Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Reano Hilang


__ADS_3

Mereka semua pun pergi kerumah sakit. 15 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Sedari tadi Mita masih belum bangun juga dari pingsannya. Bima pun menggendong Mita dan langsung meletakannya di ranjang sakit, yang berada di UGD.


"Mohon keluarga pasien untuk menunggu di luar." ucap susternya. Bima dan Shinta pun mengangguk. Tak lama datanglah Nino, Becca, Reni, dan Diaz.


"Gimana keadaan Mita?" tanya Reni.


"Lagi di tanganin. Kamu yang sabar yaa!" ucap Shinta.


"Ada apa Bim? Kenapa Mita sampai pingsan?" tanya Diaz.


"Reano dan Liam kecelakaan helikopter. Helikopter mereka terjatuh dan aku tidak bisa melacaknya!" ucap Bima.


"Lokasi terakhirnya di mana?" tanya Diaz.


"Di hutan lebat. Nanti akan aku sherlock!" ucap Bima.


"Kita bisa cari dari situ. Aku akan mengerahkan pasukan ku untuk membantunya." ucap Diaz.


"Bagus, semakin banyak yang mencari akan semakin cepat bertemu dengan mereka!" ucap Bima.


•••


"Re, bangun Re. Jangan mati tinggalin gua sendiri. Gua takut, hutannya gelap banget. Kalau ada kuntilanak gimana?" ucap Liam. Liam menggoyangkan tubuh Reano, bermaksud agar Reano sadar dari pingsannya. Tak lama Reano membuka matanya perlahan.


"Akhirnya lu bangun Re. Gua takut kalau ada kuntilanak!" ucap Liam.


"Jangan ngadi-ngadi lu." ucap Reano lemah.

__ADS_1


"Lu bisa jalan gak?" tanya Liam.


"Gak sanggup berdiri gua!" ucap Reano.


"Deket kok Re, di sana ada pondok. Kita bisa tidur di sana, dari pada di tanah!" ucap Liam. Liam pun berdiri kemudian membantu Reano berdiri.


"Pelan-pelan Re!" ucap Liam. Tak lama mereka pun sampai di pondok itu.


"Re, luka lu dimana aja?" tanya Liam.


"Dada gua sakit men." ucap Reano. Liam pun melihat dada Reano.


"Woi, kaca helikopter kita masuk ke dada lu. Jantung lu sakit gak? fatal kalau jantung lu sakit!" ucap Liam


"Sedikit." ucap Reano lemah.


"Sabar-sabar. Papi lu bakalan cari kita kok Tadi gua sempat kirim sinya kalau kita jatuh, tapi mungkin gak terlacak karna alatnya rusak!" ucap Liam.


"Pokoknya lu jangan ninggalin gua sendiri di sini. Serem woi!" ucap Liam.


"Yaelah, palingan baru jam 7 malam. Penakut banget lu." ucap Reano. Ingin sekali Liam berdebat dengan bos sekaligus sahabatnya ini. Tapi melihat kondisi Reano yang lebih parah darinya, niat itu ia urungkan.


•••


"Bagaimana kondisi Mita?" tanya Reni.


"Dia hanya stress dan kaget. Jangan biarkan dia banyak pikiran, itu tidak bagus untuk bayi dan ibunya." ucap dokter itu. Mereka pun mengangguk.

__ADS_1


"Boleh kita masuk?" tanya Diaz.


"Silahkan!" jawab dokternya. Mereka semua pun masuk.


Mita tampak terduduk termenung di ranjang pesakitnya.


"Kamu jangan mikirin Reano. Kita pasti bakalan temuin dia!" ucap Bima.


"Iya sayang, gak bagus buat anak kamu." timpal Reni.


"Bolehkan Mita ikut nyari?" tanya Mita dengan tatapn kosong.


"Jangan Mita ini bahaya!" ucap Diaz.


"Pa, Mita mau ikut!" ucap Mita.


"Biarkan saja dia ikut. Dia sepertinya memiliki ikatan batin yang kuat dengan Reano. Ini mempermudah kalian untuk menemukannya!" ucap Sinta.


"Baiklah. Kita akan mencarinya besok!" ucap Bima.


"Sekarang!" ucap Mita.


"Mita ini udah malam. Besok aja ya. Kasian cucu papa!" ucap Diaz.


"Yaudah besok aja!" ucap Mita setuju. Mereka pun menunggu untuk besok.


•••

__ADS_1


Maaf up sedikit dulu, keluarga author ada kemalangan. Mungkin upnya sedikit-sedikit. Tapi Insyaallah bakalan up tiap hari 🙏


Maaf kemarin gak up 🙏


__ADS_2