
"Apa kau sudah siap?" teriak Jonah dari ruang tengah.
"Sebentar lagi! berhentilah bertanya!" Ally menyahut dengan lantang dari dalam kamar. Jonah mendengus kesal, bahkan Ally pun lama saat berdandan. Memang semua wanita sama saja, entah apa yang mereka sebenarnya lakukan hingga memakan waktu selama itu.
"Ya! kita hampir terlambat!" teriak pria itu lagi. Ally tak menyahut, selang dua menit setelahnya gadis itu akhirnya keluar kamar.
Setelan dress dan sepatu yang mereka beli di Mall kala itu begitu cocok untuknya, serta tas mahal pemberian Madam membuat penampilan Ally terlihat semakin elegan.
Terlebih lagi Ally mengatur rambutnya dengan gaya classic vintage bun, lengkap dengan aksesoris yang menghias sanggul itu dengan anggun. Membuat leher jenjangnya terekspos sempurna.
Jonah bahkan diam-diam menelan salivanya begitu melihat penampilan gadis itu. Ally sangat menawan, sungguh.
Menyadari fakta bahwa leher istrinya itu terekspos jelas, Jonah sedikit kesal. Entah kenapa ia merasa tak suka jika orang-orang di sana nanti akan memandangi leher Ally. "Gaya rambut model apa itu?! kurasa kurang cocok untukmu, sebaiknya kau gerai saja rambutmu." alibinya.
"Hey, asal kau tahu aku memerlukan waktu yang lama untuk membuat ini!" ujarnya sembari menunjuk kepalanya sendiri. "Jika kau tak suka dan berpikir aku akan mempermalukanmu, aku tidak jadi ikut saja."
"Ah, sudahlah. Lebih baik kita segera berangkat sebelum terlambat." Jonah menarik tangan Ally berjalan keluar.
Dengan cepat Ally menyentak. " Ya, aku bisa jalan sendiri! tak usah ditarik-tarik." omelnya.
Jonah segera melajukan mobilnya ketika ia dan Ally sudah duduk dan memasang sabuk pengaman. "Pulangnya jam berapa?" tanya Ally mengawali percakapan di dalam mobil.
"Tidak pasti, tergantung kapan acaranya selesai." sahut Jonah.
"Aku tidak ingin pulang terlalu larut. Jika acaranya lama, kita pulang lebih awal." titah Ally.
"Hey, mana bisa se—"
__ADS_1
"Ya sudah jika kau tak mau pulang, aku bisa pulang sendiri memesan taksi online." sela Ally memotong ucapan Jonah.
"Ya, baiklah. Jika kau ingin pulang kita akan pulang. Tapi setidaknya jangan minta pulang di bawah pukul sepuluh."
"Hm." sahut Ally singkat. Setelahnya tak ada percakapan lagi.
"Acara apa yang akan kita datangi?" tanya Ally setelah beberapa lama.
"Rekan bisnisku, yah... bisa dibilang teman juga, telah resmi mewarisi atau mengambil alih perusahaan keluarganya. Pesta yang biasa diadakan untuk merayakan sebuah pencapaian dalam dunia perbisnisan." jelas Jonah.
"Itu artinya, akan ada banyak orang nantinya disana?"
"Tentu saja, namanya juga pesta." jawab Jonah.
"Aish... aku paling tidak suka kerumunan orang asing. Bagaimana nanti? aku tidak tahu cara berbicara dengan orang-orang penting, aku tidak tahu tata krama seperti apa yang harus dipakai, dan belum lagi penampilanku," Ally terlihat panik. "Apakah riasanku oke? apakah pakaianku cocok? apakah gaya rambut seperti ini tak cocok untukku? jawab jujur apakah aku akan mempermalukanmu?" cicit Ally sambil memegang pundak Jonah.
"Aku tak butuh kalimat penenang. Katakanlah kejujuran."
"Aku serius, kau cantik. Setelah dilihat-lihat gaya rambut itu lumayan juga. Tenanglah, kau tak akan mempermalukanku." Pria itu menatapnya meyakinkan. "Malah kau membuatku bangga."
"Hah? kau bilang apa?" Ally tak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jonah, karena pria itu mengatakannya setengah bergumam.
"Tidak, tidak ada. Aku bilang kita hampir sampai." elak Jonah, pipi pria itu memanas.
Tak lama setelahnya, mobil mereka memasuki halaman parkir sebuah hotel berbintang. Puluhan mobil nampak memenuhi halaman parkir.
Jonah memarkir mobilnya, lalu keluar dan diikuti oleh Ally. Gadis itu berdiri mematung di sampingnya. "Apa yang harus kulakukan nanti di dalam sana?" tanyanya risau.
__ADS_1
"Normal saja. Jangan tengang, bersikap ramah saja."
"Tapi bagaimana ji—"
"Aku akan ada di sampingmu, tenanglah." Jonah meyakinkan.
Ally menghela napas lalu mengangguk mantap. "Baiklah, Ally. Tenang saja, mereka tidak menggigit." ucapnya pada diri sendiri.
"Eoh, mereka tidak menggigit kan?" tanya nya cepat pada Jonah.
Pria itu tertawa kecil. "Tidak akan ada yang berani menggigit selama kau ada di sampingku. Tidak akan ada yang berani." yakinnya lagi.
Ally tertawa halus mendengarnya. Hal itu mampu membuatnya perlahan menghilangkan kegugupan yang kini melandanya.
"Baiklah, mari masuk." ajak Jonah sambil menyodorkan lengan kirinya pada Ally.
"Ya, untuk apa?!"
"Tentu saja untuk di gandeng. Apa kata orang-orang nanti ketika melihat pasangan tanpa bergandeng." desis Jonah.
"Ya, kalau begitu nanti saja bergandeng saat di dalam." cicit Ally.
Pria itu mendengus sembari merapikan tuxedo-nya. Jonah berjalan lebih dulu lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu parkir valet yang ada.
"Pestanya di lantai dua." kata Jonah menuntun Ally mengikutinya memasuki salah satu lift untuk menuju lantai pesta itu. Setelah pintu lift terbuka, Jonah kembali memberikan lengannya untuk Ally. "Mulai dari sini harus bergandeng." tuturnya.
Ally meraih lalu memegang lengan itu agak malas. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah pintu yang ada penjaganya, Jonah memperlihatkan ponselnya pada kedua penjaga pintu itu, lantas membuka dan mempersilahkan pasangan itu masuk.
__ADS_1