
Setelah menerima pesan singkat yang berisi titik lokasi Ally yang kebetulan tak terlalu jauh dari Studio, Jonah langsung menginjak pedal gas nya menuju tempat tersebut. Ia mengemudi dengan kecepatan agak tinggi dengan perasaan yang mengganjal dihatinya.
"Ck, teman katanya? teman apanya?! bagaimana bisa tiba-tiba dia mempunyai teman?!" ocehnya kesal.
Pria itu mendengus jengah sambil melonggarkan dasinya, isi kepalanya sibuk memikirkan seperti apa sosok 'teman' yang Ally maksud. Apakah dia laki-laki? atau perempuan? atau jangan-jangan itu hanyalah orang asing yang baru ia kenal dan langsung dianggap teman? Jonah benar-benar tidak memiliki clue. Ia jadi agak menyesal, ketika ia bertanya dan salah satu Staff menjawab bahwa Ally pergi dengan seseorang, seharusnya tadi ia menanyakan jenis kelamin orang itu terlebih dahulu agar tak overthinking berlebihan.
"Ah, minggir sialan!" rasa kesalnya makin menjadi-jadi, ia menekan lama klakson mobilnya karena kesal mobil di depannya tidak mau mengalah ketika ia mau menyalip.
Jonah lalu mengusap kasar wajahnya sembari menghela napas panjang. "Kau ini kenapa, Jonah?!" ia menjadi bingung karena emosinya tiba-tiba memuncak seperti ini dengan sendirinya. Ia tak pernah tahu bahwa hal seperti ini bisa membuatnya kesal bukan main. Dan semua ini hanya karena Ally.
Tiba-tiba saja Jonah teringat ketika ia mengetahui bahwa Ally pernah diantar pulang oleh Eric waktu itu. Perasaannya menjadi makin cemas. Bagaimana jika teman yang Ally maksud adalah benar Eric seperti dugaannya?
"Sial."
Jonah kembali memacu mobilnya hingga tak lama sampailah ia ditempat tujuan. Ia melirik arloji di tangan kirinya, ternyata ia membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai. Lagi-lagi ia mengutuk mobil putih di depannya saat berkendara tadi karena membuat perjalanannya menjadi sedikit lebih lama.
Pria itu bergegas turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya dan memasuki Restoran yang sudah pernah beberapa kali ia datangi itu, matanya menelusuri setiap sudut meja untuk menemukan orang yang di carinya.
Ketika melihat seseorang di meja nomor 4, ia meneliti orang yang duduk sendirian itu dengan penuh perhatian. Butuh beberapa detik untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu benar-benar Ally yang dia cari. Ia langsung menghampirinya dan duduk di bangku kosong samping Ally.
"Astaga, bikin kaget saja!" Ally terpekik ketika Jonah datang begitu saja dan langsung duduk menghempaskan badan ke kursi.
"Aku hampir tak mengenalimu, make-up mu itu tebal sekali." cicit Jonah.
Ally tak menghiraukannya. Ia tetap sibuk memainkan game candycrush di ponselnya.
"Mana teman yang kau maksud? kau menghayal punya teman?" Jonah terkekeh mengejek, namun dalam hatinya ia begitu lega karena melihat Ally tak bersama siapapun.
"Dia sedang ke toilet."
Jonah mencibirkan bibirnya. "Laki-laki atau wanita?"
"Wanita." sahut Ally tanpa menoleh.
Pria itu menghela napas, lagi-lagi ia merasa lega. "Sejak kapan dia ke toilet? apa baru saja? aku tak mau menunggu terlalu lama."
__ADS_1
"Berhentilah mengoceh tidak jelas." sambar Ally, gadis itu menatap tajam sekilas ke arah Jonah lalu kembali fokus pada game-nya. "Sebentar lagi pasti dia kembali." pandangannya lalu memantau ujung koridor, kalau-kalau Stevi sudah kembali. Dan benar saja, wanita itu muncul tepat dengan intuisi Ally. Stevi berjalan ke arahnya sambil terfokus pada layar ponsel ditangannya.
"Nah, itu dia." celetuk Ally menyenggol lengan Jonah lalu memasukkan ponsel kedalam tasnya.
Jonah yang tadi menatap layar ponselnya langsung mengalihkan pandangan ke arah yang Ally maksud. Ia melihat seorang wanita cantik yang terlihat tak begitu asing dimatanya, seketika matanya terbelalak.
Begitupun Stevi, ketika ia sampai di hadapan meja ia langsung kaget seakan tak percaya akan apa yang ia lihat.
"Jonah...?!"
"Oh, Stevi..." balas Jonah dengan ekspresi yang sulit untuk di jelaskan.
Stevi dan Jonah bertatapan agak lama, keheningan yang tercipta membuat Ally merasa ada sesuatu yang tak beres diantara keduanya. Gadis itu kebingungan menyaksikan kecanggungan suasana. "Oh, kalian sudah saling kenal? hehe, aku padahal baru saja ingin mengenalkan kalian satu sama lain."
"Ah, ka-kami teman." ujar Jonah penuh gugup sambil melirik Stevi.
Wanita itu mengangguk mengiyakan kata Jonah. "I-iya, kami teman. Ja-jadi, Jonah ternyata suamimu, ya? kebetulan sekali ya? haha..." Stevi memaksakan tawa yang terdengar sangat aneh di akhir kalimatnya.
"Ahaha... iya, ternyata kalian juga teman." Ally ikut-ikutan menjadi canggung.
"Ah, i-iya. Hati-hati di jalan. Dah, Ally." Stevi tersenyum kecut melirik Ally.
"Dah, nanti akan ku hubungi." Ally membalas senyum kecut itu dengan senyum tulusnya.
Setelah itu mereka langsung berjalan ke luar Restoran, namun sebelum itu Jonah terlebih dahulu ke kasir untuk membayar bill tagihan untuk meja Ally dan Stevi.
Dalam perjalan pulang, keduanya hanya diam tanpa adanya percakapan. Ally melirik wajah Jonah, berusaha membaca ekspresi wajah pria itu yang entah kenapa terlihat kusut.
"Kau ternyata berteman ya dengan Stevi?" dengan penuh keberanian Ally mengutarakan apa yang sejak tadi ia tahan untuk dikatakan.
"Nanti saja bicaranya di rumah." sahut Jonah cepat dengan nada ketus yang membuat mood Ally hilang seketika.
Sementara itu, Jonah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tak habis pikir tentang bagaimana bisa Ally dan Stevi menjadi teman. Pertemuan tak disangkanya barusan dengan wanita itu membuat perasaannya jadi berkecamuk.
Sesampainya dirumah, Ally yang menjadi badmood langsung berjalan masuk lebih dulu ke dalam rumah menuju kamar.
__ADS_1
"Hei, aku mau bicara." celetuk Jonah menghentikan langkah Ally yang sedikit lagi sampai di depan pintu kamar.
Nada bicara yang penuh intimidasi itu selalu berhasil membuat Ally menurut dengan apa yang pria itu katakan. Gadis itu langsung membalik badan dan ikut duduk di sofa.
"Sudah berapa kali ku bilang jika ada apa-apa beritahu aku?! butuh berapa kali teguran lagi kau akan mengerti?!"
"Baiklah, maaf aku lupa. Tapi kau tak perlu berlebihan seperti itu." Ally menjadi bergidik mendengar nada bicara Jonah yang tak mengenakan.
"Dengar. Ini terkahir kalinya kau membuat kesalahan. Jika setelah ini kejadian lagi maka tak ada lagi maaf untukmu, aku bisa menghukummu kapanpun aku mau."
Ally merinding mendengar kata hukuman, entah hukuman apa yang pria itu maksud.
"Ingatlah, biar bagaimanapun kau adalah istriku," cicit Jonah dengan nada rendah, sepertinya ia agak malu untuk mengatakan fakta itu. "Jadi berhenti bertingkah semaumu dan berbaktilah pada suamimu."
Ally ingin sekali membalas ocehan pria itu namun ia terlanjur malas, alhasil ia hanya mengangguk tak semangat.
"Omong-omong, bagaimana kau bisa berteman dengan Stevi?" selidik Jonah.
"Aku bertemu dengannya pertama kali ketika pergi ke Mall sendirian waktu itu."
"Kapan? kau sering pergi ke Mall sendirian tahu."
"Yang ketika aku diantar pulang oleh Erik."
Raut wajah Jonah langsung berubah ketika nama itu disebut. "Oh...," tanggapnya dengan nada kesal.
"Kau sendiri bagaimana dengan Stevi? sepertinya hubungan kalian berdua lebih dari sekedar teman."
"Wah, kau penasaran, Nona Ally?" goda Jonah.
"Tidak juga, hanya sekedar ingin tahu saja." elak gadis itu.
"Apa aku perlu menjelaskannya secara panjang lebar?" ucap pria itu lagi.
"Ah, sudahlah, lupakan saja." Ally langsung beranjak dari sofa meninggalkan pria itu menuju kamar.
__ADS_1