Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Mall


__ADS_3

"Apa kau sudah pernah ke Ibu Kota sebelumnya?" tanya Jonah sambil fokus menyetir.


"Belum." sahut Ally.


Jonah melirik Ally, gadis itu tampak serius memandang keluar kaca mobil disamping. Memperhatikan gedung-gedung menjulang yang megah itu.


"Itu adalah hasil karya perusahaanku. Aku yang mendesain, bagus kan?" celetuk Jonah saat mereka melewati sebuah apartemen mewah.


Ally mendengus jengah. "Tidak. Biasa saja, sama saja dengan gedung lainnya." cetus Ally.


Jonah tertawa. "Tunggu sampai kau melihat sisi lainnya." pria itu membelokkan mobilnya untuk mencari veiw yang pas untuk memamerkan hasil kerja kerasnya itu.


"Apartemen ini rata-rata didiami oleh selebriti papan atas tanah air. Sangat berkelas, bukan?"


Ally memutar bola matanya malas.


"Lihatlah, aku yakin kau suka." sela Jonah membuat Ally refleks menatap apartemen yang bagian dari sisi lainnya menyerupai sebuah hutan vertikal. Tanaman hias merambat tumbuh disepanjang sisi belakang gedung itu, benar-benar seperti hutan ditengah-tengah modern nya kota. Dapat Ally lihat setiap balkon yang menyeruak keluar itu juga penuh dengan tanaman hias. Indah, Ally mengaguminya. Sangat enak untuk dipandang.


"Kalau kau suka, kau bisa ambil satu unit jika ingin tinggal disana." sela Jonah. Pria itu kembali menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya.


Sementara mobil berjalan, Ally masih ingin melihat gedung itu. Ia meliriknya dari kaca spion. Jonah yang menyadarinya tersenyum. "Sangat suka, ya?"

__ADS_1


Ally mengangkat bahu. "Indah, memang. Sesuai seleraku, aku suka dengan tema yang sejuk seperti itu. Mengingatkanku pada rumahku." ucapnya.


Jonah mengangguk paham. Kota tempat tinggal mereka waktu bersekolah dulu memang masih sangat asri. Meskipun kotanya maju, gedung pencakar langit masih tidak terlalu banyak. Kota itu memang terkenal dengan keindahan pemandangan dan wisata alamnya.


"Baiklah, kita sampai."


Ally dan Jonah turun bersamaan dari mobil. Wanita yang baru pertama kali ke tempat ini merasa takjub. Sungguh, semua bangunan di Ibu kota sangat megah. Bahkan, untuk ukuran sebuah pusat perbelanjaan sekalipun.


"Ayo masuk. Jangan hanya berdiri disana seperti orang bodoh." tegur Jonah melihat Ally yang berdiri mematung sembari mendongakkan kepala.


Wanita yang ditegur itu segera menyusul Jonah dan mengiringinya disamping.


"Astaga, banyak sekali orangnya." gumam Ally.


"Aku hanya ingin bahan makanan." jawan Ally.


Pria itu mengangguk-angguk. "Mau lihat-lihat dulu?" tawarnya.


Bagaikan anak kecil yang ditawari es krim, Ally mengangguk cepat dengan ekspresi wajah yang menggemaskan. Jonah tersenyum simpul.


"Baiklah, mari bergandengan atau kita akan terpisah." usul Jonah sembari mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Ally menatap sinis ke arah pria itu. "Tidak mau." titahnya.


Jonah berdecak sebal. "Jika kau hilang maka aku takkan mencarimu, aku akan langsung pulang."


"Ya! aku bukan anak kecil yang mudah tersesat, bodoh."


Jonah mendengus. Ia tak ingin berdebat dengan gadis pemarah itu di sini. Ia mengalah. "Baiklah, ikuti aku. Jangan jauh-jauh dariku." ingat Jonah.


"Hm." sahut Ally malas.


Pria tinggi itu mulai berjalan, Ally mengekornya. Mata gadis itu tak bisa berhenti melirik kesana-kemari, ini kali pertama baginya berada ditengah kerumunan disini.


"Jika ada yang ingin kau beli bilang saja." sela Jonah.


Ally berbinar mendengarnya. Gadis itu tersenyum lebar sampai semua giginya terlihat. Demi apapun, Jonah bersumpah Ally sangat menggemaskan. Ingin rasanya ia mencubit pipi kenyal gadis itu, tapi takut kalau-kalau Ally mengamuk. Gadis itu tidak bisa ditebak.


Pria bermarga Avery itu menaiki eskalator menuju lantai berikutnya sambil sesekali menoleh ke belakang memastikan Ally masih mengikutinya.


Jonah sesekali memberitahu Ally toko jenis apa aja yang mereka lewati sembari bercerita. "Kau tahu, Mall ini juga salah satu rancanganku. Ah, tidak, lebih tepatnya ideku. Saat aku masih bersekolah dulu, pamanku menelpon dan bertanya apakah aku ingin menyalurkan bakatku untuk sebuah pembangunan yang akan ia kerjakan, laku aku menyalurkan ideku. Bisa dibilang aku juga ikut andil dalam pembangunan Mall ini. Sisa—"


Jonah tak menyadari kapan, tapi saat ia berbalik sekedar ingin melihat ekspresi wajah istrinya itu terhadap ceritanya, Ally sudah tidak ada. Sedari tadi mungkin Jonah hanya berbicara sendiri.

__ADS_1


"Ah, sial." umpat Jonah.


__ADS_2