
Sehabis pulang dari kantor Jonah terduduk diam disofa, rasanya gatal sekali ingin langsung menanyakan kebenaran ucapan Erik saat makan siang tadi pada Ally. Pria itu masih sibuk memikirkan bagaimana caranya ia bertanya tanpa dicurigai. Ia berharap perkataan Erik tadi hanyalah bualan semata.
"Kau ini kenapa?" sela Ally, bingung melihat Jonah yang dari tadi hanya duduk melamun di sofa. "Kenapa diam saja? kau lupa apa yang seharusnya kau lakukan? baiklah aku akan mengingatkan, kegiatanmu selanjutnya adalah mandi." ucap Ally sedikit ketus.
"Aku ingin bertanya." sela Jonah cepat.
Ally yang daritadi sibuk menimang-nimang Lucy langsung menoleh ke arahnya "Apa?"
"Kau diantarkan oleh Erik ketika pulang dari berbelanja saat aku tak bisa menemanimu waktu itu?"
Ally langsung mengernyitkan keningnya. "Kau tahu darimana akan hal itu?"
"Berarti benar, ya?"
Ally terdiam untuk sesaat.
"Jawab saja." tegur Jonah melihat Ally yang terbengong.
__ADS_1
"Iya," sahut Ally entang. "ada apa memangnya?"
Dalam hati Jonah mengumpat kesal "Hanya bertanya. Tapi, sepertinya seseorang yang sudah bersuami rasanya kurang sopan jika menumpang mobil orang lain."
"Wah, kau peduli?" Ally terkekeh pelan. Ia langsung menurunkan Lucy dari gendongannya, seakan menyuruh agar kucing itu menjauh.
"Aku peduli karena statusmu. Kau adalah istri Jonah Avery." tekan Jonah menatap Ally dengan tajam.
"Lagipula dia kan temanmu, apa salahnya? dia baik berniat mengantarkan."
"Tentu saja salah, aku tak suka." sela Jonah cepat.
Jonah langsung tertawa canggung. "Jangan terlalu percaya diri. Sudah ku bilang aku peduli karena statusmu." tegasnya. "Aku hanya tak suka jika sesuatu milikku diganggu orang lain."
"Kemarin dia memaksa, aku jadi tak enak, ya sudah aku naik saja ke mobilnya." jelas Ally jujur.
"Semudah itukah kau mau di bujuk?" Jonah tersenyum sinis.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, aku–"
"Bodoh." potong Jonah cepat. "Itu artinya kau bodoh."
"Ya! kenapa malah mengataiku?!" gadis itu meninggikan suaranya.
"Kau menerima tawarannya hanya karena merasa tak enak. Bagaimana nanti jika dia menawarimu untuk menginap di hotel berdua, kau akan menerimanya karena merasa tak enak jika menolak?!" Jonah ikut meninggikan suaranya. Pria itu bahkan berdiri dari duduknya.
"Kau pikir wanita macam apa aku ini?!" Sumpah. Ally benar-benar murka atas ucapan Jonah barusan. "Jaga ucapanmu!" gadis itu menunjuk wajah Jonah disertai tatapan mematikan.
"Bagaimana bisa aku menjaga ucapanku sedangkan dirimu saja tidak bisa menjaga kelakuanmu." Jonah melepas dasinya lalu menghempasnya ke lantai.
Kenapa kau datang-datang langsung memancing keributan?!" Ally benar-benar kesal. Rasanya ia ingin sekali melayangkan sebuah tamparan ke wajah tampam pria itu.
"Ini semua karenamu!" bentak Jonah.
Ally memicingkan matanya sesaat, seakan kehabisan kata-kata. Ia benar-benar tak habis pikir. "Kau tahu?" gadis itu menatap sinis kearah Jonah. "Melihat wajahmu saat ini benar-benar membuatku muak."
__ADS_1
Jonah terkekeh pelan. "Ya, sama. Aku juga muak." ia meraih jas dan kunci mobilnya kembali lalu berjalan keluar pintu dengan langkah cepat.
Ally yang mendengar suara mesin mobil yang dihidupkan lantas berlari ke depan pintu. "Ya! pergi yang jauh dan tak usah kembali!" teriaknya lalu membanting pintu dengan keras. Mata gadis itu berkaca-kaca, ia mengusap ekor matanya yang genangan itu sebelum jatuh mengalir ke pipi.