuh tadi malam.


"Ck, gulingku terjatuh. Baiklah, aku minta maaf. Mungkin aku tak sadar memelukmu." ucap Jonah.


Ally mendengus. "Sudah ku bilang tidur satu ranjang denganmu bukanlah ide bagus." sesal Ally.


"Sudah kusarankan tadi malam. Seharusnya kau tidur di sofa saja. Lagipula, salah mu sendiri. Kenapa guling pembatas ada tepi ranjang, hm?" tanya Jonah.

__ADS_1


"Ah, itu ... bukankah aku sudah bilang bahwa aku tak bisa tidur jika tak memeluk sesuatu. Semalaman aku tak bisa tidur, aku tak punya pilihan selain memeluk guling pembatas." aku Ally.


"Lihat, kan? sama-sama salah? jadi berhenti menatapku seakan-akan aku memperkosamu tadi malam." jengkel Jonah ditatap seperti itu oleh Ally.


Jonah segera bangkit dari tempat tidur. "Aku akan mandi." ucapnya sambil berlalu. Kamar mandi terletak disamping dapur. Kamar tidur mereka hanya memiliki toilet dan wastafel saja.


Ally mengatur napasnya. Ia kemudian merapikan tempat tidur. Ia membuka tirai, segera setelahnya sinar matahari pagi yang hangat menerpanya.


Perut Ally berbunyi, tandanya ia lapar. Ia langsung pergi menuju dapur yang terhubung langsung dengan ruang makan dan ruang tamu. Rumah ini memang didesain khusus untuk pasangan pengantin baru, semuanya serba minimalis dengan sentuhan elegan.


Ally membuka kulkas dan menemukan bahan-bahan yang bisa ia masak. Ally pandai memasak. Ia merenung sejenak memikirkan menu apa yang akan ia masaki. Nasi goreng, sepertinya itu yang menarik pagi ini.


Ally mulai mengeluarkan sayur-mayur yang akan jadi bahan pelengkap lalu memotongnya kecil-kecil. Setelah itu, ia mencampurkan semuanya didalqm wajan dam mulai mengaduknya.


Setelah selesai, ia segera menaruhnya diatas piring dan segera melahapnya.


Jonah keluar dari kamar mandi dan langsung bertemu Ally dimeja makan. Wanita itu terlihat tengah menyantap sepiring nasi goreng.


"Mana sarapanku?" ucap Jonah mendekati Ally.


"Aaaaaaa!! Jonah bodoh. Apa yang kau lakukan!? kenapa kau tidak berpakaian." teriak Ally menutup matanya.


"Aku baru selesai mandi. Itu hal wajar jika aku hanya mengenakan handuk." sahut Jonah.


"Sial. Pergi dari hadapanku! aku tidak ingin melihatmu!" raung Ally sambil masih menutup matanya.


"Masa bodoh. Aku bertanya, dimana sarapanku?"


"Kenapa kau bertanya kepadaku?!" desis Ally.


"Apa kau bodoh. Maksudku kenapa kau tidak menyiapkan sarapan untukku?!"

__ADS_1


"Sudah berkali-kali aku bilang, aku ini bukan pembantumu! berhenti menyuruh-nyuruhku." sebal Ally.


"Bagaimana pun juga aku ini suamimu! kau harus patuh kepadaku!" tandas Jonah.


"Aku tidak beranggapan seperti itu." celetuk Ally.


"Buatkan aku sarapan atau ku rampas piringmu itu." desis Jonah.


"Apa-apaan kau ini!?"


"Aku tidak bercanda. Buatkan aku sarapan sebelum sarapanmu benar-benar ku rampas." ancam Jonah


Ally berdecak sebal. "Ck, baiklah akan aku buatkan! puas!?"


Jonah tersenyum penuh kemenangan. "Awas saja jika kau berani menaruh racun kedalamnya." cicit Jonah.


"Cepat pergi dari hadapanku dan berpakaian!" teriak Ally.


Jonah tersenyum licik. "Sepertinya kau menyukai otot dada dan perutku." cicitnya sambil berjalan mendekati Ally.


"Apa-apaan kau ini!? jangan mendekat!" larang Ally.


Jonah makin menyeringai. Ia makin mendekat ke arah Ally lalu meraih tangan wanita itu.


"Lepaskn tanganku!" jerit Ally.


Jonah tertawa. "Apa kau tidak ingin menyentuhku?"


"Bodoh. Apa yang kau bicarakan!?" Wajah Ally memerah akibat melihat otot perut Jonah secara langsung dengan jarak sedekat ini.


Tangan Ally yang masih digenggamnya secara tiba-tiba langsung ia tempelkan pada perutnya.

__ADS_1


Ally yang terkejut langsung menarik tangannya dan menjerit. "Aaaaaaaaaaa!!! tangan ku ternodai!! Jonah sialan, awas kau!" ucapnya sambil berlari menuju wastafel dan mencuci tangan.


Jonah tertawa terbahak-bahak. Ternyata mennjahili Ally lebih menarik daripada memusuhinya.


__ADS_2