Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Pencarian


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka sudah bersiap-siap untuk pergi mencari Reano dan Liam. Mereka akan ke titik terakhir sinyal yang di kirim Liam untuk mereka.


1 jam kemudian mereka sampai di titik terakhir Reano terlacak.


"Kau yakin di sini Bim?" tanya Diaz.


"Aku sangat yakin dengan ini. Mari kita berpisah. Mita kamu sama Papa kamu ya, biar Papi cari sama yang lain!" ucap Bima. Mita mengangguk setuju dengan pendapat Papi mertuanya.


Mereka pun mulai berpencar dan mencari Reano di setiap sudut.


"Pa ayo kita kesana!" ucap Mita.


"Iya tapi hati-hati di sini banyak akar kayu. Nanti kamu terjatuh!" ucap Diaz.


"Kita kan pakai Jeep pa! Ayo cepat Pa!" ucap Mita.


"Iya, Sabar!" ucap Diaz


•••


"Re, bangun Re. Jangan tinggalin gua woi!" ucap Liam. Liam pun merasakan denyut nadi Reano.


Denyutnya melemah! Batin Liam. Liam pun menegakkan Reano dan memapahnya. Ia berjalan sambil memapah Reano. Ia berjalan terus sampai menemukan jalan keluar sembari meminta tolong jika ada warga lewat.


"TOLONG!" teriak Liam sambil memapah Reano. Sudah beberapa kali Liam mengulanginya tapi tetap saja tidak ada bantuan.


"Re, sabar ya. Lu harus kuat demi Mita dan anak lu. Gua bakalan berusaha semampu gua untuk nyelamatin lu!" ucap Liam masih dengan keadaan memapah Reano. Liam terus berjalan. Sampai kakinya kebas dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah pohon besar.


••••


Re, tolong bertahan. Aku pasti nemuin kamu kok. Tolong jangan tinggalin aku! batin Mita cemas.


"Pa, coba kesana!" ucap Mita kepada Diaz. Diaz pun pergi kearah yang Mita tunjuk tadi.


"Gak ada Mit. Kita cari lagi ya. Kamu cepat naik ke Jeep!" ucap Diaz. Mita pun mengangguk memahami perkataan Papanya.

__ADS_1


Mereka terus mencari sambil mengendarai jeep yang mereka bawa tadi. Saat di dekat sebuah pohon besar. Mita melihat kaki seseorang.


"Pa, di belakang pohon itu!" ucap Mita senang.


Diaz pun menghampir pohon itu.


"Liam?!" panggil Diaz. Liam yang mendengar suara seseorang memanggilnya pun langsung berdiri dari duduknya


"Om! Cepat selamatkan Reano om. Denyut jantungnya melemah!" ucap Liam menjelaskan. Diaz pun terkejut. Ia memeriksa sendiri denyut nadi Reano.


"Iya! kamu bantu om angkat dia ke jeep ya!" ucap Diaz. Liam pun mengangguk. Ia membantu Diaz mengangkat Reano. Saat Reano dimasukkan kedalam Jeep, Mita langsung menangis melihat kondisi Reano yang penuh luka.


"Re, bangun Re. Jangan tinggalin aku hiks!" ucap Mita terisak sambil memeluk Reano yang pingsan akibat luka yang cukup parah.


30 menit kemudian mereka sampai di tempat pertemuan tadi. Diaz sudah mengabari Bima bahwa Reano sudah ketemu. Mereka pun sepakat untuk bertemu di tempat mereka tadi.


"Kita harus secepatnya membawa dia kerumah sakit!" ucap Diaz.


"Pompa jantungnya agar dia bertahan!" ucap Bima. Mita pun sudah bersiap dengan tangannya untuk memompa jantung Reano.


"Kenapa?" tanya Mita. "Jangan cegah aku!" ucap Mita. Mita pun meletakkan tangannya di dada Reano dan bersedia untuk menekannya.


"Dadanya tertusuk kaca helikopter. Jangan tekan dadanya, atau kaca itu akan masuk ke jantungnya dan Reano tidak ada harapan lagi untuk sembuh!" ucap Liam terus terang. Mita pun tidak jadi menekan dada Reano dan menyingkirkan tangannya dari dada Reano.


"Kalau begitu cepat naikkan dia keatas helikopter dan hubungi dokter Arumi!" ucap Bima. Para anak buah Bima pun mengangguk. Mereka langsung menghubungi Arumi dan Reano langsung di naikkan ke Helikopter agar segera membawanya kerumah sakit.


•••


Ciko dengan taletannya mengobati kaki Arumi yang tidak sengaja memijak pecahan kaca dari piring yang ia jatuhkan tadi.


"Sudah. Bagaimana sakarang?" tanya Ciko.


"Lebih baik. Terima kasih, tapi aku masih merasa bersalah karna itu piring kesayangan bunda." ucap Cika murung.


"Hei, bunda akan lebih marah jika menantu kesayangannya ini terluka. Pasti aku akan di marahi sama Bunda karna membuat mu terluka. Jadi jangan pikirkan masalah piring itu, piring itu masih bisa aku beli." ucap Ciko. Ciko pun duduk di samping Arumi. Betapa bahagianya Arumi mendapatkan suami yang sangat baik seperti Ciko. Sedangkan kembarannya? entahlah, ia sudah lama tidak mendapatkan kabar Ayumi.

__ADS_1


Drttt... drttt.. drttt...


Handpone Arumi bergetar menandakan ada seseorang yang menelpon. Arumi langsung mangambilnya dan mengangkatnya.


"Ya dengan Dokter Arumi disini." ucap Arumi.


"...."


"Apa? baiklah saya akan segera kerumah sakit dan meyiapkan semunya!"


"...."


Telpon itu pun dimatikan secara sepihak.


"Ada apa?" tanya Ciko.


"Reano terluka. Dan yang tadi menelpon itu adalah anak buah dari Papinya Reano!" ucap Arumi.


"Aku ikut dengan mu!" ucap Ciko.


20 Menit kemudian mereka sampai di rumah sakit keluarga Anggara.


"Sudah kalian siapkan semuanya di ruang operasi?" tanya Arumi.


"Sudah Dok. Kita hanya tinggal menunggu tuan muda sampai!" ucap suster.


"Kerja kalian bagus!" ucap Arumi. Arumi pun masuk keruang operasi dan kembali mengechek perlengkapan untuk operasi Reano.


Dia sangat cantik ketika serius dan bekerja seperti ini. Bagaimana bisa aku membencinya seperti yang dilakukan Arzi kepadanya. Kau telah memberikan aku berlian Arzi. Aku sangat berterima kasih kepada mu! batin Ciko.


•••Bersambung...


Maaf kemarin gak up ya. Nanti author ganti deh 🙏


Makasih yang selalu mau baca cerita author yang alurnya gak jelas dan ceritanya kebanyakan seperti novel lain yang buat kalian bosan. Author minta maaf juga kalau sering lambat up 😫

__ADS_1


Nulis itu gak mudah. Author saja perlu waktu sekitar 15-20 menit untuk menulis novel ini. Jadi kalian harus selalu dukung author ya. Jangan lupa like, comment, vote dan tambahkan ke favorit. Author gak minta lebih kok, cuman itu aja 😃


__ADS_2