Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Big Baby


__ADS_3

Sedari tadi Ally hanya duduk tertegun di sofa. Siaran tv jadi tak menarik baginya, bahkan Lucy yang sedari tadi bermanja di kakinya seakan mengajaknya bermainpun menjadi terabaikan.


Ally memikirkan kejadian tadi sore, perihal Jonah yang membentaknya hanya karena masalah sepele hingga membuatnya menangis. Namun sebenarnya yang Ally rasakan sekarang lebih cenderung ke perasaan cemas. Jauh dalam lubuk hatinya, ia menantikan kepulangan pria itu. Hujan lebat sudah reda, hanya tersisa gerimis dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih, tapi tak ada tanda-tanda pria itu akan pulang.


Ally menghela napas panjang, ia memutuskan untuk tidur daripada menunggu sesuatu yang tak pasti. Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar tidur. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari pintu


Ally langsung berlari kearah pintu dan segera membukanya. Di depan pintu berdiri seorang pria yang tak ia kenal tengah memapah Jonah, kedua pria itu basah kuyup.


"Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi?!" tanya Ally terkejut.


"Sebaiknya bawa dia masuk dulu." lirih pria yang tak lain adalah Robin. Ally segera mempersilahkan pria itu masuk, Robin segera menghempaskan Jonah ke sofa terdekat tanpa ragu.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Ally lagi. "Apa dia baik-baik saja?"


"Tenanglah. Ia hanya mabuk berat lalu kami kehujanan, makanya basah kuyup." jelas Robin menenangkan.


Ally menghela napas. "Skuyurlah. Kalau begitu terimakasih sudah mengantarnya pulang."


"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu." pamit Robin, dibalasi dengan anggukan Ally.


"Hey!! jangan pergi, kau bisa menginap disini!" teriak Jonah yang membuat Robin dan Ally kaget bukan main.

__ADS_1


"Ah, jika mabuk berat dia jadi agak aneh. Maklumi itu." ucap Robin sebelum akhirnya ia benar benar pergi.


Ally berjalan ke arah pintu untuk menguncinya lalu kembali ke sofa di mana Jonah berbaring, rembesan air menetes dari bajunya yang basah.


"Yaa... apa yang kau lakukan, huh?Jika tak kuat minum jangan minum. Kau menyusahkan banyak orang." omel Ally pada pria yang terbaring lemah di sofa itu.


"Wah, kau memperdulikanku? ahaha...," tawanya tanpa tenaga. "Padahal kau yang membuatku minum. Kau semobil dengan pria lain, saat mengetahuinya rasanya disini sakit." Jonah menepuk dadanya sendiri. "Rasanya aku sedih tapi juga marah saat itu, rasanya sungguh aneh," tutur Jonah tanpa membuka matanya.


Ally tertegun sejenak mendengar ucapan pria yang tengah dalam pengaruh alkohol tersebut.


"Ya! kau takkan meninggalkanku dan pergi menikahinya, kan?! jangan menikahinya!" jerit Robin sambil menunjuk Ally dengan telunjuknya.


"Astaga, kau ini benar-benar..." desis Ally jengkel. Mau tak mau selanjutnya ia harus mengganti baju Jonah agar pria itu tak masuk angin. Ally ke kamar mandi lalu kembali dengan membawa handuk milik Jonah, ia kemudian menggosok rambut Jonah dengan handuk itu untuk mengeringkannya.


Dengan perasaan ragu, gadis itu perlahan melepaskan dasi dan jas kantor Jonah yang belum diganti seharian, lalu juga perlahan membuka satu persatu kancing kemeja yang Jonah kenakan untuk melepasnya. Ally sempat melirik wajah Jonah, ia bersyukur karena sepertinya pria itu mulai kehilangan kesaradan. Dengan pelan ia melepaskan penutup terakhir tubuh bagian atas Jonah itu. Ally berusaha tenang meskipun tangannya bergetar, khawatir jikalau Jonah tiba-tiba sadar meskipun hal itu terdengar mustahil.


Setelah berhasil melepaskan kemeja itu dengan susah payah, Ally menghela napas sebentar untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Gadis itu memutuskan untuk mengambil baju ganti terlebih dahulu ke kamar, dengan kondisi seperti ini Ally memilih untuk mengambil jubah tidur Jonah saja agat lebih mudah memakaikannya.


Ally kembali lagi ke hadapan Jonah. Ia diam sejenak untuk mengosongkan pikiran agar tak kemana-mana serta menarik napas dalam berkali-kali.


"Baiklah, Ally. Ini hanya sebentar pokoknya apapun yang kau lihat nanti jangan pernah menganggapnya ada." ucapnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Dengan tangan yang lebih bergetar daripada sebelumnya ia mulai bergerak membuka ikat pinggang Jonah dengan terus mengawasi pria itu untuk memastikannya tidak terbangun.


Ikat pinggang itupun terlepas, kini giliran celana. Ally bergerak perlahan membuka resleting dan perlahan menurunkan celana itu dengan jantung yang berdebar. Kini apa yang ada ditubuh Jonah hanya tersisa boxer dan celana dalam pastinya. Butuh berkali-kali bagi Ally untuk menghela napas, jantung sialannya itu berdetak sangat kencang hingga rasanya bagai ingin melompat keluar.


"Baiklah, lakukan ini dengan cepat, Ally." serunya pada diri sendiri. Tak ingin mendaramatisir, Ally segera menarik turun boxer itu hingga yang tersisa hanya celana dalam.


Ally mematung sesaat. Ia menenangkan pikirannya terlebih dulu dengan lagi-lagi menghela napas. Keringat menetes melalui keningnya.


Ally memegang sisi kanan dan kiri celana yang tersisa itu, lalu dengan satu tarikan ia berhasil melepaskannya. Gadis itu menoleh ke arah lain tak mau ke arah Jonah sama sekali. Ia lega sesaat, tapi gugup kembali menyelimutinya lagi kala ia sadar bahwa ia harus memakaikan kembali pakaian untuk Jonah.


Ia meraih boxer yang baru diatas meja lalu memasangkannya dengan cepat pada Jonah. Ia sempat terkesiap karena melihat 'sesuatu'. "Aku tidak lihat apa-apa. Aku tidak lihat apa-apa." doktrinnya pada diri sendiri sambil memasang boxer itu. Ally meneguk ludah, Ia sengaja langsung memakaikan boxer karena mudah dipasang.


Gadis itu lege selega-leganya ketika berhasil memasangkannya walau kini pipinya terasa memanas karena memerah. Ally mengelap keringat dikeningnya sambil sedikit terkikik karena lucu baginya, bagaikan mengganti pakaian seorang bayi, tapi yang ini bayi besar.


Ally akhirnya selesai memasangkan Jonah jubah tidur yang hanya bertali di pinggang. Langkah selanjutnya adalah ia harus membawa bayi besar itu ke kamar. Ia mengambil tangan Jonah untuk di letakkan di pundaknya lalu perlahan berdiri.


"Ughh... berat sekali..." Ally kewalahan saat badan besar pria itu bertumpu sepenuhnya pada badan mungilnya. Dengan susah payah ia berjalan pelan sembari membopong tubuh Jonah yang berbau alkohol. "Astaga, seberapa banyak kau minum..." lirih Ally ketika indra penciumannya menangkap aroma yang sangat kuat tersebut.


Akhirnya dengan susah payah ia berhasil merebahkan Jonah ke atas kasur. Ia memperbaiki posisi tubuh Jonah lalu menyelimutinya dengan rapi. Ally lalu kembali ke ruang tengah untuk mengambil baju kotor Jonah untuk di letakkan ke dalam mesin cuci, serta mengepel lantai yang basah akibat rembesan air hujan dari baju tersebut. Setelahnya ia ke dapur untuk membuat segelas susu, baru akhirnya ia kembali ke kamar.


Saat kembali, ia melihat Jonah kini sudah merubah posisi tidurnya. Ia lalu bergabung ke atas tempat tidur dan membetulkan posisi Jonah agar tegak lurus telentang. Gadis itu turut bergabung masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Jonah meskipun bau alkohol itu masih kuat. Tak apa pikirnya, daripada ia tak bisa tidur karena tidak memeluk sesuatu.

__ADS_1


Perlahan Ally mulai terlelap.


Tanpa ia sadari, ia melakukan sedikit kesalahan.


__ADS_2