Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
S.2 Masakan Bulan


__ADS_3

Sore harinya, Rey sudah siap dengan pekerjaannya. Ia lupa bahwa ia ada janji dengan Ruby di hotel. Rey pun langsung pulang tanpa mengingat janjinya dengan Ruby.


Sesampainya Rey di rumah, Bulan terlihat sedang menunggu Rey di meja makan.


"Udah pulang kak?" tanya Bulan langsung menghampiri Rey dan membawakan tas Rey.


"Yuk makan dulu. Udah aku siapin di meja. Aku gak tau makanan kesukaan kakak jadi aku masak yang sering kakak makan aja. Ada cumi kecap dan sup ayam!" ucap Bulan. Mendengar kata Cumi kecap, perut Rey pun berbunyi.


Hey perut apa kau tidak mau berkompromi dengan ku? batin Rey. Bulan pun terkekeh pelan mendengar suara perut Rey.


"Lapar tu perutnya. Makan aja dulu!" ucap Bulan. Sebenarnya Bulan sudah lebih dulu menanyakan makanan kesukaan Rey kepada Mita.


Rey pun duduk di meja makan dan Bulan pun meletakkan tas kerja Rey di kamar dan kembali secepatnya.


Bulan menyendokkan nasi dan meletakkan cumi serta supnya di piring Rey. Rey menelan ludahnya melihat makanan di piringnya. Dua makanan kesukaannnya.


Dengan cepat Rey pun makan. Baru satu suap saja Rey sudah mebelalakkan matanya.


Enak sekali. Bahkan lebih enak dari masakan bunda! batin Rey.


"Gimana?" tanya Bulan. Rey pun menjadi salah tingkah.


"Emm, lumayan lah!" ucap Rey. Begitu lah Rey, lain di mulut lain di hati.


"Oh oke. Besok pagi mau sarapan apa? nanti aku buatkan!" ucap Bulan.


"Bukannya kau besok kerja di rumah sakit?" tanya Rey.


"Tidak, makanya aku akan memasakkan mu sarapan pagi!" ucap Bulan. "Boleh aku membangunkan mu saat azan subuh?" tanya Bulan.


"Aku bisa bangun sendiri!" ucap Rey.


"O-oke" jawab Bulan. Mereka pun lanjut makan.


Rencana kedua berhasil. Besok rencana ketiga adalah mengantarkannya makan siang! batin Bulan


•••


"Makan mu lahap juga ya!" ucap Risa.


"Iya dong kamu yang nyuapin!" jawab Galang tersenyum.


"Ekhm, maaf ganggu!" ucap Vano.


"Eh Vano, Stella ayo masuk!" ucap Risa. "Wah ada Vina dan kak Revan juga!" lanjut Risa.


Mereka pun masuk.


"Gimana keadaan lu Lang?" tanya Vano.


"Udah mendingan Van!" jawab Galang.


"Ekhm, Pajak jadiannya gak di setor?" tanya Stella.


"Apaan sih Stel." ucap Risa.


"Nanti kalau gua udah sehat gua traktir kalian!" ucap Galang.

__ADS_1


"Bener ya! Kalau boong awas aja!" ucap Vina.


"Trus pajak jadian kamu sama Kak Revan kapan?" tanya Stella.


"Hah?" tanya Revan bingung.


"Hehe, Stella hanya asal bilang aja kok kak jangan di masukin ke ginjal!" ucap Vina.


"Hati!" ucap mereka semua serentak.


"Ya maksudnya itu!" ucap Vina. Revan pun mengangkat bahunya seolah tidak perduli.


"Assalamualaikum, cowo ganteng datang ni!" ucap Elang.


"Wih lu datang ma kulkas kaga?" tanya Vano.


"Iya dong!" jawab Elang. Elang dan Leon pun masuk. Saat masuk, mata Leon sudah menatap Revan dengan tatapan sinis. Revan yang tidak perduli pun hanya diam saja.


"Hi kak Leon!" ucap Vina.


"Hm" jawab Leon. "Gimana keadaan mu?" tanya Leon kepada Galang.


"Jauh lebih baik!" jawab Galang


"Jaga Risa jangan sampai dia menangis atau kau tau akibatnya!" ucap Leon. Galang pun menelan ludahnya melihat nada bicara dan tatapan Leon yang menurutnya menyeramkan.


"Aku janji!" jawab Galang. Leon pun mengangguk.


"Ikut aku!" ucap Leon kepada Vina.


"Ikut aku!" ulang Leon. Vina pun mengikuti Leon sampai keluar dari rumah sakit. Revan yang kepo pun permisi ke toilet kepada Galang dan yang lainnya. Sedangkan Vano dan Elang yang memiliki jiwa ke kepoan tingkat tinggi mengikuti Vina dan Leon.


"Ada apa kak?" tanya Vina


"Kau pacaran dengan Revan?" tanya Leon.


"Tidak. Kenapa?" tanya Vina.


"Jauhi semua anggota keluarga Arlata. Mereka licik!" ucap Leon.


"Masa? Kak Revan baik kok!" ucap Vina.


"Kau itu anak kecil. Kau tau apa?" tanya Leon mulai kesal.


"Aku tau kak. Kami sering bertemu. Aku cukup tau sifat Kak Revan!" ucap Vina.


"Kau tau apa tentang keluarga Arlata. Kau hanya anak kecil!" ucap Leon


"Aku sudah besar. Umur ku 21 tahun!" ucap Vina


"Aku tau, tapi apa kau tau kebusukan keluarga Arlata?!" tanya Leon.


"Tidak semua keluarga Arlata memiliki sifat seperti itu Leon Alandra Gerdion!" ucap Revan datang dari balik semak-semak. Vano dan Elang pun terkejut Revan datang dari belakang semak-semak.


"Sepertinya dia juga menguping!" ucap Vano.


"Kau benar!" jawab Elang.

__ADS_1


Plok.. Plok.. Plok..


Tepukan tangan Leon terdengar.


"Bagus sekali Revan Athala Arlata. Kau sudah melaksanakan rencana mu dengan mulus!" ucap Leon tersenyum sinis.


"Apa hak mu menuduh keluargaku seperti itu!" ucap Revan.


"1. Ayah mu terlibat korupsi. 2. Ayah mu yang menculik tante Mita dua kali dan melakukan penyerangan di keluarga Anggara dan Gerdion. 3. Ayahmu sangat licik, jadi sudah di pastikan kau pun akan sama liciknya dengan ayah mu!" ucap Leon.


Kenapa mereka jadi bertengkar? batin Vina.


"Itu semua yang di lakukan oleh Kevin! bukan Aku!" ucap Revan.


"Dia ayah mu!" jawab Leon


"Dia bukan ayahku!" jawab Revan


"Jadi kau anak haram?" tanya Leon. Vina, Elang dan Vano terkejut. Sedangkan Revan sudah mencoba memendam amarahnya.


"Kau laki-laki tapi kenapa ucapan mu sangat pedas!" ucap Revan.


"Karna itu kenyataannya!" ucap Leon.


"Mati saja kau!" ucap Revan sambil memukul bibir Leon. Vina pun langsung terkejut dengan apa yang dilakukan Revan.


Vano dan Elang keluar dari persembunyiannya dan berusaha menghentikan Leon dan Revan yang saling membalas.


"Udah woi udah!" ucap Elang.


"Aelah lu berdua kaga bisa diam hah?" ucap Vano.


"Atas dasar apa kau ngehina keluarga ku!" ucap Revan dengan sorot mata penuh amarah.


"Karna keluarga mu hampir menghancurkan keluarga Gerdion. Apa kau tidak tau hal itu Hah!" ucap Leon.


"Udah woi Astagfirullah!" ucap Elang. Tapi Revan dan Leon tidak menghiraukannya mereka tetap saling menyerang walau Vano dan Elang sudah menghalangi dan memegang mereka berdua.


"CUKUP!" teriak Vina. Mereka berempat pun terdiam.


"Apa kalian tidak tau bagaimana kondisi ku yang berada di tengah kalian? Kenapa kalian egois?!" ucao Vina langsung berlari masuk kedalam rumah sakit. Leon dan Revan langsung mengejar Vina.


•••Bersambung...


Wah Revan dan Leon ada dendam tersendiri rupanya. Pantas dari awal mereka ketemu diam-diam aja, rupanya ada masalah toh!


Jangan lupa dukung author terus yaa biar author makin semangat 😆


Makasih juga buat para readers, author baru kali ini masuk rank 80 besar. Makasih yaa 😆


Ya allah senangnya bukan kebayang 😆




makasih ya, jangan lupa votenya lagi. Nanti kalau ranknya naik author crazy up 😆

__ADS_1


__ADS_2