
"Ya! Tunggu sebentar!" Ally berlari kecil menuju pintu depan. Bunyi bel yang ditekan berkali-kali sukses membuatnya kesal.
"Kenapa lama sekali?!" ketus Jonah dengan ekspresi tak kalah kesalnya dengan Ally saat dibukakan pintu.
"Aku sedang dalam kamar mandi!"
Jonah memutar bola matanya malas. Pria itu melemparkan jas dan tas kantornya sembarang ke sofa, disusul dengan menjatuhkan dirinya sendiri keatas sofa itu pula.
"Kau sudah menyiapkan air hangat untukku?" tanyanya menatap Ally sedangkan tangannya bergerak melepas dasi.
Ah, Ally benar-benar lupa. "Belum." jujurnya.
"Aish... kau ini, bukankah sudah ku peringatkan?!"
"Ya, baiklah, aku lupa! akan ku siapkan sekarang, tidak usah melotot seperti itu!" wanita itu segera pergi dari hadapan Jonah, berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Jonah menghela napas sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ally. Dari dulu memang perempuan pemarah itu tak banyak berubah.
Mata Jonah kini menangkap sebuah bingkai besar yang terpajang di dinding. Ah, bagaimana bisa ia tak memperhatikan benda sebesar ini saat pertama kali memasuki rumah tadi.
Isi kepalanya sibuk mempertanyakan kenapa foto ini bisa bertengger indah di dinding ruang tamu rumahnya.
__ADS_1
"Air hangatnya sudah siap. Apa lagi sekarang? kau ingin aku menyiapkanmu makanan lalu menyuapimu?" ketus Ally yang tiba-tiba sudah ada di samping Jonah.
"Jika kau tidak keberatan, lakukan saja," sahut Jonah, sudut bibirnya terangkat. "Sebenarnya aku heran, kenapa foto ini bisa jadi ada disini? apakah kau yang menggantungnya?" tanya Jonah.
"Heh," Ally tertawa sinis. "Yang benar saja, aku bahkan muak melihat foto itu."
"Lalu siapa? tidak mungkin kan foto itu bisa tiba-tiba ada disitu dengan sendirinya?"
"Ibumu pagi tadi datang kemari. Itu hadiah darinya." jelas Ally.
"Wah, Ibuku baik sekali." celetuk Jonah. Pria itu tak habis pikir dengan Ibunya sendiri. Ada-ada saja.
"Apa itu?"
"Sebaiknya kau lihat sendiri ke dalam kamar."
Jonah segera menuju kamar setelah Ally berkata demikian. Begitupun Ally, wanita itu mengekor dibelakang. Dihadapan pintu, tanpa basa-basi lagi Jonah segera mendorong knop pintu agar terbuka.
Penampakan pertama yang ia lihat adalah kemegahan sebuah ranjang ukurang King-Size yang menggantikan ranjang terpisah sebelumnya.
Pria itu hanya tertegun dan hanya sedikit tawa kecil karena tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Saat berkunjung tadi pagi, tak hanya memberikan bingkai foto besar tadi, Jane juga berinisiatif menggantikan ranjang pengantin baru yang terpisah tersebut. Tentu saja dengan meminta persetujuan Ally, wanita itu bertanya kepada menantunya apakah tidak apa jika harus seranjang lagi dengan Jonah? dan Ally pun mengiyakan sambil berkata bahwa memang seharusnya begitu.
Akhirnya seperti inilah jadinya.
***
Suara gemuruh dan petir sesekali menggema. Hujan yang begitu deras sejak sore tadi tak kunjung reda, justru makin lebat. Setelah selesai makan malam, Ally seperti biasa selalu menonton tv, wanita itu menyukai saluran berita.
"Seorang istri nekat membunuh suaminya sendiri karena diselingkuhi..." Jonah datang dengan secangkir kopi panas ditangannya dan ikut bergabung duduk di sofa dekat Ally. "Tega sekali." komentarnya.
"Apanya yang tega? Justru yang tega itu suaminya." sahut Ally.
"Suami hanya selingkuh saja, dan sang istri tega menghabisi nyawanya? yang benar saja?! itu keterlaluan." Jonah tak ingin kalah.
"Jika sang suami tidak selingkuh, maka sang istri pasti tidak akan membunuhnya. Itu akibat dari ulahnya sendiri." bela Ally.
"Memberinya pelajaran dengan membunuhnya? apa itu sepadan?!" Pria itu menyahut.
"Kau pikir tidak sakit apa rasanya dikhianati?! jika— aaaaaaaaakkkkkkk!!" Jeritan Ally menggelegar ketika kilat dan petir menyambar nyaring bersamaan dengan padamnya listrik.
"Ya Tuhan, listriknya mati." ujar Jonah. "Sepertinya akibat hujan ini." Jonah berasumsi.
__ADS_1