Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Kau Harus Ikut!


__ADS_3

Ketika Ally bangun pagi, ia mendapati Jonah tertidur di sampingnya dengan posisi sedang memeluknya. Hal yang bukan mengejutkan lagi baginya karena hampir setiap pagi ia selalu terbangun dengan lengan Jonah yang melingkar di pinggangnya.


Ketika ia berjalan keluar kamar, langkahnya sempat terhenti ketika melihat sekeliling. Jonah tak bercanda, pria itu benar-benar menempel figura-figura itu di dinding, beberapa di letakkan di meja, nakas, atau lemari pajangan.


Ally menghela napas panjang ketika mendapati beberapa figura juga tergantung di dinding dapur dan berdiri anggun di meja dapur.


Dan yang paling membuatnya kesal adalah satu figura berukuran besar ditempel di dinding kamar mandi. Bagaimana ia bisa mandi sedangkan potret Jonah yang sedang tersenyum itu sekan menatapnya? Tanpa pikir panjang ia segera menyingkirkan benda itu dari kamar mandi dan bersumpah akan memarahi Jonah saat pria itu bangun.


Namun saat setelah selesai mandi dan selesai membuat sarapan pria itu belum bangun juga. Ally berinisiatif membangunkannya.


"Hey, bangun ini sudah pukul delapan lewat, apa kau tidak bekerja hari ini?" ucapnya sembari menepuk-nepuk pipi Jonah.


Pria itu menggeram pelan. "Cepatlah bangun aku sudah memasak sarapan, akan dingin jika kau tak segera memakannya." ujar Ally, gadis itu menarik paksa selimut yang Jonah gunakan lalu melipatnya.


Jonah bangkit tanpa protes, ia segera beranjak menuju kamar mandi sementara Ally berada di halaman untuk menyapu membersihkan daun-daun yang berserakan di halaman, kebiasaan Ally di pagi hari.

__ADS_1


Saat ia masuk ke dalam rumah, ia mendapati Jonah tengah sibuk mengunyah sarapannya sambil sibuk memainkan ponsel.


"Ya, bodoh! hanya orang gila yang memajang foto di kamar mandi. Lain kali gunakan otakmu!" serang Ally mewujudkan niatnya memarahi Jonah.


Lelaki itu melirik Ally jengah lalu kembali fokus pada ponselnya. "Malam ini aku acara, kau harus ikut bersamaku." ucapnya tanpa menoleh.


"Untuk apa aku repot-repot ikut?"


"Rekan bisnisku baru saja mewarisi perusahaan ayahnya. Kau harus ikut, setidaknya aku punya hal untuk dipamerkan." terang Jonah.


"Kau? mau memamerkan, aku?" tanya Ally menunjuk dirinya sendiri.


"Dasar orang narsis! tidak usah datang jika gengsian."


"Ini acara penting. Jika tidak hadir harga diriku akan hancur!" Jonah menatap Ally sangar.

__ADS_1


"Ya sudah. Pergi saja sendiri, aku tidak tertarik ikut." tukas Ally, gadis itu bersedekap.


"Kau harus!"


"Aku tidak mau! jangan memaksa, ajak saja gadis kecilmu si Robin, atau ajak saja Jessie!" nada bicara gadis ini meninggi.


"Baiklah jika kau tidak mau ikut maka malam ini kau akan hilang keperawanan, bersiaplah malam ini aku akan mengambilnya paksa darimu!" seru Jonah frontal sembari menunjuk Ally.


Ekspresi kaget gadis itu tak bisa disembunyikan, Ally berusaha menutupinya dengan tertawa hambar. "Haha, kau tidak akan melakukan itu. Mana berani kau—"


"Aku tidak bercanda. Sekarang pun aku bisa melakukannya." Jonah berdiri dari duduknya lantas berjalan mendekati Ally. Gadis itu otomatis mengambil langkah mundur.


"Hey, hey, tunggu dulu—"


"Aku tak main-main dengan ucapanku barusan. Tapi kau punya kesempatan untuk bersedia ikut untuk selamat."

__ADS_1


Tatapan mata pria itu membuat Ally ciut. Dengan cepat gadis mengangguk dan bersuara keras. "Ya, baiklah! aku akan ikut kau malam ini!" teriaknya sambil menutup rapat kedua mata.


Jonah tersenyum miring merasa puas, pria itu kembali duduk untuk menghabiskan sisa sarapannya. "Acaranya jam delapan malam nanti." ucapnya sembari tersenyum bodoh ke arah Ally kini menatapnya dengan penuh kekesalan.


__ADS_2