Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Terima Kasih


__ADS_3

Ally berlari kecil saat mendengar bunyi bel, ia yakin itu Jonah yang sudah pulang. Jari lentiknya memutar kunci segera dan membuka pintu.


"Tadaa!" Ally sedikit terperanjat ketika Jonah tiba-tiba saja mengangkat sebuah kandang kecil tepat ke hadapan wajahnya.


Tatkala mata gadis itu berbinar seketika begitu melihat apa yang ada di dalam kandang itu. Seekor kucing.


Jonah segera masuk ke dalam, Ally mengikutinya dan mendekatinya antusias. Ia mendaratkan pantatnya di sofa dan meletakkan kandang besi itu di atas meja.


"Ah, lucu sekali," cicit Ally gemas. "cepat keluarkan dia."


Dengan menurut Jonah membuka kunci kandang itu dan mengeluarkan kucing jenis Ragamuffin yang berbulu abu-abu dominan putih itu. Kucing itu lantas melompat keluar dengan ngeongan khasnya.


Gadis yang daritadi semangat itu langsung membelai kucing itu. "Sayang, bulumu lembut sekali." Ally mengangkat kucing itu dan menaruhnya dalam gendongan.


"Darimana kau dapatkan dia?" tanya Ally pada pria yang daritadi memperhatikannya.


"Aku mengadopsinya dari toko hewan peliharaan."


"Tapi kenapa tiba-tiba ingin memelihara kucing?" tanya Ally tanpa menoleh.


"Entahlah. Tadi waktu lewat di depan tokonya tiba-tiba saja terpikir ingin memelihara seekor."


"Pilihan yang tepat. Aku jadi punya teman." Ally menciumi puncak kepala kucing itu secara brutal.


"Ya kalau begitu ucapkan terima kasih padaku."


"Terima kasih." respon Ally tanpa menoleh, dirinya terlalu sibuk memperhatikan kucing jenis Ragamuffin itu.


"Cara berterimakasih macam apa itu? tidak ada keikhlasan di dalamnya."


"Astaga, aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh." cerca Ally.


Jonah mendengus jengah, tanpa peringatan pria yang duduk di sofa itu langsung menarik Ally yang sejak tadi duduk di lantai, membuat gadis yang sedang memangku kucing itu terperanjat ketika tiba-tiba saja ia sudah mendarat di atas tubuh Jonah. Kedua lengan kekar itu mengunci pinggang Ally, sehingga gadis itu tak bisa kemana-mana.

__ADS_1


"J-jonah apa-apaan kau? le-lepaskan." Gadis itu menjaga jaraknya dengan menumpukan kedua tangan. Ally memberontak, tapi pria di bawahnya malah mempererat pelukannya.


"Aku harus mengajarimu cara berterimakasih yang benar."


"Baiklah, aku akan me—"


"Ssttt." Jonah menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ally. Menatapnya nyalang sesaat, lalu menunjuk bibirnya sendiri.


Ally paham maksudnya, gadis itu menggeleng cepat.


"Cepat sampaikan rasa terimakasihmu."


"Tidak, jangan begitu caranya." protes Ally.


Pria itu langsung menekan tubuh Ally hingga kini tubuh gadis itu menempel sempurna di atasnya.


"Lepaskan, aku tidak bisa napas." Ally berusaha bangun, tapi kuncian tangan Jonah di punggungnya terlalu kuat.


"Cium dulu baru aku lepas." seringai Jonah.


Ah, sial. Ally menjadi semakin malu.


Merasa diabaikan, Jonah meraih rahang Ally lalu memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Cium aku baru ku lepaskan, kecuali jika kau suka posisi kita seperti ini."


Kulit wajah Ally yang putih sangat kontas jika pipinya mulai memerah, hal itu menjadi terlalu jelas. Jonah tersenyum miring.


Gadis itu tak juga mulai bergerak. Jonah merasa gerah. "Jadi kau memilih kita diam dengan posisi seperti ini? baiklah. Sampai pagi pun jika kau tak menciumku, aku takkan melepasmu."


Cup!


Ally menempelkan bibirnya pada bibir Jonah secepat kilat. "Sudah, sekarang lepaskan aku." ucapnya.


"Hey, mana ada ciuman yang seperti itu?!" Jonah protes dan semakin mempererat pelukannya pada punggung Ally.

__ADS_1


"Lalu yang seperti apa lagi?!"


"Dilumat! kau paham?" ucap Jonah menekan.


Ally diam sesaat. Ia malu, sangat malu. Pipinya sudah memanas sedari tadi.


"Baiklah, kau lakukan saja. Aku akan menutup mataku." Pria itu memejamkan matanya sambil kembali mempererat pelukannya.


Hal yang Ally khawatirkan lainnya adalah perihal detak jantung. Ally yakin pria itu mengetahui detak jantungnya yang saat ini tengah berpacu dua kali lebih cepat. Demi apapun.


"Aku menunggu." sela Jonah yang masih menutup mata.


Baiklah, Ally menghela napas guna menenangkan dirinya. Cium Jonah, lalu selesai. Baiklah, hanya cium sebentar dan kau akan bebas, gumamnya dalam hati.


Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Jonah, pria itu menyeringai tipis saat hidung Ally bersentuhan dengan hidungnya.


Ally mulai menempelkan bibirnya, untuk beberapa saat belum ada pergerakan yang ia lalukan. Bibir keduanya hanya saling menempel.


Jonah mempererat dekapannya lagi sebagai teguran untuk Ally. Gadis itu memberanikan diri untuk mulai menggerakkan bibirnya, pria yang di cium itu dengan antusias merespon. Ally menutup matanya saat Jonah membuka mata. Kini pria itu mendominasi, menghabisi bibir Ally sembari mengusap punggung gadis itu.


Napas keduanya memburu, Ally tanpa sadar mulai meremas rambut Jonah dan melenguh halus. Pria itu benar-benar melahap habis bibir Ally. Jonah bangkit dan mengubah posisi mereka, kali ini Ally di bawah. Jonah kembali menyerang bibir yang membuatnya candu itu. Sedangkan Ally kini menatap was-was ke arah kucing yang dari tadi terus mengeong.


Konyol memang jika Ally malu di cium di hadapan seekor kucing.


"Jo-Jonah, sudah cukup." ucapnya disela-sela serangan Jonah.


"Belum puas." sahut pria itu cepat dan dan kembali fokus pada bibir Ally.


Ally mendorong bahu Jonah, agar pria itu melepas ciumannya. "Sebaiknya kau beri makan dulu kucing itu, sepertinya dia lapar." kata Ally beralasan.


"Dia bisa menunggu, tapi aku tidak." Pria itu kembali berniat mencium Ally, tapi gadis itu lebih dulu menahannya. "Kau sangat bau, bau keringat. Aku tak tahan menciumnya." Jonah memang berkeringat tapi tidak bau, itu semua hanyalah alasan Ally semata.


Jonah yang merasa tersinggung mencoba membaui tubuhnya sendiri, jas kantor yang masih ia kenakan membuatnya percaya mungkin Ally berkata benar. Tak apa baginya, yang penting gadis itu sudah berterimakasih dengan benar.

__ADS_1


Pria itu bangkit, akhirnya Ally bebas. Jonah menatap Ally nyalang dan tersenyum miring. "Sama-sama." gumamnya sebagai balasan dari "terima kasih" Ally.


__ADS_2