Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Masalalu (Jonah)


__ADS_3

Jonah tertunduk lesu di hadapan Guru. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah, pasalnya benda itu jelas-jelas berada di dalam tasnya ketika pemeriksaan.


"Silakan hukum saya dengan apapun, asal jangan surat panggilan orang tua." Jonah berusaha bernegosiasi.


Ibu guru di hadapannya menghela napas panjang. "Baiklah, anggap saja ini keringanan karena kamu anak yang berprestasi di kelas kita. Ibu harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, pastikan kau mengisi tasmu dengan buku-buku pelajaran saja, jangan sampai membawa majalah dewasa seperti ini lagi,"


"Kali ini saya hanya akan memberi poin peringatan dan pengurangan nilai."


Jonah mengangguk pasrah.


"Baiklah, silakan keluar."


Laki-laki itu pamit dengan sopan lalu berjalan keluar dengan langkah berat. Meratapi nilainya yang berkurang hanya karena fitnah.


Tentu saja ia tahu siapa pelakunya. Tidak ada orang yang berani atau nekat melakukan hal semacam itu padanya.


Saat bel pulang sekolah berbunyi, ketika gadis itu ingin keluar kelas, dengan gesit Jonah menarik tangannya. Menyeret gadis itu ke arah lorong yang sudah mulai sepi.


Ally menepis kasar cengkraman tangan Jonah. "Apa-apaan kau ini, huh?!!"

__ADS_1


Jonah mendorong tubuh Ally agar menyandar ke dinding, lalu mengurungnya menggunakan kedua lengannya yang bertumpu di dinding.


"Kau yang memasukkan majalah porno itu ke dalam tas ku?!"


Ekspresi takut gadis itu terlalu kentara, tapi gadis itu selalu berusaha menutupinya. Ally mendengus jengah sembari memalingkan wajahnya. Jonah yang kesal segera meraih rahang gadis itu agar bisa menatapnya. "Jawab!!" tegasnya.


"Bukan aku!!" sahut Ally lantang.


"Kau pikir aku tidak tahu, hm? kau pikir aku ini bodoh? jika bukan dirimu lalu siapa lagi?!"


"Mana aku tahu! minggir!" Ally menunduk ingin melewati tangan Jonah dan keluar dari kungkungannya, tapi anak laki-laki itu dengan cepat menahannya.


Beberapa murid yang melewati mereka menatap penasaran tapi takut untuk mengusik. Mereka lebih memilih berjalan cepat berusah mengabaikan.


"Kuberi waktu satu menit untuk mengaku, jika tidak aku akan menyekapmu di gudang sekolah."


Ally meringis mendengarnya, apalagi cengkraman Jonah pada lengannya makin kuat. Hal itu saja sudah cukup membuat nyalinya ciut.


"Memangnya kenapa jika memang aku, huh?!! kau ingin melaporkanku? apa kau punya bukti, huh?!" ucapnya bergetar.

__ADS_1


"Benar-benar licik. Kau tahu kelakuanmu itu sangat rendahan? Cih, tak tahu malu!" Jonah menyorotnya tajam.


"Dari awal memang kau yang terlalu angkuh. Kau yang lebih dulu cari masalah terhadapku."


"Hanya karena kau tidak bisa mengalahkanku kau nekat melakukan hal memalukan seperti ini?! apa kau masih punya harga diri?" usik Jonah.


"Ini semua kau yang memulai. Akan kuberitahu, kau salah memilih musuh!"


"Gadis sampah sepertimu tidak akan bisa menandingiku! tunjukkan jika memang kau itu tidak bodoh dan bisa merebut posisiku. Tapi sepertinya mustahil karena otakmu tidak ada." cela Jonah sambil bersedekap.


"Baiklah, aku masih punya banyak cara curang untuk menghadapimu. Tunggu saja masalah untukmu yang selanjutnya."


"Jadi kau ingin bermain kotor. Baiklah, jangan kira aku juga tak punya cara!" sahut Jonah lagi.


"Terserah, aku tidak takut padamu." desis Ally mendongak menatap Jonah.


"Baiklah, aku hanya ingin bilang bahwa jangan sampai kau menyesal."


"Tidak akan." tukas Ally.

__ADS_1


"Kalau begitu, akhir tahun ajaran nanti jangan menangis jika ternyata tetap aku yang jadi nomor satu." seringai Jonah.


__ADS_2