
Bulan? batin Rey. Rey pun menghampiri meja bernomor 19. Ia mengira itu adalah Bulan.
Rey menyentuh bahu wanita itu dan memanggilnya. "Bulan." panggil Rey. Wanita itu pun berbalik. Dan Rey terkejut.
"Oh, i'm sorry." ucap Rey kepada wanita itu. Ternyata itu bukan lah Bulan.
Rey pun duduk di salah satu kursi dan memesan makanan dan juga minuman. Jangan tanya masakan yang ia masak tadi, semuanya sudah habis, bahkan ludes di makan oleh Kenzo saat Rey mandi.
Untung aja dia asisten ku. Kalau tidak dia akan ku bunuh. Aku cape-cape masak dia yang makan semuanya! batin Rey. Makanan Rey pun sampai di hadapannya. Ia langsung memakan itu sampai habis, karna perutnya sudah berbunyi.
Selesai memakan makan siangnya, Rey membayar itu dan pergi dari restoran itu. Tepat di depan mobilnya, Elioz berdiri tegak.
Ya, Elioz Zaynco. Kapan pria itu sampai? kenapa dia bisa tau ini mobil Rey? Dan kenapa Elioz sampai dengan cepat, padahal jarak Indonesia dan London sangat jauh.
"Kenapa? Kau hanya berangkat lima menit lebih cepat dari ku. Jangan melihat ku seperti itu." ucap Elioz. Rey hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Kau ke sini pasti ingin bertemu Bulan." ucap Elioz.
"Kenapa kau begitu yakin aku mencarinya?" tanya Rey.
"Aku cuman memikirkannya lewat logika. Mana ada manusia yang tidak akan mencari istrinya yang hilang, apa lagi keadaan istrinya sedang mengandung anak dari manusia itu, kan terlalu bodoh!" sindir Elioz. Rey hanya diam. Ia tau Elioz sedang menyindirnya. Elioz menepuk bahu kanan Rey.
"Ingat Reyhan Anggara. Ini London, daerah kekuasaan keluarga Zaynco. Ya, walau keluarga Anggara cukup berpengaruh juga di sini. Tapi itu semua kalah dengan pengaruh keluarga Zaynco. Jadi selamat bermain petak umpet!" ucap Elioz lalu pergi.
"Tunggu!" ucao Rey. Elioz pun menghentikan langkahnya.
"Ada yang mau kau tanyakan?" tanya Elioz.
"Apa maksud mu bermain petak umpet?" tanya Rey. Elioz kembali dan melangkahkan kakinya ke arah Rey.
__ADS_1
"Petak umpet? Artinya, bermain sembunyi-sembunyi. Di permainan kali ini, kau yang mencari dan adiku yang bersembunyi. Jadi kau harus mencari adikku sampai ketemu. Good Luck tuan muda Anggara!" ucap Elioz.
"Oh ya, jika kau bertemu dengan adikku, jangan beranggapan permainan ini selesai. Selagi dia belum menerima mu, kau akan tetap bermain sampai dia menerima mu kembali. Paham?" tanya Elioz. Rey hanya diam saja, ia tidak mau mengubris Elioz.
Rey pun mendorong pelan Elioz yang menghalangi pintu masuk mobilnya. Rey pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobil itu cukup cepat.
"Manusia gak punya Akhlak! Liat aja lu, gua sumpahin lu gak bakalan ketemu adik gua selagi lu di London!" sumpah serapah Elioz kepada Rey.
•••
Rey mengendarai mobilnya. Sebenarnya, perkataan Elioz tadi tidak ada yang salah. Keluarga Anggara kalah berkuasa dengan keluarga Zaynco jika di Inggris, begitu pula jika di Indonesia, keluarga Zaynco kalah berkuasa dengan keluarga Anggara dan keluarga Gerdion.
Rey memukul setirnya kuat dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Sepertinya ia frustasi mencari Bulan.
Bajingan itu tidak akan membiarkan aku menemukan Bulan. Aku harus mencari cara lain untuk menemukan Bulan! batin Rey.
"Tapi Elioz tidak sebodoh itu. Mungkin saja dia berbohong dn mengatakan bahwa Bulan ada di London tapi sebenarnya Bulan ada di tempat lain. Aku harus selidiki ini!" gumam Rey. Rey menghubungi Kenzo.
•••
"Gimana?" tanya Bulan.
"Seperti yang saya bilang tadi, ini bukanlah kasus kecelakaan tapi percobaan pembunuhan, sebab itulah ia kekurangan banyak darah. Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru dari perut pasien. Untunglah peluru itu tidak terlalu dalam." jelas dokter itu.
"Bisa saya lihat pasiennya?" tanya Bulan. Dokter itu pun mengangguk. Bulan pun masuk kedalam ruangan pasien itu. Wanita yang mungkin seumurannya sedang terkapar dengan wajah pucatnya.
"Aku harus telfon kak Elioz, mungkin aja dia bisa bantu cari pelaku penembakan itu." ucap Bulan. Bulan pun mengambil handponenya dan membuka lipatan handpone itu. Samsung Z lipat ada di genggaman Bulan. Bulan pun mencari nomor Elioz san menelfonnya.
"Ya adikku sayang?" tanya Elioz.
__ADS_1
"Kak, ke rumah sakit Daddy ya. Bulan mau minta bantuan." ucap Bulan.
"Kenapa? kamu sakit? apa ketabrak? apa ada yang ganggu kamu? atau gimana?" tanya Elioz langsung khawatir.
"Gak, Bulan gak Apa-apa. Makanya datang ke sini dulu!" ucap Bulan. Elioz pun mengiyakan perkataan Bulan.
•••
Dari dalam restoran tempat pertemuannya dengan Rey tadi, Elioz bergegas menuju mobilnya. Ia takut jika adiknya keguguran, atau bermacam hal lainnya.
20 menit kemudian Elioz sampai di ruangan yang di katakan Bulan tadi.
"Kenapa? siapa dia?" tanya Elioz. Bulan pun menceritakan semua kejadiannya dan maksud tujuannya memanggil Elioz ke sini.
"Oh jadi kamu mau minta bantuan kakak buat cari pelakunya?" tanya Elioz. Bulan pun mengangguk.
"Boleh lihat pelurunya dulu?" tanya Elioz. Bulan pun memperlihatkan peluru yang ia pinjam dari dokter yang menangani wanita ini. Dokter itu tidak menberikannya karna itu bisa menjadi barang bukti agar tersangka penembakan masuk kedalam sel tahanan.
"Hmm, ini peluru senapan dan polisi gak punya merk peluru ini. Peluru ini ilegal di Inggris, kemungkinan besar ini ada sangkut pautnya sama mafia." ucap Elioz.
"Bantuin dia ya kak." ucap Bulan.
"Gak dek, kita gak bisa ikut campur. Di lihat dari posis peluru yang ia tembakkan pada wanita ini, sepertinya dia penembak jitu. Kakak sebenarnya bisa aja bantu dia, tapi ini menyangkut keselamatan keluarga Zaynco, di tambah kamu lagi hamil. Jadi kakak gak mau ambil resiko, kamu jauhin dia juga atau kamu akan celaka karna mafia itu pasti masih mengincarnya." ucap Elioz. Bulan pun mengangguk pasrah.
Ini peluru dari Black Hard yang artinya dia di tembak oleh kelompok mafia dari keluarga Anggara. Mungkin Reano Anggara sudah mewarisi kelompoknya ini kepada Reyhan Anggara, berarti ini termasuk jebakan untuk Bulan. Aku harus selalu waspada. batin Elioz.
•••Bersambung....
Wah mereka lagi main petak umpet ni, kayaknya seru deh...
__ADS_1
Jangan lupa selalu dukung author ya agar author lebih semangat lagi nulisnya 😗