Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Sweet Dinner


__ADS_3

Hampir sebulan setalah melakukan phostoshoot untuk brand lokal tas Madam, kini hasilnya sudah di iklankan. Video pendek iklan tersebut serta beberapa foto yang yang paling menarik kini mulai terlihat di beberapa billboard yang ada di kota dan media sosial.


Ally mengunjungi akun media sosial resmi sebagai online store dari brand lokal Madam tersebut dan membacai semua komentar yang ada.


@jon22very : "Apa mereka pergi ke dunia dongeng dan menculik salah satu peri disana lalu memaksanya untuk menjadi model iklan ini?"


Komentar paling atas serta yang paling banyak like-nya itu berhasil membuat Ally tersipu bukan main. Ia membacanya berkali-kali sampai hapal dengan username yang menulis komentar itu. Ia lalu kembali membaca komentar yang lainnya, banyak komentar posotif mengenainya, namun tak sedikit pula komentar negatif.


"Modelnya memang cantik, tapi kurasa akan lebih baik jika mereka memakai model yang terkenal."


"Biasa saja, tidak terlalu cantik seperti yang orang-orang katakan di komen postingan ini."


"Kira-kira, dia oplas dimana ya agar memiliki wajah seindah itu?!"


"Aish, sial! wajahku ini asli 100%!" Ally bergumam kesal setelah membaca komentar tersebut. Jonah yang duduk dibangku kemudi di sampingnya nampak sedikit terperanjat.


"Ada apa?"


"Mereka mengata-ngataiku di kolom komentar!" adu Ally.


"Siapa?"


"Nitizen! menyebalkan sekali mereka seenaknya berbicara hal-hal yang tidak mereka ketahui."


Jonah terkekeh pelan. "Tak usah pedulikan hal yang seperti itu, kerjaan nitizen memang begitu."


Ally mendengus kesal lalu kembali membaca komentar, berharap ia membaca lebih banyak komentar positif.


"Siapa username yang mengataimu tadi? biar ku report akun-nya." celutuk Jonah.


Ally menghela napas pelan. "Sudahlah, tak perlu." ia kembali membaca komentar.


"Dia mirip teman seangkatanku waktu SMA."


"Wajahnya terlihat seperti blasteran."


"Ada yang tahu instagram-nya? aku ingin segera memfollow-nya!"


"Wah, ada yang menanyakan akun instagramku dan dia bilang ingin memfollow-nya." Ally cekikikan membacakan komen dengan bersuara agar Jonah dapat mendengarnya.


"Haruskah aku buat akun pribadi? menjadi terkenal lumayan asik juga ternyata."


"Kau ingin membuat akun pribadi agar orang-orang dapat berkomentar buruk secara pribadi juga di akun-mu?" sahut Jonah menyelekit. "Menjadi terkenal tak semudah yang kau bayangkan."


Ally hanya beedecak kesal karena ucapan Jonah ada benarnya juga. Akun instagram yang dimilikinya sekarang hanyalah akun biasa tempat dimana ia memposting foto pemandangan atau foto bunga-bunga.


"Kau punya instagram? apa username-nya?"


"Untuk apa?" tanya Jonah.


"Biar ku follow."


Jonah hampir menyebutkan username-nya tapi tiba-tiba ia beralasan lupa. "Nama pengguna-ku susah diingat, nanti akan ku beritahu." elaknya.


Ally hanya mengangguk acuh. Tanpa gadis itu ketahui bahwa dirinya pemilik akun dengan username @jon22very tersebut, Jonah terlalu malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Ketika postingan itu diupload, Jonah langsung memberikan like dan segera menulis komentar menggemaskan itu. Bahkan sampai sekarang, notifikasi komentarnya disukai masih saja bermasukkan.

__ADS_1


Jonah menginjak rem ketika didepannya ada lampu merah, di dekatnya ada sebuah billboard yang menampilkan Ally.


"Lihat itu." Jonah menyenggol lengan Ally yang sedari tadi hanya asik membacai komentar.


"Astaga, kenapa mereka memilih foto itu untuk iklan billboard?" Ally merasa kurang puas karena dari sekian banyak foto yang diambil foto tetapi foto yang diiklankan malah yang kurang ia sukai.


"Kenapa memangnya?"


"Aku tak begitu menyukai diriku difoto itu."


"Cantik, kok." ucap Jonah enteng tanpa menoleh sementara Ally sedikit salting dibuatnya. Alhasil, Ally memutuskan kembali membaca komentar satu persatu lalu cekikikan atau berdecak sesekali.


Setelah lampu hijau, Jonah kembali menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang. Mereka tengah dalam perjalanan menuju kediaman paman Jonah, Dorland Avery. Beberapa hari sebelumnya Dorland mengajak Jonah dan Ally untuk makan malam bersama dirumahnya sekaligus merayakan ulang tahun pertama cucunya.


"Apa sudah hampir sampai?" Ally mendadak menjadi gugup ketika mobil meraka tak lagi berada di jalan besar dan mulai memasuki kawasan elit tempat rumah-rumah megah berdiri.


"Kenapa? kau gugup?" tanya Jonah tersenyum.


"Sedikit."


"Tak perlu khawatir sebegitunya, mereka sekarang keluargamu juga."


Hingga tak lama mereka tiba disebuah rumah dengan gerbang yang sangat tinggi, seorang satpam langsung membukakan pintu gerbang dan Jonah lalu memarkirkannya di halaman rumah yang begitu luas itu.


Setelah turun dari Mobil, Ally jadi makin gugup. Ketika Jonah menggandeng tangannya, pria itu dapat merasakan betapa dinginnya telapak tangan Ally.


"Ayolah, ini hanya keluarga kecilku." Jonah berusaha menenangkannya.


Setelah memencet bel, pintu dibukakan oleh seorang pelayan di rumah tersebut. Mereka segera berjalan menuju ruang tengah tempat semua orang sudah berkumpul.


"Wah, ini dia yang ditunggu-tunggu." Suami kakak sepupunya itu segera menyambutnya.


"Lain kali luangkan waktu agar kita bisa main golf lagi." celetuk Dean.


"Haha, gampang. Bisa di atur." sahut Jonah.


"Kalian sedikit terlambat." Kakak sepupu Jonah, Viona ikut mendekat sambil menggendong anaknya yang hari ini genap berusia satu tahun.


"Jalanan tadi sedikit agak macet, Kak." titah Ally sambil menguyel-uyel pipi keponakannya itu.


"Orang-orang pasti sedang bersemangat turun ke jalan untuk melihat foto model yang ada di billboard." goda Viona.


Ally hanya bisa mendengus malu dan ikut tertawa. Tak berselang lama, Dorland memanggil mereka semua untuk segera menikmati makan malam.


Keadaan berlalu dengan suasana hangat kekeluargaan, sangat berbeda dengan apa yang Ally takutkan. Semuanya bercerita dan tertawa lepas bersama-sama.


"Oh, iya Ally. Selamat atas debutmu sebagai model. Kau hebat sekali layaknya profesional." tiba-tiba Dorland menyenggol topik tentang Ally. Semua orang bertepuk tangan, Ally menjadi malu-malu kucing.


"Ke depannya apa kau ingin berkarir sebagai model?" tanya Dorland lagi.


"Ah, untuk itu aku belum memikirkannya." sahut Ally.


"Kau berbakat, Ally. Jangan ragu, jika kau suka teruskan saja. Aku akan jadi penggemarmu." dukung Viona.


"Terima kasih." bisik Ally lalu keduanya tertawa bersamaan.

__ADS_1


"Ah, hampir saja lupa. Aku ingin mengingatkan kembali bahwa minggu depan adalah pernikahan Zayn."


Zayn adalah anak dari adik kandung dari istri Dorland Avery. Viona dan Jonah sangat dekat sekali dengan Zayn, keakraban mereka hanya terhalang jarak yang jauh.


"Kami semua akan pergi 5 hari sebelum acara pernikahan untuk sekaligus berlibur.  Aku minta maaf karena kau harus menangani urusan kantor sendirian." titah Dorland pada Jonah.


"Ayesya sudah selesai ujian semester, jadinya dia minta berlibur." istri Dorland menimpali. Ayesya, anak bungsu Dorland yang sibuk memakan kue itu tersenyum pada semua orang, menampilkan giginya yang penuh dengan cokelat.


"Tidak apa-apa Paman, Bibi. Aku dan Ally akan menyusul nanti setelah pekerjaanku selesai." kata Jonah.


"Ally, apa kau ingin ikut dengan kami saja nanti?" Viona tiba-tiba menawarinya.


"Ah, tidak. Aku akan menyusul bersama Jonah saja nantinya." tolak Ally halus.


"Kau benar, Ally. Lagipula Jonah takkan bisa mengurus dirinya sendiri jika kau tinggalkan." ledek Viona.


Semuanya tertawa sementara Jonah protes, lalu topik pembicaraan kembali mengalir begitu saja. Hingga tak lama kemudian terdengar suara tangis dari anak Viona yang sebelumnya di titipkan pada Baby Sitter. Karena sudah selesai dengan acara makan-makan, Viona pamit karena ingin menyusul sang anak. Ally juga meminta izin untuk mengikuti Viona.


"Ya ampun, Sayangku. Kau rindu di tinggal makan oleh mamamu ini, ya?" Viona langsung mengambil alih anaknya dari gendongan Baby Sitter.


"Kak, aku ingin menggendongnya." ucap Ally.


"Kemarilah." Viona menyerahkan bayinya pada Ally. Bayi yang baru saja genap satu tahun itu langsung tenang dalam gendongan Ally.


"Wah, lihat. Ku rasa kau sudah siap jadi Ibu." ujar Viona.


Ally hanya tersenyum malu. Viona selalu saja memuji hal apapun yang ia lakukan.


"Bagaimana rasanya membesarkan anak dalam satu tahun ini, kak?" tanya Ally.


"Cukup melelahkan, tapi aku menikmatinya. Bagaimanapun dia adalah anugerah setelah aku dua kali keguguran." tutur Viona sambil mengelus kepala putera-nya.


"Kakak keguguran dua kali?!" Ally sedikit terkejut mendengarnya.


"Ah, Jonah tidak pernah cerita, ya?"


Ally menggeleng pelan. Ia dan Jonah tidak sedekat itu untuk saling bertukar cerita.


"Aku sudah menikah tiga tahun dengan Dean, dan aku pernah keguguran dua kali." cerita Viona.


Ally tersenyum bangga menatap Viona, dia benar-benar wanita tangguh. "Pasti berat bagimu setelah kehilangan dua kali."


"Memang berat, tapi semua itu sudah berlalu. Sekarang aku bersyukur berhasil melahirkan yang ke-tiga." ucapnya sambil mengelus kepala putera-nya.


"Kau sendiri? apa kalian masih belum berencana untuk punya anak?" Viona tiba-tiba memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


"Ah, iya. Kurasa kami sama-sama belum siap, mungkin butuh beberapa waktu lagi." Ally menjawabnya dengan canggung.


"Apapun itu, aku hanya berharap yang terbaik untuk kalian. Oh, jika Jonah menyakitimu jangan sungkan untuk mengatakannya padaku, aku takkan takkan untuk memukulinya."


Ally tertawa dibuatnya, Viona benar-benar tipe support system yang baik, hal itu membuat Ally ingin lebih akrab lagi dengannya.


"Ah, baby-nya menangis lagi."


...***...

__ADS_1


Yuhu~~~


Yang kangen sama Jonah dan Ally ayo merapat di kolom komentar :p


__ADS_2