
Alunan musik Dj yang memenuhi ruangan seakan tak ada artinya bagi Jonah, dari sekian banyaknya orang yang tengah asik menari menikmati musik yang sangat enerjik itu, Jonah hanya duduk di meja bar sambil menatap kosong ke arah orang-orang di dancefloor.
Jonah kembali meneguk segelas alkohol yang entah untuk gelas yang keberapa. Pikirannya kacau, perasaan bersalah karena membentak Ally sebegitunya membuatnya galau. Ia teringat perkataan Bibi Diva saat ia bertanya tentang Ally kala itu, ia ingat bahwa Ally tak suka kekerasan dalam bentuk apapun, bahkan bentakan sekalipun. Disisi lain ia juga sangat kesal karena mengetahui fakta Ally menumpang mobil Erik.
Jonah terkekeh pelan. "Gadis itu tak suka kekerasan, tapi ia selalu melakukan kekerasan padaku. Yang benar saja." pria itu kembali menegak segelas alkohol setelah menuangnya ke gelas kecil.
Makin kesini kepalanya kian terasa berat, ia tahu bahwa ia akan mabuk tapi Jonah tetap menegak minuman itu, isi botol itu hampir habis.
"Disini kau rupanya," ucap seseorang menepuk pundak Jonah. "Aku mencarimu di antara kerumunan itu." Robin menunjuk kerumunan orang-orang di dancefloor dengan dagunya.
"Kenapa kau kesini?" tanya Jonah dengan suara lemah.
"Kau yang menelponku tadi, bodoh." atensi Robin beralih kepada sebotol alkohol di hadapan Jonah. Ia meraih botol itu untuk mengetahui sisa isinya. "Astaga, hampir habis. Kau meminum semuanya?"
Jonah mengangguk samar. "Itu botol keduaku." ia lalu merebut botol itu dari tangan Robin dan menuangkannya ke gelas.
Saat akan meminumnya, Robin langsung menghentikan Jonah. "Kau terlalu banyak minum, kau akan mabuk berat." larang Robin. Bagaimana tidak, botol yang dimiliki Jonah merupakan botol yang berukuran besar.
Jonah menepis tangan Robin dengan cepat lalu segera menegak minuman itu. "Kenapa kau melarangku, kau bukan istriku."
Robin tahu bahwa pria itu sudah mulai dalam pengaruh alkohol yang kuat. "Aih, asal kau tahu jika mabuk kau akan jadi seperti orang gila." Robin merebut botol minuman itu lagi saat Jonah ingin menuang isi nya untuk gelas yang kesekian kalinya.
"Berikan." lirih Jonah berusaha merebut botol itu.
__ADS_1
"Cukup, bodoh. Kau terlalu banyak minum, nanti ujung-ujungnya malah menyusahkanku." Robin lalu menyerahkan botol vodka itu pada bartender, untuk menjauhkannya dari Jonah.
"Kau ini sama saja seperti istriku, sama-sama menjengkelkan." Jonah merebahkan kepalanya pada meja bar.
"Robin, saat aku tahu bahwa Erik mengantar istriku pulang, aku marah dan kesal. Apakah itu artinya aku cemburu? hah?" Jonah mulai melantur.
"Iya, kau cemburu." sahut Robin cepat dengan acuh.
"Itu tidak mungkin. Aku kan tidak mencintainya mana mungkin cemburu. Tapi rasanya disini ada yang mengganjal." Jonah menepuk dadanya pelan.
"Itu berarti kau mulai mencintainya." sahut Robin lagi, agak aneh rasanya ia menyahuti pertanyaan orang yang mabuk.
"Aku tidak cemburu, hanya kesal, benar kan?" suara Jonah terdengar sangat lemas. "Ah, asal kau tahu saat istriku tertawa dia jadi sangat cantik. Ah, tidak dia memang cantik saat apapun." Jonah lalu tertawa seperti orang bodoh.
"Ally siapa?"
"Istrimu, bodoh!"
"Oh, jadi nama istriku Ally. Jika nama istriku Ally, lalu siapa namamu?" Jonah mulai kehilangan akal sementara akibat pengaruh alhkohol.
Robin berdecak kesal lalu menarik tangan Jonah, menuntunya keluar dari klub itu. Akan menyusahkan jika Jonah yang mabuk berat tetap berada di dalam.
"Hey, jangan memegang tanganku. Nanti istriku marah." Jonah mencoba menepis tangan Robin dengan sisa tenaganya, tapi Robin memegangnya dengan erat.
__ADS_1
Setelah sampai di depan, ternyata cuacanya sedang hujan deras. Mobil Robin terparkir beberapa meter dari tempat mereka berdiri sekarang, itu artinya mereka mau tak mau harus kehujanan sebentar.
Robin menarik tangan Jonah, menuntunnya berlari ke arah mobilnya. Namun di tengah-tengah jalan, Jonah berhasil menepis tangan Robin. Tak peduli akan hal itu, Robin tetap berlari menuju mobil.
Begitu ia sudah masuk mobil, ternyata Jonah tak mengikutinya. Pria itu ternyata tergeletak diatas aspal halaman parkir, Robin yang panik langsung mengambil payung yang ada di mobilnya lalu segera menghampiri Jonah.
"Jonah!" pekiknya menghampiri pria yang terbaring tersebut.
"Astaga, pergi sana jangan mengganggu tidurku."
Robin yang awalnya panik mengira Jonah pingsan kini berdecak kesal lalu menendang pantat Jonah sekilas. "Lihat, kan sudah ku bilang kau akan menyusahkanku." desisnya.
"Bangun!" bentak Robin.
"Tidak bisa. Kepalaku sangat berat, bisakah kau melepaskannya sebentar agar aku bisa bangun?" Jonah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk menghindari jatuhan hujan.
"Jika aku melepaskannya, aku takkan pernah memasangnya kembali." Robin terpaksa melepaskan payung ditangannya lalu membantu Jonah berdiri. "Sial, berat sekali." makinya.
Robin memapah Jonah ke dalam mobilnya dan merebahkannya di kursi penumpang. "Dasar menyusahkan. Kau membuatku basah kuyup, sial."
Robin meraba saku celana Jonah, mengambil ponselnya untuk menelpon Ally. Tapi ia tak menemukan kontak seseorang yang bernama Ally. "Kemana aku harus mengantarmu pulang?" sungut Robin.
Lalu Robin meraih benda lain yang ada di saku Jonah, yaitu dompet. Beruntungnya ia menemukan kertas bertuliskan sebuah alamat asing yang ia yakin itu adalah alamat rumah Jonah yang tinggali dengan Ally.
__ADS_1
Robin segera menjalankan mobilnya menuju alamat yang tertera. Mengabaikan Jonah yang dari tadi meracau tak jelas, benar-benar seperti orang gila.