
Mobil Jonah kini sudah memasuki kawasan rumah Ally dan akhirnya dengan tepat terparkir di pekarangan rumah Ally. Keduanya lalu turun dari mobil dan memasuki rumah yang pintunya tidak di kunci.
Diva sedikit terkejut melihat kedatangan keduanya karena kepulangannya lebih awal daripada yang mereka katakan sebelumnya.
"Ada sedikit masalah di acara reuni. Jadi acara di hentikan. " jelas Ally sambil melirik Jonah.
"Oh, begitu rupanya." pertanyaan Diva terjawab sudah.
"Tadi Bibimu datang kemari bersama Lily. Besok ada teman Lily yang berulang tahun, dia ingin ditemani olehmu ke acara ulang tahun tersebut. Aku sudah bilang bahwa kau akan menemaninya." Diva memberitahu.
"Baiklah, akan ku temani." tanggap Ally dengan senyumannya.
"Kalau begitu apa kalian masih lapar?"
"Tidak, Bu. Kami sudah kenyang." sahut Ally. "Kami istirahat dulu." Ally lalu menarik tangan Jonah, menuntunnya menuju kamar atas.
Wajah pria itu masih di tekuk. Hal itu membuat Ally ingin sekali mengacak-acak wajahnya.
"Ayolah. Kenapa kau masih cemberut seperti itu?" ucap Ally langsung saat mereka sudah di dalam kamar.
Jonah tak menyahut, ia langsung merebahkan diri ke tempat tidur. Ia sengaja melakukannya karena ia tahu bahwa Ally sangat tak suka dengan perasaan bersalah.
"Jonah..." panggilnya sambil mendekat.
Pria itu sibuk menahan senyum.
"Jonah, kenapa lagi? kau marah perihal apa lagi?" desak Ally.
Jonah tak menyahut.
Ally lalu duduk di tepi ranjang dan membalikkan tubuh Jonah agar pria itu telentang menghadapnya. "Katakan apalagi kesalahanku?" Ally mengatakannya dengan nada yang penuh di tekankan.
"Tidak ada." sahut Jonah singkat.
"Kau masih marah soal tadi? ayolah, itu bukan salahku. Memangnya aku yang meminta dilamar?!" Ally mulai tersulut kekesalan.
Jonah tak bisa lagi menahan tawanya ketika melihat ekspresi wajah Ally. Pria itu langsung menarik bahu Ally, otomatis gadis tersebut jatuh menimpa Jonah. Lalu dengan cepat Jonah membalikkan posisi. Kini Ally berada di bawahnya.
__ADS_1
"Jika aku tak ada di situ. Apa kau akan menerima lamarannya?" tanya Jonah.
Ally yang masih kaget karena tiba-tiba saja Jonah sudah berada di atasnya menarik napas terlebih dahulu sebelum menyahut. "Tentu saja tidak."
"Kau yakin?"
"Tentu saja." tekan Ally meskipun dengan suara yang bergetar. "Bisakah kau pergi dari atasku? aku susah bernapas." lirih Ally.
"Bohong. Aku hanya berada di atasmu, bukan menimpamu." tukas Jonah.
Ally lalu mencoba mendorong Jonah, tapi pria itu segera menahan tangan Ally. "Kenapa kau selalu ketakutan setiap kali aku mendekatimu seperti ini? bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau ingin mempersiapkan dirimu? jika kau selalu ingin menghentikanku bagaimana bisa dirimu menjadi terbiasa?" ucapnya dengan tatapan tajam.
Ally meneguk ludahnya. Tatapan tajam itu membuatnya tak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan wajah Jonah perlahan mendekat ke wajahnya. Netranya sempurna bertemu dengan manik hitam Jonah yang indah.
"Ally..." bibir pria itu persis berada di telinga Ally.
"Jangan lupa... kau itu istriku." Jonah segera mencium leher Ally dengan penuh gairah setelah berucap demikian. Ally terpekik karena pria itu menyerang secara tiba-tiba. Hisapan kuat dari pria itu membuatnya melenguh halus.
Lalu dering ponsel dari saku celana Jonah berbunyi nyaring.
"Aishh... sialan!" umpat Jonah kesal. Kenapa harus ada telpon disaat seperti ini batinnya kesal.
"Ada apa, Paman?" Jonah mengangkat telpon masih dengan posisi mengurung Ally di bawahnya.
"Kau masih di rumah mertuamu?" tanya Dorland.
"Iya, sepertinya paling lambat lusa nanti kami akan kembali ke Ibukota. Apa ada masalah?"
"Para pimpinan perusahaan yang akan bekerjasama dengan kita tiba-tiba memajukan tanggal meeting menjadi besok."
"Besok?!"
"Kau harus pulang sekarang karena kau adalah penanggung jawab kerja sama ini."
"Baiklah. Aku akan pulang malam ini juga." ucap Jonah lalu memutus sambungan telepon.
Pria itu lalu bangkit melepas Ally, gadis itu langsung duduk. "Kau mau pulang kemana?"
__ADS_1
"Ada urusan penting besok di kantor. Kita harus pulang malam ini juga." terang Jonah.
"Tapi, aku sudah berjanji besok akan menemani keponakanku ke acara ulang tahun temannya."
"Kalau begitu batalkan saja. Kita harus pulang malam ini."
"Aku tidak bisa. Kau pulang saja sendirian, nanti besok aku menyusul." saran Ally.
"Tidak, kita harus pulang bersama." protes Jonah.
"Aku sudah berjanji pada Lily, aku tak bisa mengingkarinya." kekeuh Ally.
Jonah menarik napas panjang lalu melepasnya jengah. "Baiklah, tapi nanti aku yang menjemputmu."
"Tidak perlu. Aku akan naik kereta."
"Tidak. Aku yang akan menjemputmu. Jangan membantah." tegas Jonah.
"Tapi, per—"
"Pokoknya jangan berani pulang sebelum aku menjemputmu!"
Ally terdiam karena Jonah hampir seperti meneriakinya.
"Mengerti?"
"Baiklah." kalah Ally.
Keduanya lalu turun ke lantai bawah untuk memberitahu Diva. Wanita paruh baya itu lalu memakluminya meskipun sempat ragu untuk membiarkan Jonah pulang saat ini juga.
"Sebaiknya kau naik kereta saja." usul Diva, wanita itu tentu mengkhawatirkan menantunya.
"Tidak apa. Aku akan menyetir sendiri saja." setelah bersalaman dengan Diva, Jonah langsung memasuki mobil. Ally mengantarnya sampai halaman.
"Ibu benar. Kau sebaiknya naik kereta saja."
"Berhenti mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja." ucap Jonah sambil memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
"Ya sudah. Hati-hati di jalan."
Pria itu tersenyum simpul sembari mengangguk. "Kau jangan pulang sebelum ku jemput." lalu sedan hitam itu mulai melaju menjauh.