Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Hometown


__ADS_3

Usai berdikusi, baik Ally maupun Jonah akhirnya sepakat untuk ikut rencana reuni itu. Ally yang paling ingin ikut acara itu karena selain bisa bertemu teman-teman lamanya , ia juga bisa mampir ke rumah Ibunya untuk mengobati rasa rindu, sedangkan Jonah hanya mengikuti kehendak Ally.


"Bagaimana kalau menginap?" Ally menyarankan.


"Ah, entahlah aku—"


"Ayolah, hanya dua hari." Gadis itu mentap Jonah dengan mata yang memelas, hal yang sukses membuat Jonah luluh.


"Baiklah." ucap pria itu pada akhirnya.


Ally tersenyum senang. Dalam pikirannya ia sudah membayangkan pertemuan dengan sang Ibu tercinta. Bahkan dengan hanya membayangkannya saja sudah membuat Ally bahagia.


Jonah yang melihat seulas senyum dari wajah istrinya itu otomatis ikut tersenyum. Sangat sulit baginya untuk tidak ikut tersenyum ketika melihat wajah Ally yang cantik itu nampak bahagia.


"Kalau begitu packing bajumu untuk dua hari." seru Jonah.


"Tidak perlu. Aku punya banyak baju dirumah, kau saja yang packing."


"Kau tetap harus membawa baju, setidaknya kau perlu gaun untuk reuni nanti." usul Jonah. Ally agaknya setuju dengan usulan itu. Gadis itu lalu mem-packing baju-baju yang akan mereka bawa dalam satu koper.


"Kau yakin ingin menyetir sendiri?"


"Heem." Jonah mengangguk mantap.


"Perjalanannya jauh. Lebih baik kita naik bus atau kereta saja." saran Ally.


"Cuma 9 jam, aku bahkan pernah berkendara selama 12 jam." cicit Jonah.


Ally menghela napasnya. "Baiklah."


*****


Sekitar pukul 10 pagi setelah menitipkan Lucy di tempat penitipan hewan peliharaan, sepasang suami istri itu berangkat memulai perjalanannya. Di perjalanan mereka beberapa kali berhenti untuk makan atau keperluan lainnya. Akhirnya sekitar pukul 7 malam lebih, mereka sampai di Kota tempat dimana Ally tinggal.


Gadis itu langsung tersenyum lebar ketika melihat suasana kotanya lagi. Rasanya seperti meninggalkan kota ini selama bertahun-tahun padahal baru tiga bulanan lebih.


Ally lalu mengarahkan jalan pada Jonah untuk menuju rumahnya. Lalu beberapa menit kemudian, mobil Jonah sudah memasuki kawasan rumah Ally. Gadis di sampingnya itu tak berhenti mengukir senyum lebar di wajahnya.


"Belok kiri, rumah yang di depannya paling banyak bunga adalah rumahku."


Jonah lalu membelokkan mobilnya di persimpangan, lalu tak jauh dilihatnya ada sebuah rumah di sebelah kiri yang halamannya dipenuhi banyak bunga yang diterangi oleh lampu taman, Jonah menghentikan mobilnya persis di depan rumah tersebut.


"Yang ini?"


Belum menjawab pertanyaan Jonah, Ally langsung melepas sabuk pengaman lalu segera berlari keluar mobil menuju pintu rumah itu, gadis itu terlihat memencet bel berkali-kali.


Jonah hanya menggelengkan kepalanya, pria itu ikut turun dari mobil lalu mengambil sebuah koper di bagasi belakang mobil. Ia lalu membawa koper itu dan mendekat ke arah Ally.

__ADS_1


Saat sudah berada persis di samping Ally, pintu rumah terbuka dan menampilkan sesosok yang tak lagi asing bagi Jonah. Ally lantas memeluk wanita paruh baya itu dengan erat, bahkan Diva sempat terhuyung karenanya.


"Ibu!" pekik Ally.


Diva menyambut pelukan itu. Dari wajahnya terukir senyum lebar.


"Kenapa kalian tidak bilang kalau akan kesini?" tanya Diva saat melepas pelukannya dengan Ally. Diva lalu menatap Jonah dan lantas membuka tangannya untuk memeluk menantunya itu, dengan senang hati Jonah segera menerima pelukan dari Diva.


"Ini mendadak. Kami juga tidak merencanakannya." sahut Ally.


"Baiklah, masuk dulu." Diva mempersilah keduanya masuk.


Jonah yang baru pertama kali memasuki kediaman Ally dan Ibunya itu otomatis menjadi penasaran dan matanya sibuk melihat-lihat setiap inci ruangan. Ada banyak figura yang menempel di dinding dan setiap meja pasti ada vas bunga.


Ia lalu ikut duduk bergabung dengan Ally di sofa.


"Aku akan membuatkan kalian minuman dan makanan, kalian pasti lelah menempuh perjalanan ini." tutur Diva.


"Aku ikut." seru Ally lantas berdiri dari duduknya.


"Tak usah, sayang. Kau antarkan saja Jonah ke kamar agar dia istirahat." setelah berucap begitu, Diva segera meninggalkan Ally untuk ke dapur.


"Naiklah ke lantai dua. Pintu pertama yang kau lihat nanti adalah kamarku, beristirahatlah dulu." kata Ally cepat, kemudian gadis itu berlalu meninggalkan Jonah sendirian di ruang tengah.


Pria itu hanya menghela napas panjang, lalu dengan perlahan ia berjalan menaiki tangga sambil menenteng koper yang lumayan berat. Di anak tangga terakhir, ia melihat sebuah pintu bercat putih, pintu pertama yang dimaksud oleh Ally tadi. Ia pun segera membuka pintu itu.


Foto di dinding tersebut kebanyakan adalah foto masa kecil Ally. Ada foto Ally kecil bersama kedua orang tuanya, Jonah menatapi foto itu dengan serius, ternyata mendiang Ayah Mertuanya itu memiliki ciri khas wajah orang Eropa. Pantas saja Ally memiliki wajah blasteran.


Jonah kembali melihat-lihat figura lainnya. Ada sekitar 5 bingkai foto yang memperlihatkan Ally tengah berpose dengan Jane, Ibunya sendiri. Dalam foto itu keduanya nampak seperti benar-benar sepasang Ibu dan anak kandung.


Kemudian perhatiannya tertarik pada sebuah bingkai foto yang berukuran paling besar. Sebuah potret yang diambil pada upacara hari kelulusan saat mereka SMA. Dalam foto itu semua nampak ceria tersenyum lebar sembari mengenakan toga. Jonah kembali menampaki wajah orang dalam foto tersebut satu persatu. Ada hal yang membuat pria itu menjadi kesal seketika, yaitu wajahnya dalam foto tersebut bercoret spidol merah. Tak hanya satu, tapi semua foto masa sekolah yang ada dirinya di dalamnya selalu bercoret tanda silang tepat di wajah.


Ia mengumpat kesal lalu akhirnya memutuskan untuk berhenti melihat-lihat foto-foto itu lagi. Ia beralih pada meja belajar yang masih di penuhi banyak buku. Jonah lalu melihat-lihat buku apa saja yang ada di dalam rak meja belajar itu, lalu ia mendapati sebuah buku diary berwarna pink yang sangat imut, ia ingin membuka buku itu tapi tak bisa karena di kunci dengan gembok kecil, ia pun lalu mengembalikan buku itu pada tempatnya.


Pria itu kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya pada tempat tidur dan tanpa sadar ia terlelap.


***


Ketika Jonah membuka mata, ternyata sudah pagi. Pria itu tertidur sepanjang malam bahkan sampai melewatkan makan malam. Sebenarnya Ally sudah mencoba membangunkan, tapi Jonah tampak sangat kelelahan, akhirnya Ally pun memutuskan membiarkan Jonah tidur saja.


Jonah lalu mandi menggunakan kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Setelah mandi ia lantas turun ke lantai bawah, di dapur ia menemukan Diva sedang memasak.


"Ibu." sapa Jonah.


"Oh, kau sudah bangun. Sarapan belum siap, tunggu sebentar lagi ya."


Jonah mengengguk paham. "Ally dimana, Bu?"

__ADS_1


"Tadi dia keluar. Jika tidak di halaman paling di rumah tetangga atau di danau. Dekat sini ada danau." terang Diva.


"Aku ingin menyusulnya dulu." kata Jonah.


"Baiklah, sekalian jemput dia untuk sarapan." ucap Diva sambil fokus dengan masakannya.


Jonah lalu berjalan menuju pintu depan dan keluar rumah. Akhirnya setelah sekian lama ia kembali menghirup udara kota kelahiranya sejak terakhir kali ketika ia lulus SMA dan segera pindah menyusul Ibunya di Ibukota.


Pria itu langsung menyisir area sekitar untuk menemukan keberadaan Ally. Jonah lalu berjalan lurus ke depan, karena dari kejauhan terlihat ada sebuah danau di ujung jalan sebelum persimpangan. Cahaya matahari pagi yang menghangatkan mampu membuat suasana hati Jonah menjadi tenang.


Benar saja, di pinggiran danau tersebut ada sebuah bangku panjang di bawah pohon, seorang gadis nampak duduk di atasnya menghadap langsung ke arah danau. Jonah segera mendekati gadis itu lalu duduk bergabung dengannya.


"Aku tak tahu jika di sekitar sini ada danau sebelumnya. Padahal aku lumayan sering dulu ke daerah sini."


"Itu pasti karena kau memakai jalur lain." sahut Ally.


Jonah mengangguk setuju. "Aku lebih sering lewat jalan arah barat, karena lebih dekat."


"Tunggu, kau sering ke daerah sini?" gadis itu menoleh ke arah Jonah. "Kemana?"


"Perkebunan stroberi." sahut Jonah. "Aku cukup sering mengunjunginya dan lumayan dekat dengan pemiliknya."


Ally ber-oh ria menanggapinya.


"Ayo, pulang. Ibu menyuruhku menjemputmu untuk sarapan." Jonah langsung berdiri dan lantas menarik tangan Ally yang otomatis membuat gadis itu mengikutinya.


Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan. Ally menatap Jonah dari samping, cahaya matahari yang menimpanya membuat pria itu terlihat lebih tampan. Jonah memang tampan, Ally pun mengakuinya. Tapi untuk saat ini ketampanan pria itu seakan berkali-kali lipat. Hal itu sukses membuatnya terpaku, lalu dengan tiba-tiba Jonah mendekatkan wajahnya ke wajah Ally dengan jarak yang sangat dekat, sampai-sampai hidung mereka bersentuhan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" ujar pria itu dengan suara beratnya.


Ally yang kaget hanya bisa menahan napasnya. Ia lalu menyentak tangan agar genggaman tangan Jonah itu terlepas. Ia berjalan cepat mendahului Jonah dengan pipi yang panas akibat memerah. Sementara Jonah di belakang tertawa sambil mengejarnya.


***


wkwk, nanggung banget up cuma 2 eps?


hehe daripada kejadian ga sengaja kehapus lagi mending up aja.


bab selanjutnya baru sedikit banget guys jadi up nya menyusul yaa~


Jangan lupa like, vote, dan komen ya~


Dukungan kalian adalah semangat author :)


Author mau bilang kalo kalian para pembaca novel ini tuh keren bangeuudd, sabar banget nungguin up nya, kalian hebat 😍


^^^see you next part~^^^

__ADS_1


__ADS_2