Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Merepotkan!


__ADS_3

"Halo? ada apa?" ucap Jonah setelah tombol hijau dilayar ponsel ia tekan.


"Mobilku mogok. Aku sedang di luar, tolong jemput aku." sahut Robin disambungan telepon itu.


"Ya, kau pikir aku ini siapa, huh?"


"Jonah, aku tak ingin berdebat sekarang. Tolong cepat kemari antarkan aku pulang. Akan ku kirim lokasiku saat ini lewat pesan singkat."


"Kenapa kau tak memesan taksi saja?"


"Susah untuk mendapatkan taksi saat hujan seperti ini."


Jonah terjenak sesaat. "Baiklah, kirim lokasimu dan tunggu saja. Huh, dasar merepotkan." Pria itu lantas memutus sambungan komunikasi itu.


Biar bagaimanapun Robin adalah sahabatnya. Sekesal apapun dia terhadap Robin, takkan mungkin bisa Jonah mengabaikan pria yang banyak berjasa padanya itu.


Notif pesan masuk muncul dilayar ponselnya, dengan cepat Jonah segera mengambil sebuah jaket di dalam lemari lalu segera keluar kamar dan mengambil kunci mobil di atas meja ruang tamu.


"Mau kemana kau hujan-hujan begini?" celetuk Ally saat melihat Jonah mengambil kunci mobil.


"Aku ada urusan."


"Urusan apa malam-malam begini?"


Jonah menarik alisnya naik. "Kau peduli?"


"Tidak. Hanya ingin tahu saja."


"Itu artinya kau peduli." tutur Jonah.


"Ck, baiklah. Tidak jadi bertanya." Ally memutar matanya malas.


Jonah tertawa kecil. "Aku harus menjemput Robin."


"Robin?" Ally mengerutkan kening. "Gadis kecilmu yang waktu itu?"

__ADS_1


Jonah berdecak sebal. "Robin itu pria dewasa, bukan gadis kecil."


"Tapi waktu itu kau bilang ia adalah gadis kecilmu." ingat Ally sambil tersenyum mengejek.


Jonah mendengus jengah. "Aku pergi sekarang." ucapnya malas sembari berjalan keluar.


***


Jonah menepikan mobilnya di depan sebuah klub malam, lokasi yang dikirim oleh Robin. Lantas ia menelpon pria itu untuk memberitahu bahwa ia sudah sampai. Dan tak berselang lama, Robin keluar dari tempat itu sambil berlari menerjang hujan untuk sampai di mobil Jonah.


"Sebaiknya kau ganti mobil juga. Jangan wanita saja yang selalu ganti-ganti." sindir Jonah saat Robin membuka pintu mobil.


Pria yang disindir itu hanya menyengir. "Ya, ayo jalan." ujarnya segera memasang sabuk pengaman.


"Kau bertingkah seakan-akan aku ini sopirmu saja. Itu menjengkelkan."


Robin tertawa menanggapinya. "Kau ini sensitif sekali. Lebih baik kau segera menjalankan mobil."


Setuju dengan Robin, Jonah segala menjalankan mobilnya menembus hujan. Sedikit bercengkerama seadanya dengan pria yang sibuk memainkan ponsel disampingnya itu.


Hingga saat Jonah ingin membelokkan mobilnya ke arah kanan, jalan menuju rumah Robin, pria yang menumpang itu segera menegurnya.


Jonah segera menoleh. "Kau pindah rumah?"


Robin menghela panjang. "Lurus saja pokoknya. Nanti aku arahkan jalannya."


"Ya, kau ini mau kemana?"


"Lurus saja." sahutnya singkat sambil kembali sibuk dengan benda pipih ditangannya.


Menyerah, akhirnya Jonah kembali meluruskan arah mobilnya yang sempat ingin berbelok. Terus menyusuri jalan raya yang lengang akibat dituruni hujan.


"Belok kiri." sela Robin.


Jonah segera menuruti perintah tersebut tanpa keluhan. Karena saat ini ia sedang rileks menyetir sambil mendengarkan musik yang diputar.

__ADS_1


"Sampai depan belok kiri lagi." sela Robin.


Jonah mengangguk santai dengan alunan musiknya dan mengikuti arahan Robin untuk tak seberapa lama hingga ia ketika ia tiba-tiba tersadar akan suatu hal, pria itu dengan cepat menginjak pedal rem.


Mobil mendadak terhenti, Robin disampingnya menjerit kaget.


"Ya, bodoh! kenapa tiba-tiba berhenti? ini berbahaya! kau mau membunuhku, ya?!" Robin melotot ke arah Jonah.


"Mengakulah! kau menjebakku, ya?" sela Jonah ikut melotot.


"Apanya?!"


"Aku tahu jalan ini. Ini jalan menuju apartemen Jessie. Kau menjebakku, hah?!" sengit Jonah dengan nada tinggi.


"Ini memang benar menuju apartemen wanita itu tapi—"


"Ya! turun sekarang kau!" potong Jonah.


"Hey?! dengarkan dulu! Wanita itu tidak ada di sana!" Robin berusaha menjelaskan.


"Omong kosong! bilang saja bahwa kau ingin—"


"Ya! wanita itu sekarang masih ada di rumahku! jadi kami bertukar rumah sementara! ini semua akibatmu karena tak mau menjemputnya, makanya wanita itu kini berada dirumahku dan tidak mau pergi!" cerosos Robin bagaikan seorang rapper.


"Serius?" Jonah menyipitkan matanya menatap tajam Robin.


"Dua rius malahan!"


"Demi apa?" Jonah mempertajam tatapannya.


"Demi Neptunus!"


"Apa itu Neptunus?" sela Jonah cepat.


"Tidak tahu." sahut Robin polos.

__ADS_1


Jonah menatapnya kesal. "Baiklah, aku percaya. Jika tertanya kau berbohong dan aku bertemu Jessie, kau akan dapat pelajaran!" ancamnya.


"Ya, kau bisa pegang ucapanku." Robin meyakinkannya.


__ADS_2