
"Ah, sial." umpat Jonah.
Jonah kembali menyusuri jalan yang ia lalui sebelumnya. Berharap Ally tertinggal disitu.
Syukurlah, ia bernapas lega setelah melihat Ally tengah duduk disebuah bangku panjang dipojokan. Wajahnya terlihat cemas. Jonah tertawa melihatnya dari kejauhan.
Perlahan Jonah mendekatinya, tapi lewat belakang. Sengaja ingin mengagetkan Ally. Saat ia sudah semakin dekat, tiba-tiba saja datang dua orang laki-laki berpenampilan casual menghampiri Ally. Jonah segera mendekat lebih lagi demi mendengar percakapan mereka.
"Hai..." sapa salah satu diantara kedua anak laki-laki itu.
"H-hai..." sahut Ally.
"Daritadi kami memperhatikanmu. Apa kau sendirian? mau bergabung dengan kami?" ucap yang lainnya.
"Ah, ti-tidak. Aku, aku sedang menunggu temanku. Ya, sedang menunggu teman." jawab Ally gelagapan
Jonah menahan tawanya dari sisi lain. Ia yakin Ally pasti tertekan dengan orang asing yang seperti itu.
"Baiklah, kami akan menemanimu menunggu temanmu." ucap laki-laki yang memakai topi. Mereka kemudian duduk dengan Ally yang berada ditengah.
"Boleh kan kami duduk disini?" tanya laki-laki itu basa-basi.
Ally hanya mengangguk seadanya. Ia sangat canggung dan merasa tak nyaman. Apalagi dengan posisi mereka yang sangat dengat, Ally meresa terjepit diantara dua pria.
"Ngomong-ngomong, kau sedang menunggu teman pria atau wanita?" tanya laki-laki yang mengenakan hoddie hitam.
"Ah, em... laki-laki." sahut Ally.
"Wah, pacarmu, ya?" tambah yang satunya.
__ADS_1
"Ah, bu-bukan pacar tapi—"
"Oh, syukurlah bukan pacar. Berarti kau jomblo, kan? wah kenapa gadis secantik dirimu masih tak punya pacar? apa kau mau jadi pacarku?" sambar laki-laki yang memakai topi itu sambil tertawa.
Ally ikut tertawa hambar. Begitupun Jonah, pria itu cekikikan mengamati tingkah semuanya.
"Ngomong-ngomong kau dari sekolah mana?" tanya yang memakai topi.
"Ah, aku tidak—"
"Kami dari sekolah swasta paling bergengsi di kota ini. Kau pasti tahu sekolah kami kan." ujar laki-laki yang berhoddie hitam itu angkuh.
"Hey, berikan nomor teleponmu, dong." laki-laki bertopi itu segera menyodorkan ponselnya pada Ally.
"A-aku tidak hapal nomor teleponku, aku juga lupa membawa ponsel." jujur Ally.
"Yah, sayang sekali. Padahal aku ingin akrab denganmu."
"Ide bagus!"
Pria bertopi itu segera memilih opsi kamera lalu menjauhkan ponselnya untuk mengambil gambar. Dengan santainya ia merangkul pundak Ally, seakan-akan mereka adalah teman karib.
Baiklah, Jonah tak bisa tinggal diam jika istrinya disentuh orang lain. Apalagi bocah SMA yang tak tahu diri itu.
"Hey, cantik. Ayo senyum!" seru laki-laki yang memengang ponsel itu.
Tepat sebelum selfie itu ditangkap, Jonah terlebih dahulu merebut ponsel itu dari tangan laki-laki bertopi itu.
"Apa-apaan kau ini, huh?" kesalnya pada Jonah.
__ADS_1
"Tidak baik memaksa orang berselfie." ucap Jonah.
"Hey, apa masalahmu, hah? Siapa yang memaksa?! dia itu pacarku." kelakar bocah baru gede itu.
"Pacar, hm? kalau begitu kenalkan," Jonah mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. "aku suaminya," skakmat Jonah. "Ayo, Ally." ujarnya mengulurkankan tangan. Tanpa ragu Ally segera meraih dan memeluk lengan Jonah.
Mereka berlalu meninggalkan dua bocah SMA itu. "Wah, menikah muda rupanya." gumam yang memakai hoddie hitam sambil menggelengkan kepala seakan tak percaya.
"Sialan." umpat yang bertopi.
.
.
.
Jonah tak berhenti mentertawakan Ally. Sedari tadi gadis yang tangannya ia pegang itu hanya cemberut masam.
"Bagaimana bisa bocah sekolah menengah itu menggodamu, huh? sungguh konyol sekali." tawanya.
Ally mendengus kesal sembari melepaskan genggaman tangan Jonah. "Sudahlah! tidak ada yang lucu!"
"Apanya yang tidak lucu. Aku yakin kau takut pada dua bocah ingusan tadi." ucapnya tak berhenti tertawa. "Bisa-bisanya mereka mengira bahwa kau ini siswi SMA."
Ally mendelik. "Itu artinya aku masih terlihat imut dan awet muda." bela Ally pada dirinya.
"Apanya yang awet muda? itu berarti pertumbuhanmu sangat lambat," cela Jonah. "Lagipula sudah ku bilang untuk terus mengikutiku, kenapa kau malah duduk di tempat tadi?"
"Aku sudah berjalan mengikutimu, aku hanya menoleh sebentar sebuah toko yang menjual gaun, dan saat aku mengalihkan pandanganku, kau sudah hilang meninggalkanku. Ya sudah jadinya aku duduk saja karena tak tahu harus kemana." cerosos Ally.
__ADS_1
"Sudah ku katakan sebelumnya, kita bergandeng saja." Jonah mengusulkan beserta mengulurkan tangannya.
Ally menghela napas kasar, dengan malas ia menerima uluran tangan Jonah, tepat saat itu juga telapak tangan Jonah yang besar mengenggam penuh telapak tangan miliknya.