
Pagi hari telah tiba. Rey sudah rapi dengan pakaian kantornya. Selain dingin, Rey juga gila kerja. Bahkan di hari minggu seperti ini ia tetap bekerja. Setelah dirasa semua siap, Rey turun dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tuanya dan adiknya.
"Rey? Kamu mau ke kantor sayang? Ini hari minggu lo!" ucap Mita.
"Iya bun." jawab Rey singkat.
"Ini hari minggu. Hari ini kamu libur dan pergilah bertemu Bulan!" ucap Reano.
"Dia tidak penting Yah, aku mau bekerja." ucap Rey. Rey langsung pergi tanpa permisi.
"Rey! Selangkah lagi kamu keluar rumah, Ayah akan mengusir mu!" ucap Reano sambil menatap Rey dengan tatapan Elangnya. Rey pun menatap Reano dingin. Rey akhirnya kembali ke meja makan dan menghampiri Ayahnya itu.
"Kapan?" tanya Rey dingin.
"Pukul 9 pagi di cafe milik Stella!" jawab Reano. Rey pun melemparkan tas kerjanya dan naik ke kamarnya.
"Re, kamu gak boleh marah kayak gitu sama Rey kasian dia. Apa kita batalin aja ya perjodohannya?" tanya Mita.
"Engga sayang. Aku gak mau kalau Reano terus-terusan memikirkan anak itu. Aku tidak suka, Kelakuannya mungkin 11 12 dengan keluarganya. Aku gak mau kalau Rey terpengaruh dengannya!" ucap Reano.
"Yah, Bun. Risa mau pergi ngumpul sama Stella dan Aira dulu ya!" ucap Risa. Reano pun mengangguk. Risa pun menyalimi kedua orang tuanya lalu pergi.
•••
'Aku benci di jodohkan. Cih, Ayah kira aku akan lupakan dia? tidak akan!' Batin Rey. Dengan malas ia bangkit dari kasurnya dan mengganti bajunya ke baju yang lebih santai. Baju santai itu membuat aura ketampanannya bertambah dan aura dinginnya berkurang dari pada ia memakai pakaian kantor. Kalau ia memakai pakaian kantor, auranya menyeramkan dan dingin, seperti tidak ramah sama sekali.
__ADS_1
Pukul 08.45 Rey sudah pergi dari rumahnya. Ia sangat tepat waktu dan tidak suka menunggu seseorang. 15 menit kemudian ia sampai di Cafe milik Stella. Pas pukul 09.00 ia sampai di Cafe itu. Tetapi dia tidak melihat Bulan. Ia pun duduk di salah satu meja dan menunggu Bulan.
5 Menit kemudian Bulan datang. Ia langsung menghampiri Rey dan duduk di depan Rey.
"Hai. Maaf aku terlambat!" ucap Bulan.
"Kau terlambat 5 menit 35 detik." ucap Rey dingin. Bulan langsung terdiam. "Aku tidak suka menunggu!" ucap Rey tegas. Tampak sekali Rey kesal, di lihat dari rahangnya yang mengeras dan tatapannya yang tajam kepada Bulan.
"M-maafkan aku. Aku tidak akan terlambat lagi!" ucap Bulan.
"Kau di bawah ku 3 tahun. Panggil aku Kak!" ucap Rey. Bulan pun mengangguk paham. Untuk menghilangkan tasa canggungnya, Bulan meminum air yang berada di depannya.
"Itu minuman ku." ucap Rey. Bulan pun langsung tersedak karna kaget.
"Uhuk.. uhuk.. M-maafkan aku!" ucap Bulan canggung.
'Haruskah aku menikah dengannya? Sepertinya harus, aku sudah janji kepad kedua orang tua ku' batin Bulan.
"Ehm, kakak mau ke taman kak?" tanya Bulan.
"Tidak." jawab Rey yang masih fokus dengan kopinya. Rey itu tampan, membuat dia selalu jadi pusat perhatian. Seperti saat ini banyak sekali wanita yang memotretnya diam-diam. Rey yang tampan, dingin dan selalu bergaya cool, membuat banyak wanita mendekatinya, Tapi tidak satu pun yang menarik perhatian Rey kecuali Dia. Sebab itulah Rey tidak suka keramaian.
"Kalau nonton ke bioskop?" tanya Bulan.
"Tidak." jawab
__ADS_1
"Jadi kakak mau kemana?" tanya Bulan.
"Pulang." jawab Rey singkat. Rey pun beranjak dari duduknya.
"Tunggu. Bolehkah aku bermain kerumah mu kak?" tanya Bulan. Rey pun berbalik dan melihat Bulan dengan tatapan tajam.
"Jangan mengganggu ku." jawab Rey lalu pergi meninggalkan Bulan sendirian.
"Dia jalang kali. Makanya Tuan Muda Rey bersikap seperti itu padanya" ucap pengunjung di sebelah meja mereka.
"Iya, sepertinya dia yang menggoda tuan muda tampan kita!" ucap temannya. Bulan pun merasa kurang nyaman dengan gosipan mereka. Ia ke meja kasir untuk membayar minumannya.
"Minuman anda sudah di bayar oleh tuan muda!" ucap kasir itu sedikit sinis.
"O-oh, baiklah. Terima kasih!" ucap Bulan sambil tersenyum.
"Cih jalang!" gumam kasir itu tapi masih bisa di dengar oleh Bulan.
'Begitu populernya dia? Sampai aku di sangka jalang? Bahkan menyentuh lelaki saja aku tidak pernah!' batin Bulan. Bulan pun mencoba sabar. Ia tau Rey itu terkenal, di tambah dengan nama belakangnya, yang membuat dia semakin di segani dan di kagumi.
"Reyhan Austin Anggara. Nama yang terkenal. Dia bukan artis, tapi fotonya tersebar di mana-mana" gumam Bulan. Bulan saat ini berada di halte bus. Latar belakang halte bus itu adalah foto Rey yang bergaya bak model.
Sebenarnya Rey dulu adalah model. Ia mengambil pekerjaan itu karna pujaan hatinya juga seorang model. Senjak Dia meninggalkan Rey, Rey berhenti menjadi model dan memutuskan untuk terjun kedunia bisnis membantu Ayahnya.
"Apa dulu dia adalah model? Emang ada model yang dingin?" gumam Bulan lagi. Bulan pun melihat taksi dan menyetopkannya. Kemudian dia pulang kerumahnya.
__ADS_1
•••Bersambung...
Oke jangan lupa dukungannya untuk author ya. Makasih juga karna kalian, novel ini udah sampai season 2. Makasih banget yaa 😆😆