Menikahi Musuhku

Menikahi Musuhku
Pergi Belanja Sendiri


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ally menatap nanar isi lemari pendingin dihadapannya. Hampir kosong. Ally menepuk jidatnya sendiri, ia lupa, seharusnya ia memberi tahu Jonah dari dua hari yang lalu.


Gadis itu lantas mengadu pada Jonah. Pria yang tengah sibuk memasang jas kantor itu mengeluh. "Kenapa baru bilang sekarang?"


"Aku lupa." ucap Ally.


"Aku tidak bisa menemanimu berbelanja hari ini. Di kantor ada rapat penting."


"Baiklah aku akan belanja sendiri."


"Tidak. Tidak perlu. Aku akan suruh orang saja nanti." sela Jonah.


"Tidak, tidak bisa. Aku harus memilih sendiri bahan makanannya." protes Ally.


"Tapi aku tidak bisa menemanimu."


"Baiklah. Aku bisa sendiri. Aku tinggal memesan taksi online lalu pergi ke supermarket, membeli bahan makanan, lalu pulang. Aku bisa tanpamu, aku bukan anak kecil." ucap gadis itu.


"Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?"


"Kau menghawatirkanku?" ucap Ally sinis.


"Aku hanya tidak mau direpotkan." elak Jonah.


"Sudahlah, aku bisa jaga diri. Aku bukan anak kecil lagi."


"Ah, aku akan suruh sekretarisku untuk menemanimu." ide itu muncul di kepalanya.


"Tidak usah," sela Ally cepat. "Biarkan aku sendiri. Aku harus beradaptasi dan tak ingin selalu bergantung pada orang lain."


Jonah diam sejenak memikirkan kalimat untuk membantah Ally, namun akhirnya ia mengijinkan. "Baiklah, terserah kau saja. Berjanjilah kau pulang dengan selamat karena jika tidak Ibuku akan membunuhku." desis Jonah.


Ally hampir tertawa, tapi ia berhasil menahannya. "Hm. Aku janji."


***


Ally kembali menginjakkan kakinya pada sebuah pusat perbelanjaan yang waktu itu ia datangi bersama Jonah. Bedanya kali ini ia sendiri.


Ia bersyukur ini bukan weekend, pengunjung tempat ini tidak seramai waktu itu. Tak ingin berlama-lama Ally segera menuju tempat penjualan bahan makanan.


Gadis itu sangat teliti dalam urusan memilih, sebagian lama waktunya hanya habis memilah-milah buah atau sayur mana yang akan ia letakkan ke dalam troli.


Kemudian gadis itu beralih ke rak-rak yang lain, membeli beberapa kebutuhan tambahan. Atensinya tertuju pada sebuah rak yang terdapat jejeran sereal. Ally suka itu, segera ia mendekat untuk menjangkau kotak sereal yang sialnya berada di rak paling atas. Ia benjinjit sebisanya, sedikit lagi, jika saja ia memakai sepatu hak tinggi kotak sereal itu sudah pasti berhasil ia raih.


Tiba-tiba saja seseorang meraih kotak sereal yang ingin Ally ambil, lalu diserahkannya kotak sereal itu pada gadis yang masih saja sibuk berjinjit.

__ADS_1


"Ini." ucap wanita cantik dihadapannya sembari mempersembahkan senyum manis.


"Terima kasih." jawab Ally spontan.


"Sama-sama. Dari tadi aku sudah melihatmu, padahal tinggal sedikit lagi dan kau akan berhasil meraihnya, tapi aku tidak tahan untuk segera membantu." ucap wanita itu sambil tertawa.


"Jika kau tak membantuku, aku yakin bahwa aku takkan berhasil. Aku memeng pendek," tawa Ally. "sekali lagi terima kasih."


"Kau tidak pendek. Tinggi kita hampir sama, bedanya aku memakai sepatu hak tinggi. Aku yakin jika kau juga mengenakannya tinggi kita pasti sama."


Ally mengangguk dan tertawa kecil.


"Kau sendirian?" tanya nya pada Ally.


"Iya. Suamiku bekerja, jadi aku pergi berbelanja sendiri."


"Apa?" wanita itu melipat dahi. "Kau sudah menikah? ku kira kau masih bersekolah," ujarnya tertawa. "Berapa umurmu?"


"Dua puluh dua tahun." jawab Ally.


"Baiklah, setidaknya aku lebih tua satu tahun darimu." ucapnya. "Oh, namaku Stevi." wanita itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


"Namaku, Ally." gadis itu menerima jabat tangan Stevi.


"Senang bertemu denganmu." tutur Stevi tersenyum cerah.


"Sebenarnya masih ada yang ingin ku beli, jika kau tidak keberatan mungkin kita kita menyusuri tempat ini bersama sambil sedikit mengobrol. Aku bosan sendirian." terang Stevi


Ally tersenyum sumringah. "Dengan senang hati."


Stevi kembali ke rak sebelumnya untuk mengambil troli miliknya lalu mendorong troli itu berjalan berdampingan dengan Ally.


"Kau juga belanja sendirian?" tanya Ally.


"Aku selalu belanja sendiri. Kecuali jika kebetulan ada yang ingin menemani." jawab Stevi.


"Apa kau—"


"Aku belum menikah," sela Stevi cepat sembari tersenyum menatap Ally. "Aku tahu kau akan bertanya hal itu." tawanya.


"Oh, maaf jika aku mengusik." sesal Ally.


"Tidak apa. Anggap saja kita sudah kenal lama, jangan sungkan padaku." Stevi menepuk pundak Ally.


"Aku selalu belanja sendiri karena aku tinggal terpisah dengan orang tua dan saudariku. Kami tinggal di negeri sebelah sebelumnya, tapi aku pindah kesini karena pekerjaanku." Stevi bercerita.

__ADS_1


"Kau bekerja dimana?"


"Aku bekerja sebagai model."


"Wah, apa tidak apa model sepertimu berada ditempat umum seperti ini sendirian? bagaimana jika ada penggemar yang nekat lalu—"


"Hey, aku tidak sepopuler itu." sela Stevi tertawa. "Lagipula hal seperti itu jarang terjadi bagi seorang model, kecuali bagi artis papan atas. Apa kau tidak tahu itu? kau bukan berasal dari kota ini, ya?"


"Ah, iya. Aku baru pindah ke kota ini."


"Pantas saja," cicit Stevi sambil memasukkan belanjaan kedalam troli.


"Kau tahu, saat melihatmu tadi ku kira kau sedang berbelanja dengan ibumu, kau terlihat sangat muda, sungguh." ungkap Jessie.


"Ah, tidak." sangkal Ally.


"Kau sangat cantik." puji Stevi.


Ally tak pernah tahan dengan yang namanya sanjungan. Gadis itu akan tersipu, lalu pipinya akan memerah.


"Kau lebih." cicit Ally.


Keduanya lalu serempak menyudahi kegiatan mereka lalu berjalan menuju ke arah kasir, melakukan pembayaran, lalu berjalan beriringan ke luar.


"Kau ingin langsung pulang?" tanya Stevi pada Ally.


Gadis itu mengangguk. "Aku sudah tidak ada keperluan lagi."


"Kau ke sini naik apa?"


"Taksi online."


"Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin mengantarmu tapi aku masih ada keperluan." ucap Stevi sedih.


"Tak apa. Jangan merepotkan dirimu." Ally menepuk pelah pundak Stevi.


"Ah, tunggu sebentar." Stevi meletakkan kantong belanjaannya ke lantai lalu membuka tas nya dan mengeluarkan dompet, kemudian menyerahkan sebuah kartu nama pada Ally.


"Ini kartu namaku, ku harap kita bisa berteman." ujarnya.


Ally menerimanya senang. "Terima kasih. Tentu saja kita bisa jadi teman, apalagi kau adalah orang baik yang sudah membantuku."


"Ah, santai saja itu bukan apa-apa."


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sekarang." pamit Ally.

__ADS_1


Stevi mengangguk. "Baiklah, hati-hati. Jangan lupa menghubungiku. Sampai jumpa." wanita itu melambai dan berbalik mendahului Ally.


"Sampai jumpa." sahut Ally sebelum ia juga mulai berjalan menuju eskalator untuk turun ke lantai bawah.


__ADS_2