
Jane dan Ally berjalan mengitari kolam renang. Mata Jane memperhatikan sana-sini.
"Sepertinya tidak ada yang berubah," celetuk Jane. "Ibumu bilang bahwa kau ini sangat suka menata ulang ruangan atau apapun."
"Ah, aku, em, aku suka dekorasi rumah ini, jadi tak perlu menata ulang." jelas Ally.
"Baiklah, sekarang mari lihat bagaimana kamar tidur kalian."
Ally terbelalak seketika. Matanya membulat sempurna.
"Ah, tapi... Ibu—"
"Apakah Ibumu ini tidak boleh melihat?" tanya Jane.
"Bukan seperti itu, tapi—"
"Ayolah, Sayang. Aku bukan orang lain, apakah kau malu? Ingatlah aku ini Ibumu," Jane meyakinkan Ally.
Ally tertunduk menyerah dan mengikuti Jane yang sudah mengambil langkah menuju kamar tidur. Entah apa reaksi wanita itu saat melihat keadaannya.
Mereka sudah didepan pintu. Jane segera memegang knop pintu dan perlahan mendorongnya.
__ADS_1
Ally sudah pasrah.
Jane masuk kedalam diekori oleh Menantunya. Wanita itu melirik setiap sudut ruangan. Lalu menatap Ally.
"Kalian pisah ranjang?"
Tamatlah sudah Ally, bagaimana cara ia menjawab pertanyaan itu? Tak mungkin baginya untuk mengatakan iya begitu saja dan lebih tidak mungkin lagi jika ia berbohong tanpa alasan yang masuk akal.
"Tidak, tidak seperti itu. Ka-kami masih satu ranjang. Terkadang kami tidur diranjang itu, la-lalu kami juga ter-terkadang tidur diranjang itu." ucap Ally gelagapan sambil menunjuk ranjang bergantian.
Jane tersenyum simpul. Wanita itu lalu mengambil tempat ditepi salah satu ranjang, lalu menepuk tempat disebelahnya. Mengisyaratkan agar Ally juga ikut duduk diatas ranjang disampingnya.
Ally perlahan duduk disamping Jane. Ibu Mertuanya itu kemudian merangkul pundaknya. "Yang mana ranjangmu dan yang mana ranjang Jonah?" ucapnya tenang.
Jane lagi-lagi tersenyum. "Apa kau tahu alasanku memberikan kalian rumah ini?"
Ally hanya menggeleng menatap keramik lantai.
"Aku tahu ini pasti sulit bagi kalian. Dua orang yang tak saling kenal lalu tiba-tiba saja harus menikah dan tinggal bersama. Aku memahaminya jika kalian masih merasa tak nyaman satu sama lain,"
Wanita paruh baya itu meraih tangan Ally untuk digenggam. Matanya dengan tenang menatap netra Ally.
__ADS_1
"Jonah sudah memiliki rumahnya sendiri. Aku melarangnya membawamu kesana untuk saat ini. Karena aku tahu di mansion miliknya itu terdapat banyak ruang dan kamar. Alasanku menyuruh kalian tinggal disini adalah karena aku ingin kalian lebih dekat. Semakin kecil ruangnya, maka semakin besar pula peluang kalian untuk mengenali satu sama lain,"
Ally tertunduk tak kuat menatap balik mata yang tengah tertuju padanya itu.
"Katakan, apa Jonah menyakitimu? Aku akan memberinya pelajaran." kata Jane.
"Tidak, ini... ini salahku. Aku yang memintanya. Ini kehendakku." aku Ally mengacu pada ranjang yang terpisah.
"Baiklah, aku tak akan menyalahkan siapa-siapa, justru sebenarnya ini semua karena diriku. Aku yang meminta kalian untuk menikah. Aku tahu bahwa aku memang egois," lirih Jane.
"Tapi Ally, jangan menutup ruang dengan cara seperti itu. Bagaimana pun juga sekarang putraku adalah suamimu. Setidaknya mulailah membuka diri dengannya, saling beradaptasi. Ini baru seminggu sejak kalian menikah, jangan langsung merasa bahwa kalian tidak cocok," Jane mengambil jeda.
"Tidak ada yang tahu jika tidak mencoba." tutur Jane.
Ally mengangguk pada akhirnya. Ucapan Jane beribu-ribu persen benar.
"Jika suatu saat nanti, saat aku tiada. Jika memang pernikahan kalian tak bahagia sama sekali selama bertahun- tahun dan kalian juga sudah menyerah satu sama lain, maka aku tak masalah jika kalian ingin bercerai," Jane menangkup kedua pipi Ally. "Tak apa jika kalian berpisah, asalkan itu pilihan terbaik,"
"Tapi, untuk sekarang lebih baik kalian mulai saling memperbaiki semuanya."
Ally mengangguk menatap Jane.
__ADS_1
"Kalau begitu mari perbaiki mulai dari hal kecil seperti ini."