
"Rey." akting Reano sok lemah. Mita yang mengintip mereka dari luar hanya bisa menahan tawanya.
"Ya yah? mau apa?" tanya Rey. Untuk kali ini Rey mencoba menghilangkan sifat dinginnya.
Kemana sifat dinginnya? Ah nanti lah. Yang penting permintaan! batin Reano.
"Menikahlah dengan Bulan dan tinggalkan Ruby!" ucap Reano.
"Apa? gak!" jawab Rey kembali dingin.
Gerem gua. Pengen gua remas-remas ni anak satu. Buat gua kesal mulu. Sifat yang ini udah pasti keturunan Mita. Keras kepala! batin Reano
"Kamu mau Ayah senang dan Ayah cepat sembuhkan?" tanya Reano. Dengan polosnya Rey mengangguk pelan.
"Ayah senang kalau kau nikah sama Bulan. Dengan itu Ayah akan sembuh cepat!" ucap Reano.
"Yaudah, Ayah di rumah sakit aja. Ga usah sembuh. Nanti sembuh sendiri!" ucap Rey. Reano terkejut dengan perkataan Rey. Ingin sekali ia beradu argumen dengan anak sulungnya itu. Tapi ia tahan, karna saat ini ia sedang berakting.
"Yaudah. Titip salam sama bunda ya!" ucap Reano.
"Ngapain titip salam. Orang Ayah cuman akting!" ucap Rey. Reano terbelalak. Seberapa pintar anaknya ini? Berapa IQnya? kenapa ketahuan? padahal sedari tadi dia sudah berakting secara natural.
Oke kita ketauan dan ini bukan salah gua! batin Reano.
"Ini make Up!" ucap Rey sambil menunjuk luka pada tubuh Reano. Reano pun memukul jidatnya.
"Dan kalau Ayah kritis, kenapa pendeteksi jantungnya, manandakan detak jantung Ayah normal?" jelas Rey.
Oke kita kalah sama anak pintar ini! pantas saja perusahaan sangat maju di tangannya. Berapa sih IQ Rey? kalau IQ gua aja tinggi apa lagi dia? batin Reano. Mita pun masuk kedalam ruangan Reano.
"Besok kamu nikah sama Bulan!" ucap Mita.
"Gak!" jawab Rey. Mita pun menarik telinga Rey.
"Nikah gak sama Bulan!" ucap Mita sedang berjinjit agar sama tinggi dengan Rey dan bisa menarik telinganya. Saat Mita menariknya dengan kuat, Rey masih dengan gayanya yang cool.
"Gak! Bunda pendek sih. Gak kerasa sakit di telinga Rey!" ucap Rey santai. Mita mendengar nada bicara Rey yang santai langsung menurunkan tangannya. Ia terkejut dengan perubahan anaknya. Di masa senggang seperti ini, Rey langsung lari keluar dari kamar Reano.
"Anak lu pintar Re!" ucap Zyan. "Rencana gua di rusak dengan mulus sama dia. Pertama dia pura-pura panik dan kedua dia buat lu skak mat!" ucap Zyan.
__ADS_1
"Oke pernikahan batal!" ucap Arzi.
"No! Gua ada cara lain!" ucap Reano.
•••
Bulan sedang mengejar Rey. Ia perlu berbicara dengan Rey.
"Kak Rey!" panggil Bulan. Rey pun menoleh dan melihat Bulan.
"Hm?" ucap Rey.
"Kakak kenal wanita yang bernama Ruby?" tanya Bulan.
"Dia kekasih ku. Kenapa?!" tanya Rey kembali dingin. Bulan pun terkejut dengan penuturan kata dari Rey. Seakan ia tak suka Bulan membicarakan tentang Ruby.
"Kenapa kakak gak bilang aja kalau kakak udah punya kekasih. Dengan begitu kita bisa batal nikah!" ucap Bulan.
"Mereka gak suka Ruby." jawab Rey singkat lalu masuk kedalam mobilnya.
"Kak, mungkin ada cara lain!" ucap Bulan di depan jendela mobil Rey.
"Jangan mengusikku!" ucap Rey.
"Kenapa dia selalu seenk jidat saja memperlakukan orang lain! Awas saja kau kak. Jika kita menikah nanti aku akan membuat mu jatuh cinta kepada ku dan meninggalkan bati akik itu!" gumam Bulan.
•••
"Wah, lu mau ngerusak anak gua? ya kali kayak kita dulu. Kaga!" tolak Arzi.
"Yaelah Zi. Dengan cara itu Rey mau nikah sama anak lu!" ucap Reani.
"Ya kaga usah cara yang dulu!" ucap Arzi.
"Cara dulu? Oh lu yang masukin perangsang di air minum gua?" tanya Ciko.
"Kaga gua aja. Zyan juga noh!" ucap Reano.
"Nyalahin gua lu. Reano sendirian gua gak ikut apa-apa, gelud aja langsung, gelud!" ucap Zyan.
__ADS_1
"Sesat lu Zyan!" ucap Reano.
"Oh berarti lo juga yang letak perangsang di minuman dan menanipulasi pakaian gue?" tanya Katya.
"Itu kerjaan Verly!" ucap Reano.
"Apaan gue. Mita yang punya ide!" ucap Verly.
"Dah lah, gelud-gelud!" ucap Arumi.
"Diam!" ucap mereka semua serentak. Arumi pun kaget.
"Yah, berantem mulu. Bosan gua! Stel, keluar yuk!" ucap Elang.
"Kenapa bawa aku? aku mau keluar sama Risa. Kamu keluarnya sama Vano aja. Ayo Risa!" ucap Stella sambil menarik Risa.
"Gagal lagi, gagal lagi. Nasib gua gagal mulu!" ucap Elang.
"Sabar bro. Gua bantu kok!" ucap Vano.
"Lah malas, lu bantu gua kagak iklas!" ucap Elang.
"Ya karna lu gak cocok buat jadi kakak ipar gua!" ucap Vano.
"Sialan lu Vano!" ucap Elang sambil memukul perut Vano.
"****** lu Lang!" ucap Vano sambil menahan sakitnya di area perut. Elang pun lari dari sana, Vano pun segera mengejarnya.
•••
"Gak gitu juga ferguso!" ucap Arzi.
"Eh, atas apa lu manggil gua ferguso?" tanya Reano.
"Woy Udin. Otak lu udah di cuci pake deterjen belum?" tanya Zyan. Reano pun menatap Zyan tajam. "Kalau belum, ya pantas lu bego!" ucap Zyan. Reano pun turun dari ranjang sakitnya dan memukul Zyan. Jika ada Elang, mungkin Ia akan mengejek Papanya saat ini.
"Sialan Reano!" ucap Zyan kesal.
"Dah-dah balek!" ucap Mita. Mita, Arumi, Verly dan Katya pun menarik suami mereka untuk pulang.
__ADS_1
•••Bersambung...
Jangan lupa comment dan like ya. Gak tau kenapa likenya menurun. Author mohon maaf kalaua author ada salah sama kalian 🙏