Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Lucy


__ADS_3

Setelah makan malam, Ally dan Jonah berkumpul di ruang tengah sambil berdebat membahas soal nama kucing.


"Leo, pokoknya Leo." tegas Jonah.


"Tapi dia ini betina!" protes Ally.


"Memangnya kenapa? Leo paling cocok untuknya."


"Pikirkan nama lain yang lebih feminim."


"Tidak ada. Leo saja." Jonah tetap dalam pendiriannya.


Ally berpikir sejenak untuk mencari sebuah nama yang sekiranya masih mirip dengan Leo.


"Lucy, bagaimana dengan Lucy?" Ally mendapatkan ide.


"Leo—"


"Dia betina bodoh!" Ally hilang kesabaran. "lagipula Lucy mirip dengan Leo, sama-sama berawalan L."


"Kenapa kau yang mengatur, itu kan kucingku, aku yang membelinya." protes Jonah.


"Tapi yang akan merawatnya pasti aku. Apa kau akan membawanya setiap hari ke kantor, huh?!" sengit Ally.


Pria itu akhirnya hanya bisa menghela napas kasar.


"Nah, sayang mulai sekarang namamu adalah Lucy." ucap Ally mengelus pyncak kepalah kucing yang saat ini berada dipangkuan Jonah. Ia merebut kucing itu lalu menggendongnya.


"Mulai sekarang aku adalah Ibumu." ucap Ally pada kucing yang hanya bisa menyahut nya dengan suara "meow" itu.


"Dan aku ayahmu." celetuk Jonah.


"Hey, kenapa ikut-ikutan?!"


"Aku ayahnya, aku yang mengadopsinya." Jonah tak pernah mau kalah.

__ADS_1


Ponsel Jonah berdering, pria itu langsung meraihnya dari atas meja lalu menekan tombol hijau pada layar.


"Ya?" Pria itu mengangguk-anggukan kepala fokus mendengarkan apa yang di sampaikan oleh si penelpon.


Sedangkan Ally menatapnya penasaran.


"Baiklah, kau terus saja kabari aku. Apapun itu, hal kecil sekalipun kabari aku." ucap Jonah sebelum mengakhiri panggilan.


"Dari siapa?" tanya Ally.


"Salah satu pengurus Ibu." jawab Jonah.


"Apa kita sudah boleh mengunjungi Ibu?"


"Untuk sementara ini ia masih tak mau di kunjungi. Kondisinya agak buruk, aku tak ingin nekat."


Sejak kondisi Jane memburuk, ia melarang Jonah dan Ally menjenguknya. Wanita paruh baya itu kini terbaring di ranjang rumah sakit, tidak lagi dirawat di rumah karena kondisinya tak memungkinkan.


Beberapa kali Jonah dan Ally ingin menjenguknya. Namun wanita itu melarangnya.


"Aku akan beritahu nanti saat kondisiku membaik, baru kalian boleh menjengukku." tambah Jane lagi.


Hal itu sangat membuat hati Jonah sakit. Ia tak pernah berani membantah Ibunya. Jika ibunya menyuruh pasti ia lakukan, jika ibunya melarang tak pernah sekalipun Jonah melanggar larangan itu.


Tapi kali ini larangan itu adalah larangan untuk bertemu. Jujur saat ini ia sangat ingin menangis, tapi malu karena ada Ally di hadapannya.


Gadis yang sedari tadi memperhatikan Jonah yang melamun setelah mematikan telepon itu merasa iba.


Ia tahu Jonah sangat ingin bertemu Ibunya, tapi karena dilarang hal itu tak bisa ia lakukan. Ally tahu bagaimana kepatuhan Jonah terhadap Ibunya, pria itu rela menikahinya demi sang Ibu. Ia tahu bahwa ketakutan terbesar Jonah adalah 'tidak sempat' bertemu Ibunya. Bahkan saat inipun ia tahu bahwa Jonah tengah menahan tangis.


Ally bergerak maju berdekati Jonah lalu mengusap pundak pria itu. "Lebih baik kita tidur sekarang." ajaknya.


***


Bel berbunyi, Ally berlari kecil menuju pintu dari dapur, dalah hati ia bertanya-tanya apakah Jonah yang datang, padahal Jonah biasanya pulang sekitar 30 menitan lagi.

__ADS_1


Saat ia membuka pintu, rupanya yang menekan bel adalah kurir pengantar barang.


"Dengan Nona Ally?" tanyanya.


"Iya." angguk Ally


"Silakan tanda tangan disini." Ally meraih pulpen dan langsung menandatanginya.


"Terima kasih." kata gadis itu.


"Terima kasih kembali." Kurir itu lalu berjalan ke luar halaman sementara Ally mendorong dua kotak kardus itu masuk ke dalam rumah.


Beberapa hari yang lalu Ally menelpon Ibunya. Gadis itu meminta dikirimkan beberapa barang-barang favoritnya yang masih ada di rumah itu seperti dress, cat kuku, make-up, dan lainnya.


Gadis itu sibuk meng-unboxing kotak itu, terlalu berlarut-larut sampai akhirnya bel kembali berbunyi, dan kali ini yang datang pasti Jonah.


Pria itu melipat dahi ketika melihat dua buah box tergeletak di lantai, sebagian isinya telah dikeluarkan dan berserakan di lantai juga.


"Apa ini?"


"Barang-barangku. Aku meminta Ibuku untuk mengirimkannya."


"Kau menghinaku, ya?" sengit Jonah tiba-tiba.


"Apa maksudmu?"


"Kau yang apa maksudmu? kau meminta Ibumu untuk mengirimkan barang-barang ini, apa kau menghinaku?! apa kau kira aku tidak bisa membelikan ini semua untukmu, huh?"


"Bukan itu masalahnya. Tapi ini semua barang-barang kesayanganku, jadi aku minta dikirimkan."


Jonah menghela napas jengah. Harga dirinya merasa tercoreng. Tapi ia tak ingin menghakimi. "Baiklah, untuk kali ini saja. Jika sekali lagi kau meminta dikirimkan barang, liat saja apa yang akan kulakukan padamu," ucapnya.


Ally mengangguk malas.


"Jika kau ingin barang, bilang saja, biar kita beli. Jangan pernah mencoba menghinaku seperti ini lagi." tambah Jonah lagi, pria itu lantas berlalu menuju kamar tidur meninggalkan Ally.

__ADS_1


"Kau lihat itu, Lucy? ayahmu itu angkuh. Hal seperti ini saja bisa membuat harga dirinya terluka." bisik Ally pada kucing.


__ADS_2