
"Cepatlah, kenapa lama sekali?!" Ally menatap jengkel ke arah Jonah yang sibuk mondar-mandir di depan cermin.
"Bagaimana penampilanku?" tanya pria itu.
Ally menghela napas sabar. "Sudah cocok. Ayo berangkat sekarang."
Jonah menatapi dirinya kembali di cermin. Pria itu lalu memasang jas.
"Astaga, sudah ku bilang jangan memakai jas. Ini bukan acara formal. Ini hanya reuni kecil angkatan kita." protes Ally.
Jonah mamayunkan bibirnya lalu melepas jas itu lagi. Kini di tubuhnya hanya tersisa kemeja putih.
"Begitu lebih bagus." cicit Ally meyakinkan.
Jonah akhirnya menangguk, sebelum keluar kamar pria itu menyemprotkan banyak sekali parfum. Ally hanya menggeleng tak habis pikir.
Sebelum berangkat mereka berpamitan lebih dulu pada Diva. Sebelum akhirnya benar-benar berangkat.
Diperjalanan menuju lokasi, kedua sejoli itu kembali sedikit bernostalgia dengan masa lalu. Sebenarnya dibandingkan dengan Ally, yang paling merindukan kota ini adalah Jonah.
"Wah, Cafe itu masih buka rupanya. Terakhir kali aku ke situ adalah dua hari sebelum ujian kelulusan." seru Jonah menunjuk sebuah Cafe kecil aesthetic di pinggir jalan.
Tak banyak yang berubah dari kota ini selang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Hanya saja ada sedikit upgrade pada pusat kota seperti penambahan fasilitas umum dan pergantian cat beberapa bangunan.
Ally mendengarkan cerita Jonah sambil tersenyum dan hanya menyahut sedikit-sedikit, pasalnya Jonah terlihat sangat semangat saat ini.
"Benar jalan ini bukan?"
"Iya." sahut Ally.
"Wah aku hampir lupa." di sepertigaan terakhir Jonah membelokkan mobilnya ke kanan, lalu tak lama terlihatlah sebuah bagunan besar yaitu sekolahnya. Melalui ingatannya, setau Jonah yang berubah hanyalah gerbang yang di ganti dan cat gedung itu yang berwarna cokelat muda sedangkan dulunya adalah putih.
"Wah, rasanya seperti aku baru lulus kemaren." cicit Jonah. Pria itu sengaja melambatkan laju mobilnya untuk memandangi gedung itu lebih lama.
Kemudian merekapun sampai pada tempat tujuan. Sebuah restoran mewah yang tak jauh letaknya dari gedung sekolah. Nampak di depannya banyak mobil dan motor yang terparkir. Setelah mendapat lahan parkir, keduanya lalu turun dari mobil dan berjalan memasuki restoran. Sebelumnya Luna sudah mengirim pesan singkat pada Ally untuk mengatakan bahwa acara reuni ada di lantai dua.
"Kau gugup?" sela Jonah.
"Ha? oh, tidak." sahut Ally.
"Kenapa tanganmu dingin?"
Ally langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Jonah. "Hanya perasaanmu saja." Ia lalu berjalan sedikit lebih cepat mendahului Jonah. Semakin menapaki anak tangga semakin sayup-sayup terdengar suara bising.
Hingga sampailah mereka di anak tangga terakhir yang langsung menunjukkan sebuah ruangan luas tanpa sekat, meja-meja bundar dengan beberapa kursi yang mengelilinganya tersebar berjarak di perjuru sisi, dan sebuah panggung di tengah depan ruangan.
"Ally!" beberapa wanita berlari mendekati Ally dan Jonah. Wanita-wanita itu segera memeluk Ally.
"Rose, Emily, Sofia!" pekik Ally menyebutkan nama masing-masing temannya itu.
"Ya Tuhan, lihatlah gadis paling cantik di kelas kita ini. Kau makin cantik!" seru gadis yang bernama Rose memuji Ally.
"Ah, kau ini bisa saja." bantah Ally yang tersipu.
"Ayo, ikuti kami. Daritadi Luna selalu mencarimu." Ketiga perempuan itu menarik Ally mendekat ke sebuah meja di tengah ruangan.
Jonah yang terabaikan hanya bisa menghela napas. Pria itu berjalan perlahan mendekati kerumunan.
"Hey, Jonah!" seorang pria dimeja bagian kanan memanggilnya sambil melambai. Jonah tersenyum lalu melangkah mendekat.
"Wah, lihat siapa ini." pria itu menepuk pundak Jonah yang baru saja duduk.
"Aku curiga setelah 5 tahun kau telah melupakan kami." timpal pria yang lainnya lagi.
"Roy, si rangking 3. Hans, si tukang bolos, Alex si rangking terakhir, dan Zach sang playboy." titah Jonah yang membuat semua pria di meja itu tertawa.
"Wah, ingatanmu lumayan." sela Roy.
"Omong-omong, tadi aku melihat kau berjalan beriringan dengan Ally, apa kau datang bersamanya?" tanya Zach.
"Tidak. Hanya kebetulan tak sengaja berbarengan saja." jawab Jonah berbohong.
"Wah, biasanya gadis itu tak sudi berada dalam jarak kurang dari satu meter darimu. Kali ini kenapa dia tidak menghiraukanmu, ya?" tambah Hans.
"Mungkin dia sudah lupa tentang permusuhan mereka." tutur Alex.
"Aku bahkan ingat saat upacara kelulusan Ally berteriak ke arah Jonah 'Ku harap kita tak pernah bertemu lagi!'" ucap Hans mencoba menirukan suara Ally yang membuat semua orang di meja itu tertawa.
__ADS_1
"Haha, aku ingat itu. Astaga gadis itu sangat galak terhadap Jonah. Tapi yang paling penting dia itu salah satu primadona sekolah kita. Satu-satunya golongan gadis tercantik yang belum pernah ditaklukan." cicit Zach.
"Gadis itu tak peduli dengan urusan asmara. Dia sibuk belajar agar mengalahkan Jonah. Tapi tetap saja di ujian terakhir, Jonah tetap jadi peringkat pertama." sela Roy.
"Seharusnhya kau terima saja tawarannya waktu itu. Biarkan dia rangking satu dan dia akan jadi pacarmu. Seandainya aku jadi dirimu aku takkan menyia-nyiakan kesempatan emas itu." celetuk Zach sambil menyesap minuman dihadapannya.
Jonah hanya diam dengan tampang tak peduli menanggapi ocehan teman-temannya itu. Sedangkan matanya fokus memperhatikan Ally di meja tengah. Gadis itu terlihat sangat bahagia, senyum lebar selalu terukir di wajah cantiknya itu. Hal itu entah kenapa membuat Jonah menjadi sedikit merasa iri, karena senyum tawa indah itu jarang sekali Ally tunjukkan padanya.
"Kau sudah punya pacar, Jonah?" tanya Zach yang membuat Jonah menoleh.
"Oh, tidak." sahut Jonah cepat.
"Kebetulan sekali. Aku punya teman wanita, dia sangat cantik, aku yakin dia cocok denganmu. Jika kau tertarik akan ku beri nomornya." tawar Zach.
"Tidak. Terimakasih."
"Atau kau ingin melihat fotonya dulu? aku ada fotonya." Zach langsung mengeluarkan ponselnya.
"Tidak perlu." kata Jonah dengan nada yang sedikit di tekankan.
"Aih, kau ini. Ku dengar kau sering ganti-ganti pacar dan sekarang malah berpura-pura naif." cela Zach.
"Kata siapa?" cerca Jonah langsung.
"Robin." sahut Zach.
"Kau kenal Robin?" Jonah nampak kaget.
"Dia sepupu jauhku." jawaban dari Zach itu makin membuat Jonah kaget.
"Apa saja yang dia katakan padamu?!" desak Jonah.
"Itu saja. Itu juga dulu ketika aku bertemu dengannya di acara keluarga. Sekarang aku bahkan tak tahu bagaimana kabar orang." jelas Zach.
Jonah menghela napas lega. Ia takut jika pernikahannya dengan Ally yang terbongkar, bukan apa-apa, Jonah hanya malas apabila diserang dengan pertanyaan-pertanyaan. Maka dari itu ia lebih memilih tidak memberitahu siapapun.
"Wahai, teman-temanku sekalian. Selamat datang di acara reuni kali ini. Sejak upacara kelulusan sekitar 5 tahun yang lalu akhirnya kita semua dapat berkumpul kembali." Tony yang profesi adalah seorang MC dengan semangat membawakan acara.
"Mari kita ucapkan terima kasih kepada Gio selaku pencetus ide brilian ini. Dan teman-teman sekalian terima kasih atas ketersediaan hadirnya." Seluruh orang di ruangan itu memberikan tepuk tangan meriahnya.
"Sebelum itu, ada sebuah kejutan kecil untuk seseorang." sang MC menjeda ucapannya, lalu menatap agak lama ke arah Ally.
Ally pun menurut, dengan hati yang gembira sekaligus penuh penasaran ia menaiki panggung. Ia mengira bahwa teman-temannya akan memberikan kejutan indah untuknya.
Tony sang MC, lalu turun dari panggung berbarengan dengan Gio yang menaiki panggung.
Ally menyambut Gio dengan senyuman, sementara orang-orang semakin ramai bersorak. Sedangkan Jonah memantau situasi itu dengan tatapan tajam.
Tony mengisyaratkan agar semua teman-teman reuni itu diam, barulah Gio mulai berbicara.
"Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk hadir disini. Terutama kau, Ally." gadis di atas panggung itu tersenyum agak kikuk.
"Sebenarnya ada hal yang ingin ku sampaikan," Gio menjeda ucapannya. "Aku menyukaimu sejak kita masih SMA, semua orang tahu, dan aku yakin kau pasti juga tahu akan hal itu. Setelah lulus SMA, aku harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikanku, dan hari ini aku kembali ke kota ini bukan tanpa alasan." semua orang diam, menunggu Gio melanjutkan ucapannya.
Gio lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya. Ia lalu berlutut di hadapan Ally sambil menyodorkan kotak cincin yang terbuka tersebut pada Ally. "Allyssia Heron, will you marry me?" tuturnya.
Ruangan kembali dipenuhi riuh oleh sorak. Teman-teman seangkatannya mendesak agar Ally menerima lamaran itu. Ally yang terkejut hanya bisa mematung di tempat. Sementara Luna dan Zico yang mengetahui segalanya tentang Ally menatap was-was ke arah Jonah.
"Terima! terima! terima!" penonton yang antusias semakin mendesak.
"Omong kosong macam apa ini?!" Jonah menatap kesal kearah dua orang diatas panggung itu. Melihat Ally yang kebingungan tanpa tahu harus bertindak apa, membuat Jonah semakin muak. Pria itu lantas berdiri dan berjalan ke arah panggung dengan langkah tergesa-gesa. Semua orang di ruangan itu refleks menatapnya.
Jonah lalu naik ke atas panggung dan segera menarik tangan Ally. Gio yang tadinya berlutut langsung berdiri.
"Apa-apaan kau, Jonah?" tanya Gio heran.
"Kau yang apa-apaan!" bentak Jonah dengan raut wajah kesal.
"Perhatian semuanya!" teriak Jonah. "Gadis disampingku ini bukan Allyssia Heron." Jonah mengedarkan pandangannya menatapi semua orang di ruangan itu, memastikan semua orang itu memperhatikannya. "Tapi Allyssia Avery!" seru Jonah sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya. Segera setelah berucap barusan, Jonah langsung menarik tangan Ally untuk membawanya keluar dari gedung itu dengan tergesa-gesa. Mereka meninggalkan semua teman-teman di ruangan reuni yang kini tengah sibuk bertanya-tanya dengan reaksi tak percaya.
"Masuk." perintah Jonah saat mereka tiba di parkiran mobil. Ally pun menurut. Setelah berada di dalam mobil Jonah segera menginjak dalam pedal gas. Mobil melaju dengan cepat.
Ally menjadi ketakutan. "Jonah pelankan mobilnya!"
Jonah tak menghiraukannya. Pria itu malah menginjak gas lebih dalam. Dengan gesit ia menyalip beberapa mobil di depannya.
"Jonah kau ingin mati?!" jerit Ally was-was. Lagi-lagi Jonah semakin menaikkan kecepatan mobilnya.
__ADS_1
"Ya! Jonah berhenti!" Ally benar-benar ketakutan. Napasnya sampai tersengal.
"Jonah berhenti!!" teriak Ally sekencang-kencangnya.
Jonah menginjak rem secara tiba-tiba. Hal itu membuat mereka menjadi tersentak ke depan. Mobil mereka berhenti di jembatan.
"Ya! kenapa malah di rem mendadak?! itu berbahaya!" protes Ally lagi.
"Tadi kau yang menyuruhku berhenti!" Jonah lalu membuka pintu dan keluar dari mobil. Pria itu bediri di samping pagar jembatan.
Ally lalu ikut turun dari mobil dan mendekati Jonah. "Kau kenapa?" tanyanya halus.
"Kesal." sahut Jonah acuh.
"Aku minta maaf." tutur Ally
"Kenapa tadi kau hanya diam saja saat dia berlutut di hadapanmu?" ucap Jonah dengan nada ketus.
"Aku terkejut dan tak mengira hal itu akan terjadi. Aku bingung harus bagaimana." Sumpah. Ally benar-benar tak mengira hal itu akan terjadi.
"Kau pasti ingin menerima lamarannya." cicit Jonah.
"Astaga bukannya begitu. Aku hanya kaget." bantah Ally.
Jonah tak menanggapinya lagi. Pria itu hanya diam menatapi laut.
"Lagipula... kau kan tak menyukaiku, kenapa kau bersikap berlebihan?" tanya Ally dengan sedikit tawa di ujung kalimat.
"Karena kau istriku. Tak peduli apapun, jika sesuatu sudah menjadi milikku maka orang lain tak boleh mengusikknya, terlepas dari aku suka atau tak suka." tegas Jonah beralasan, meskipun jauh di lubuk hatinya ada rasa sedikit rasa cemburu yang membuatnya bersikap berlebihan.
"Dia tak berniat mengusik. Dia hanya tak tahu bahwa aku sudah menikah. Kau sangat berlebihan." koreksi Ally dengan tawa kecil. Sumpah, Jonah saat ini sangat menggemaskan baginya.
"Kau membelanya? Kau menyebutku berlebihan? pikirkan saja, seseorang melamar istri orang dan parahnya lagi hal itu di depan suaminya sendiri. Aku tak habis pikir." dengus Jonah.
"Ayolah, sudah kubilang Gio hanya tak tahu." tukas Ally meyakinkan.
Jonah lagi-lagi diam tak menanggapi. Ada sekitar dua menitan mereka hanya bungkam tanpa suara.
"Kau pulang saja naik taksi, aku akan bermalam disini." celetuk Jonah buka suara.
Ally tertawa seketika mendengarnya. Pasalnya Jonah mengucapkan kalimat itu dengan wajah masam.
"Apa yang lucu?"
"Kau seperti anak kecil yang merajuk karena tidak di belikan es krim." kekeh Ally.
"Terserah apa katamu. Aku akan bermalam disini."
Ally lagi-lagi tertawa. "Ayolah, jangan aneh-aneh." bujuk Ally menarik tangan Jonah agar pria itu masuk ke dalam mobil.
Tapi dengan cepat Jonah menepisnya. "Tidak mau."
Ally menggeleng heran, ia bingung apakah harus kesal atau tertawa melihat kelakuan Jonah.
"Kau panggil taksi saja." tukas Jonah lagi.
Ally menghela napas masih dengan sedikit tawanya. Lalu sebuah ide terlintas di kepalanya, cara untuk membujuk pria seperti Jonah.
Gadis itu lalu memajukan wajahnya pada wajah Jonah, sehingga jarak yang tersisa antara mereka sangat tipis sekali.
Gadis itu tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Jonah setelahnya. "Ayo, pulang." rayu Ally.
Jonah terpaku sesaat. Ia tak mengira gadis itu berani melakukan hal seperti barusan. Perlahan sudut bibirnya terangkat naik.
"Ayo pulang. Kau tidak akan bermalam disini, kan?" kekeh Ally.
Jonah tersenyum lebar sampai giginya terlihat. "Iya. Ayo pulang disini banyak nyamuk." Keduanya lalu kembali masuk kedalam mobil untuk meneruskan perjalanan pulang.
*****
makin lama makin gaje aja ni cerita :')
btw, itu bukan visualnya ya. Iseng aja author nambahin ilustrasi hehe
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote nya ><
^^^See you~^^^