Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Perbincangan


__ADS_3

Jonah mengikuti Steve dibelakang.


"Tolong bawakan minuman ke atas." perintahnya saat berpapasan dengan seorang wanita paruh baya.


Mereka sedang menuju lantas atas. Menapak disetiap anak tangga yang membawa mereka kehadapan pintu kaca yang besar. Steve membuka pintu kaca tersebut segera, penampakan balkon yang indah pun terpampang jelas.


"Mari duduk." ucapnya.


Jonah tersenyum dan mengangguk, dengan santai ia mendaratkan pantatnya ke atas sofa kecil.


Seorang wanita paruh baya memasuki area balkon tersebut sambil membawa nampan berisikan dua gelas kosong dan satu botol anggur. "Ini minuman Tuan." ujarnya, kemudian meletakkan gelas dan botol anggur itu ke atas meja dan setelahnya berlalu pergi.


Steve segera membuka penutup botol anggur itu dan menuangkannya pada kedua gelas. "Kau suka anggur, kan?" tanyanya sembari menyodorkan gelas berisi cairan merah keunguan itu.


Jonah tersenyum mengangguk dan menerima gelas itu.


"Bersulang." dentingan suara gelas yang bertubrukan melengking. Baik Jonah maupun Steve, keduanya meminum anggur itu setelahnya.


"Jadi itu tadi istrimu?" ucap Steve membuka percakapan. Mereka berdua duduk dibalkon yang mengarah langsung pada halaman belakang. Keduanya menyaksikan pesta anak-anak itu dari atas tempat mereka mengobrol.


"Hm." sahut Jonah.


"Pandai juga memilih istri." puji Steve terkekeh.


"Yah... sebenarnya... bukan aku yang memilihnya." tutur Jonah. Pria itu memperhatikan pesta dibawah sana dengan damai.


Steve tertawa hambar. "Jadi kau dijodohkan dengan Ally?" tebaknya.


Jonah segera mengalihkan atensinya pada Steve. "Cepat sekali kau dapat menebak."


"Tentu saja aku tahu. Aku juga mengalami hal yang serupa denganmu." ungkap Steve.


Jonah berlipat dahi mencerna ucapan pria dihadapannya. "Maksudmu, kau dijodohkan dengan Sera?"

__ADS_1


"Tepat sekali."


"Wah, aku tidak pernah mengira sebelumnya. Kalian terlihat sangat serasi dan terlihat berbahagia."


"Jadi maksudmu pernikahan dengan latar belakang perjodohan tak bisa bahagia?" kata Steve.


"Ah, tidak. Aku tidak—"


"Apakah pernikahanmu dengan Ally tidak bahagia?" tanya Steve.


"Emm, aku... ah, kami—"


"Tak perlu dijawab aku sudah tahu jawabannya." sambar Steve.


Jonah menghela napas. "Kami susah beradaptasi satu sama lain." tuturnya.


"Memangnya berapa usia pernikahan kalian?" tanya Steve.


"Seminggu mungkin." sahut Jonah.


"Bagaimana mungkin kau bisa berkata bahwa pernikahan kalian tidak bahagia," ujar Steve sambil terus tertawa. "Asal kau tahu saja, aku dan Sera bahkan butuh waktu setahun untuk beradaptasi."


"Setahun!?" Jonah terbelalak.


Steve mulai berhenti tertawa, pria itu mengambil gelas lalu menyesap anggur. "Begitulah faktanya. Sera yang dulu itu gadis yang pemarah. Disentuh sedikit saja dia bisa mengamuk." kenang Steve sembari memandangi pesta dari atas.


"Sepertinya, Sera persis seperti Ally." celetuk Jonah.


"Kurasa Sera lebih ganas dari Ally. Pernikahan kami dilatari dengan kerjasama bisnis antar keluarga. Bagaimana dengan pernikahanmu, Jonah?" tanya Steve.


"Ibuku sakit, aku dipaksa menikah dengan wanita pilihannya. Tak kuduga ternyata calon istriku itu adalam musuhku sendiri."


"Musuh?" Steve manautkan alisnya.

__ADS_1


"Ceritanya panjang. Yang jelas, kami sudah saling mengenal dan bermusuhan sejak masih dibangku highschool." jelas Jonah.


"Menarik." sela Steve.


"Dia juga gadis yang pemarah. Aku sendiri masih tak yakin mampukah bertahan dengannya." keluh Jonah.


Steve mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Jonah. "Kurasa kau bisa,"


"Kau tahu? dulu aku juga sering berpikiran sepertimu. Pernikahanku dan Sera tak berdasar cinta satu sama lain, melainkan sejenis hubungan yang menguntungkan bagi masing-masing pihak keluarga," cerita Steve, pria itu menyesap anggurnya kembali.


"Awalnya aku mengira ini akan rumit. Apalagi Sera sering meminta cerai. Aku yang lebih dulu jatuh pada Sera, aku menyukainya bahkan sejak pertama kali dipertemukan dengannya saat makan malam pertemuan kali kala itu. Tapi Sera tidak, dia keras kepala. Dia selalu marah jika aku ingin menyentuhnya. Dia bilang bahwa ia setuju menikah hanya karena paksaan orang tuanya, ia juga menekankan padaku bahwa pernikahan kami hanyalah sekedar status, tidak lebih." curah Steve panjang lebar.


"Tapi kau berhasil menaklukannya." ucap Jonah.


"Tidak mudah bagiku. Aku bahkan terpaksa mengikat kedua tangannya saat pertama kali melakukannya dengan Sera. Saat itu dia menangis kencang, seakan-akan aku ini orang asing yang memperkosanya." cerita Steve.


Jonah tertawa mendengarnya. "Ternyata kau lebih ganas."


"Parahnya lagi keesokan harinya gadis itu lari keluar kota kerumah temannya. Gila bukan? dia kabur dari rumah dan tidak mau kembali selama seminggu lebih saat itu."


"Ternyata kisah kalian memang rumit." sela Jonah.


"Begitulah. Hingga tak lama, Sera hamil dan melahirkan Yohan. Saat itulah dia mulai berubah. Kepribadiannya mulai lembut. Lalu entah sejak kapan kami pun menjadi seharmonis ini." tutup Steve mengakhiri ceritanya.


"Perjalanan cinta yang luar biasa." puji Jonah.


"Bagus jika kau mendengar ceritaku. Jadikan itu sebagai pelajaran dalam hidupmu." pungkas Steve.


"Kurasa aku takkan seberani dirimu dalam urusan bercinta." Jonah tertawa.


"Jangan jadi pengecut. Coba saja tidak apa-apa. Lagipula tak ada hukum yang bisa menuntutmu saat kau memperkosa istrimu. Jangan hiraukan jika mereka menangis, menjerit, atau memberontak. Percayalah, meskipun mereka begitu, tapi mereka sudah pasti menikmati permainanmu. Tidak ada wanita yang tidak terlena saat bercinta." Steve menyesap habis anggur digelasnya.


Jonah tertegun mendengar kalimat Steve. Mencerna dengan seksama disetiap kalimatnya.

__ADS_1


"Jika kau berniat ingin memperbaiki hubungan dengannya, maka kau harus bertindak lebih agresif." saran Steve.


__ADS_2