Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Kecupan Hangat di Pagi Hari


__ADS_3

Setelah pulang dari pesta ulang tahun Yohan, Jonah segera membungkus tubuh dalam selimut. Pria itu bahkan tak mengganti pakaiannya. Ally hanya memutar bola mata malas tanpa ada niat untuk menegurnya.


Pagi-pagi sekali ini, Jonah tengah mengguncang-guncang tubuh Ally agar wanita itu terbangun dari tidur lelapnya.


"Hey, tukang tidur! Ayo bangun! aku hampir terlambat!"


Ally menggeliat sambil mengeram halus. Wanita itu mengerjapkan matanya berkali-kali. "Ck, kenapa kau ini!?"


"Aku akan masuk kerja kembali pada hari ini. Bantu aku bersiap-siap!" ujar Jonah.


"Memangnya kau ini anak kecil berumur lima tahun, huh? apakah kau memintaku untuk memandikanmu atau memakaikan pakaianmu?!"


"Bodoh. Siapkan sarapanku!" bentak Jonah.


"Ya! kau yang bodoh! siapkan sarapanmu sendiri saja sana! sudah menyuruh, mengataiku pula!" marah Ally.


"Dasar Istri durhaka!" cela Jonah.


"Kau suami yang tak tahu diri!" balas Ally.


"Bangun dan siapkan sarapan! atau aku akan menyeretmu ke dapur!" ancam Jonah.


"Ya! lakukan saja. Maka aku akan menuntutmu dan kau akan dihukum atas kekerasan dalam rumah tangga!" Ally mengancam balik.


"Kau ini masih pagi saja sudah membuatku darah tinggi!" kesal Jonah.


"Memangnya aku yang memulai?! jika kau memintanya secara baik-baik maka aku juga akan menghargaimu!" sengit Ally.


Jonah mendengus kesal. "Ck, baiklah. Ally, Sayang, tolong siapkan sarapan untukku, karena aku akan pergi bekerja." Jonah mengatakannya dengan nada yang dilebih-lebihkan.


Ally tersenyum sinis. "Nah, begitu kan lebih baik. Lain kali tak perlu memanggilku sayang, aku tak suka kepura-puraan." Ally segera bangkit dari tempat tidur lalu melangkah menuju toilet pribadi didalam kamar tersebut untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Barulah setelahnya ia pergi ke dapur.

__ADS_1


Setelah selesai menyiapkan makanan, Jonah segera menyantapnya. Tak butuh waktu lama bagi Jonah untuk melahap habis sepiring nasi goreng buatan Ally. Selain lapar, hal lain yang membuat Jonah semangat memakannya adalah rasanya yang begitu enak. Ally memang pandai memasak.


"Aku selesai." ucap Jonah pada Ally yang tengah mencuci peralatan memasak.


"Bawa piring dan gelasnya kemari." seru Ally.


Jonah segera berdiri dari duduknya lalu memberi piring bekas ia makan tadi pada Ally. Pria itu masih menenteng gelas yang berisi cairan berawarna putih setengahnya. "Biar kuhabisi dulu susunya." kata Jonah.


Ally hanya mendengus.


"Agak lucu kurasa jika kau selalu menyiapkanku sarapan dengan segelas susu." tutur Jonah.


"Memangnya kenapa? susu kan sehat."


"Yah, memang menyehatkan. Tapi sepertinya kurang cocok untuk pria dewasa sepertiku." opini pria jangkung itu.


"Pria dewasa?" Ally terkikik. "Pria dewasa apanya? kelakuanmu saja masih seperti anak kecil, tak tahu malu."


"Yah, terserah katamu. Aku malas berdebat," sahut Jonah. "Tapi, omong-omong, ini jenis susu apa?" Pria itu menegak habis isi gelas ditangannya.


"Yah, siapa tahu jika ini adalah susumu." ucap Jonah santai.


"Jaga bicaramu! dasar otak mesum." Ally menatap Jonah tajam.


"Kenapa kau marah? aku bahkan ingin memuji. Aku suka rasa susu ini. Aku hanya ingin bilang, jika ini memang susumu, lebih baik jangan disajikan dalam gelas, aku lebih suka meminum dari sumbernya langsung." kata Jonah tersenyum miring menatap dada Ally.


"Dasar mesum! pergi sekarang sana!" Ally mendorong tubuh agar pria itu menjauh.


Jonah hanya tertawa terbahak melihat reaksi Ally. "Baiklah, aku hanya bercanda. Tapi reaksimu sungguh berlebihan, pipimu sangat merah."


Ally yang salah tingkah langsung memegang kedua pipinya. Ia terpekik saat menyadari tangannya masih basah akibat busa sabun cuci piring. "Ya, Jonah! awas kau!"

__ADS_1


"Baiklah," pria itu masih sedikit tertawa. "Aku pulang bekerja setiap jam 5 sore, jika lembur aku akan memberitahumu. Ingat, saat aku pulang aku ingin kau sudah menyiapkan air hangat untukku berendam." jelas Jonah.


Ally mengernyit masam, wanita itu membuka mulut ingin protes tapi Jonah segera menyelanya. " Tak ada bantahan! aku yang berkuasa disini." mata pria itu menyirat tajam.


Ally mendengus. "Huh!"


"Yang kedua, saat aku lembur, maka kau tidak boleh menolak jika aku minta untuk dipijitkan sepulang kerja."


"Hey—"


"Tak ada bantahan! itu tugas wajar bagi seorang istri! hargai aku yang mencari nafkah!" sambar Jonah tak membiarkan gadis itu berpendapat.


"Hahh... baiklah." ucap Ally malas.


"Sebenarnya masih ada lagi peraturan yang ingin ku sampaikan, tapi nanti saja, aku harus berangkat sekarang. Apa kau ingin kucium dikening sebelum aku pergi?" tanya Jonah.


Ally tertawa sinis. "Tidak butuh."


"Kemarilah." perintah pria berjas itu.


"Untuk apa?"


"Untuk mencium keningmu. Kau pikir bibirku ini bisa memanjang?"


"Sudah kubilang aku tidak butuh kecupanmu."


"Ally," Jonah menatapnya tajam. "Kemari." nada bicaranya datar tapi Ally merasa terintimidasi, hal itu sukses menuntun wanita yang baru saja memcuci tangan itu berjalan mendekat ke arah pria yang memerintahnya.


Jonah segera meraih kedua pundak Ally saat wanita itu sampai dihadapannya, menatap wajah gadis itu sebentar lalu segera mendaratkan bibirnya pada dahi Ally.


Cukup lama ia dengan posisi bibir yang menempel pada kening Ally, gadis itu juga hanya diam tanpa protes karena terlalu lama. Setelah puas, Jonah menjauhkan wajahnya dari wajah Ally, lalu menatap wajah cantik istrinya itu.

__ADS_1


"Aku suka jika kau menjadi penurut. Bersikaplah lebih manis lagi." ucap Jonah.


Ally menarik salah satu sudut bibirnya. "Sikapku tergantung sikapmu padaku."


__ADS_2