Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Last Breath


__ADS_3

Jonah berlari sekuat tenaga menuju ruang operasi. Keringat bekas berolahraga sebelumnya bahkan belum kering, kini ia harus berkeringat lagi. Ia terus berlari dengan Stevi yang mengikuti di belakangnya. Sesampainya di depan ruang operasi nampak beberapa anggota keluarganya disitu, yakni Paman Dorland dan istrinya beserta kedua anak perempuan dan suami anak tertuanya. Dan tentu saja ada Ally disitu.


"Bagaimana keadaan Ibu?!" serunya langsung bertanya kepada siapa saja yang menjawab.


"Tenanglah dulu." Suami kakak sepupu yang sudah ia anggap sebagai kakak ipar sendiri itu bangkit dari duduknya untuk menepuk punggung Jonah.


"Kak, bagaimana keadaan Ibu?!" ulang Jonah lagi.


"Kita semua tidak tahu bagaimana kondisinya. Dokter sedang berusaha di dalam sana. Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah berdo'a." sela Dorland.


Pria itu menatap Ally yang kini tengah tertidur di pundak Bibinya. Mulutnya langsung ingin membuka dan bertanya, tapi Istri Dorland tersebut langsung menyela.


"Biarkan dia tidur. Asal kau tahu dia sudah sejak tadi pagi disini. Dia yang menelpon kami dan memberitahu bahwa Ibumu harus di operasi sekarang juga."


Mata Jonah sangat panas dan berkaca-kaca, ia langsung menyeka butir bening itu agar tak jatuh ke pipi. Perasaannya sangat tak karuan. Lebih tepatnya ia tengah ketakutan sekarang.


Jonah lalu mengambil tempat duduk yang kosong, saat itu pula ingat pada Stevi. Wanita itu berdiri sambil sesikit tertunduk. Jonah langsung memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia lalu bangkit lagi sambil menarik tangan Stevi berjalan menjauh.


"Hey, Jonah kau mau kemana?!" seru Bibi-nya nyaring. Ally yang tertidur dipundaknya langsung terbangun.


"Sebentar saja." sahut Jonah sambil terus membawa wanita itu menjauh.


"Jonah, kita mau kemana?" tanya Stevi berusaha melepas tangan Jonah yang menggenggamnya.

__ADS_1


"Aku harus mengantarmu pulang."


Stevi akhirnya berhasil melepas cengkraman tangan Jonah. "Kau gila? kau harus tetap berada disini."


"Tidak. Aku membawamu kesini, aku pula yang harus mengantarmu." Jonah kembali meraih tangan Stevi yang lagi-lagi ditolak oleh wanita itu.


"Aku akan menelpon Managerku. Kau tetaplah disini."


"Tidak, aku harus—"


"Kau harus tetap berada disini. Ibumu bisa meninggal kapan saja!" seru Stevi mengingatkan Jonah meskipun tahu bahwa ucapan tersebut akan menyakinkan baginya.


Benar saja, Jonah langsung tertegun mendengarnya.


Jonah mengangguk paham. Meskipun menyakitkan, ucapan Stevi benar adanya.


"Aku pergi dulu." pamit Stevi, wanita itu perlahan melangkah menuju ke pintu keluar. Sedangkan Jonah berjalan menuju ruang operasi kembali.


Ketika ia kembali, dilihatnya Ally sudah terbangun. Sekarang bibinya itu tengah membujuk Ally agar gadis itu tidur kembali. Jonah lantas mendekat dan duduk di kursi kosong di sebelah Ally.


"Kau pasti kelelahan. Sebaiknya ku antar pulang."


"Ah, tidak! aku ingin tetap disini." sanggah Ally cepat. Mata gadis itu nampak sembab seperti orang yang habis menangis. Sebenarnya Jonah ingin sekali bertanya kepada Ally tentang semua ini tapi ini bukan waktu yang tepat.

__ADS_1


"Jonah benar. Sebaiknya kau pulang dulu. Istirahat saja dirumah." usul sang Bibi.


"Aku baik-baik saja." ucap gadis itu lagi.


Jonah hampir menangis mendengar perkataan Ally barusan. Bagaimana bisa gadis itu bilang bahwa ia baik-baik saja sedangkan wajahnya saja nampak pucat. Jika Ally sudah berada di rumah sakit sejak pagi, Jonah yakin bahwa gadis itu pasti melewatkan makan siangnya.


Jonah menjauhkan tubuhnya dari Ally untuk membuat jarak. Pria itu lalu meminta agar Ally tiduran di pahanya. Walaupun awalnya menolak, tapi karena seluruh orang yang ada disitu terus mendesaknya akhirnya ia menurut saja karena ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Tubuhnya benar-benar letih.


Jonah mengelus rambut Ally yang perlahan tertidur di pangkuannya. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang terus-terusan mendesak ingin turun.


"Ibu, Bibi Jane akan baik-baik saja, kan?" anak perempuan termuda Dorland itu memeluk sang Ibu.


Istri Dorland tersebut lantas membalas pelukannya dengan erat. "Pasti, sayang. Bibimu pasti akan baik-baik saja." ucapnya menenangkan putrinya.


Jonah tak dapat menahan air matanya lagi. Setetes air mata itu jatuh sampai ke dagu lalu mendarat ke pipi Ally. Gadis yang sensitif itu langsung terbangun karenanya.


"Kenapa kau bangun? ayo tidur lagi." Jonah memaksa ingin merebahkan tubuh Ally, tapi gadis itu menolak.


"Kenapa menangis?" Ally menatap intens mata Jonah yang memerah. Ia lalu menyeka air mata Jonah yang lagi-lagi mengalir. "Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja." Bagaikan obat penenang, kata-kata yang keluar dari bibir Ally itu sukses membuatnya jadi lebih tenang dan perlahan membuang rasa paranoid-nya.


Operasi masih berlansung selama hampir 4 jam, anak termuda Dorland Avery disuruh pulang lebih dahulu karena besok harus sekolah. Tak lama kemudian, anak tertua dan suaminya juga harus pulang karena mereka tak bisa lama-lama menitipkan anak-anak mereka. Kini hanya tersisa Dorland dan istrinya yang menemani Jonah dan Ally.


Hingga tak lama kemudian pintu ruangan operasi itu terbuka dan menampilkan sosok seorang Dokter, semua orang yang menunggu sedari tadi refleks berdiri dan bergerak mendekat ke arah pintu ingin segera tahu bagaimana keadaannya.

__ADS_1


Tapi yang di katakan Dokter itu justru kabar yang tak pernah semua orang harapkan.


__ADS_2