
Pagi harinya, Risa sudah sampai dirumah sakit tempat Galang di rawat. Ia langsung masuk ke kamar Galang karna tidak ada yang menjaga Galang
"Udah bangun?" tanya Risa menghampiri Galang.
"Ayah sama bunda mana?" tanya Galang.
"Aku gak liat, tadi waktu aku kesini gak ada siapa-siapa." ucap Risa. Raut muka Galang pun berubah drastis.
"Lihat lah, di saat aku sakit mereka selalu saja egois. Salah ku apa? Emang salah aku lahir diantara mereka?" ucap Galang dengan
"Galang, kamu gak boleh ngomong gitu. Mereka pasti senang banget waktu kamu lahir!" ucap Galang.
"Dan kenyataannya lebih sakit dari pada apa yang kau katakan!" ucap Galang.
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu ngomong kayak gitu sama orang tua kamu?" tanya Risa.
"Mereka egois, gak perduliin aku, gak didik aku dengan benar sampai aku kayak gini, Dan gak pernah kasih aku kasih sayang yang layak kayak anak-anak lain!" ucap Galang.
"Tapi aku lihat Papa kamu sayang banget sama kamu!" ucap Risa.
"Dia sering marah sama aku" jawab Galang.
"Kamu udah mikir belum kenapa Papa kamu marah?" tanya Risa.
"Mungkin karna aku selalu mengecewakan!" ucap Galang. "Di tambah jantung tidak berguna ini! Aku menyusahkan!" ucap Galang sambil memukul dadanya. Dengan cepat Risa memegang tangan Galang.
"Galang! tenang dulu, jangan salahkan diri kamu atas apa yang terjadi. Papa kamu itu sayang sama kamu, begitu pun Mama kamu. Mereka berdua sayang kamu. Karna kamu mengecewakan mereka dengan sikap kamu, makanya mereka jadi seperti ini. Kamu harus berubah Galang!" ucap Risa. Galang pun terdiam.
"Gimana caranya? Aku udah terjerumus dalam. Kamu mana mungkin mau nerima aku, kamu pasti gak percaya juga apa yang aku katakan tadi." ucap Galang lirih.
"Aku liat kamu itu serius. Aku bisa baca dari mata kamu." ucap Risa tersenyum manis.
__ADS_1
"Jadi? jawabannya?" tanya Galang.
"Mari di coba!" jawab Risa. Galang senang bukan kepalang mendengar apa yang di katakan Risa. Risa pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Galang.
"Aku bakalan berubah, dengan adanya kamu, aku jadi mudah berubah. Makasih banyak ya!" ucap Galang. Risa pun mengangguk. Sementara di luar ada Reano, Mita dan Dave yang sedang menonton pertunjukan Galang dan Risa dari luar.
"Gua gak setuju!" ucap Reano.
"Re plis, kali ini bantu anak gua buat bahagia! Gua janji Galang gak bakalan ngapa-ngapain anak lu." ucap Dave.
"Biarin aja Re, Risa udah besar dia harus bisa mengambil keputusan sendiri!" ucap Mita.
"Tapi sayanggg.. " ucapan Reano langsung di potong oleh Mita.
"Udah biarin aja! Kalau kamu bicara lagi, kamu puasa aja malam ini!" ucap Mita. Reano pun diam tidak berani membantah atau jatahnya malam ini akan hagus.
•••
Bulan pun mengetok kaca mobil Rey.
"Apa lagi?" tanya Rey dingin.
"Nih aku udah bungkusin makan buat kamu di kantor. Biar nanti kamu gak perlu beli lagi!" ucap Bulan.
"Simpan saja, karna sampai kapan pun aku tidak akan memakan makanan yang kau buat. Paham!" ucap Rey. Bulan pun mengangguk.
Rencana makanan gagal. Kita lanjut rencana kedua. Semangat Bulann!! Spirit! You can do it Bulan! Batin Bulan.
25 Menit kemudian Rey sampai di kantornya. Ia langsung di sambut para karyawan. Rey pun langsung menaiki lift khusus dirinya. Sesampainya ia di ruangannya, ia terkejut. Ada seorang wanita di dalam ruangannya dan dia paling tidak suka ada yang duduk di kursi kebesarannya termasuk Ruby.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rey.
__ADS_1
"Kau sudah datang sayang? Ah, maaf ya aku duduk di kursi mu." ucap Ruby berdiri dari kursi Rey dan berjalan mendekati Rey dengan centilnya. Ia pun meletakkan langsung tangannya di pundak Rey.
"Kenapa kamu tinggi sekali sayang? untung aku pakai heels." gerutu Ruby. "Jadi kita akan pergi kemana hari ini? Hotel?" tanya Ruby.
"Aku belum sah dengan mu. Aku tidak akan membawa mu ke hotel!" ucap Rey. Ia menatap nanar kursinya itu.
"Ahh, kenapa? kau tidak mau mencicipi ku?" tanya Ruby. "Kenapa? Apa dia lebih menggoda dari ku? Menurut ku tidak. Aku lebih seksi dan montok dari pada dia yang kurus!" ucap Ruby.
"Sayanggg!" ucap Ruby. Rey tidak merespon. Rey pun melepas tangan Ruby dari pundaknya dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia menekan tombol memanggil dan langsung berbicara.
"Bawakan aku 1 buah kursi baru sekarang! Kalau terlambat kalian tau konsekuesinya!" ucap Rey. Rey pun memutuskan panggilan itu.
"Sayanggg, kau mengacuhkan aku lagi! Kenapa kamu dari dulu tidak mau menyentuhku! Padahal aku sangat mau menyentuh perut kotak mu itu!" ucap Ruby. Ruby pun kembali berjalan kearah Rey. Ruby mendekati telinga Rey dan membisikkan sesuatu.
"Aku ingin merasakan permainan muh babyyh" ucap Ruby sedikit di selingi desahan. Setelah mengatakan itu, Ruby pun meniup leher Rey.
Tak lama OB pun datang membawa masuk kursi baru dan membawa keluar kursi lama Rey. Rey langsung duduk di kursi barunya dan langsung fokus dengan laptopnya.
"Hei ayolah. Sudah 1 tahun kita pacaran dan kamu masih gak mau nyentuh aku! Itu gak adil! Kamu itu cinta gak sih sama aku? huh!" ucap Ruby.
"Pergilah, aku akan datang nanti!" ucap Rey.
"Wah, Beneran? makasih sayangg. Makin sayang deh sama kamu!" ucap Ruby sambil mencium singkat bibir Rey kemudian pergi.
•••Bersambung...
Mana nih dukungannya? kok senyap-senyap aja? jadi gak semangat author ni T_T.
Kasih author dukungan dong 😢
Author minta dukungan dari kalian dong 😣
__ADS_1