
"Apa kau sudah puas?" tanya Jonah saat mereka hampir selesai menata ulang kamar.
"Ya, aku sangat puas. Lain kali jangan hanya membelikan ranjang saja. Tapi belilah rumah lagi agar jarak kita terjaga lebih aman." cicit Ally.
"Jika kau tidak ingin tinggal disini maka pergilah, aku tak keberatan." sahut Jonah.
"Ya, tunggulah sampai aku dapat suami baru. Setelahnya aku akan segera angkat kaki." ucap Ally asal.
Jonah hanya mendengus. Tiba-tiba saja dering ponsel Jonah berbunyi. Ada panggilan masuk. Jonah membaca nama yang tertera dilayar.
"Halo."
"Ya! Jonah, kau ini kemana saja, hah? kenapa panggilanku tak pernah diangkat?! sialan kau ini." sambar seseorang diseberang telepon.
"Aku sudah bilang aku sibuk. Jangan ganggu aku." sahut Jonah sambil memijit pangkal hidungnya.
"Ah, kau ini. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kau dimana sekarang? dirumah? aku akan ketempatmu."
Jonah kaget. "Tidak, tidak! jangan kerumah! a-aku tidak dirumah. Baiklah kalau begitu bertemu nanti malam saja, bagaimana?" usul Jonah.
"Malam? ah tidak bisa. Aku harus mengencani gadisku malam ini."
"Ya sudah kalau begitu tidak jadi bertemu." titah Jonah.
"Hey! hey! ah kau ini masih saja suka merajuk. Baiklah, baiklah, kita bertemu dimana nanti malam?"
"Di restoran tempat biasa saja. Aku tunggu jam 7."
"Jam 7?! Jonah, kau seperti anak kecil. Apa-apaan jam 7!? biasanya kita bertemu jam 9."
"Aku banyak urusan. Terserahmu saja."
"Ya, ya! baiklah, Jonah. Terserah kau saja. Dasar tukang merajuk."
Jonah mendengus lalu langsung memutuskan sambungan telepon itu. Ally yang dari tadi masih berada didekat Jonah lantas menanyainya. "Dari siapa?"
"Dari wanita cantik." bohong Jonah.
Ally mengernyitkan dahi. "Untuk apa wanita cantik menelponmu? apakah dia menagih hutang?"
Jonah mendesis sebal. Bagaimana mungkin orang kaya sepertinya memiliki hutang?!
"Dia bilang bahwa dia merindukanku. Jadi dia menelepon dan ingin bertemu nanti malam." sinis Jonah.
Ally memutar bola mata malas. "Masih suka berhayal rupanya."
"Nona Ally, aku akan pergi keluar untuk berkencan dengan gadis lain beberapa jam lagi, apakah kau memberiku ijin?" ucap Jonah dengan nada yang diimut-imutkan.
"Ya, pergilah. Pergilah yang jauh, lebih baik jangan pernah kembali."
"Nona Ally, apakah kau cemburu? jika kau cemburu dan tak mengijinkanku untuk berkencan, maka aku tidak akan pergi malam ini." cicit Jonah.
__ADS_1
"Siapa yang cemburu!? justru akan lebih baik jika kau tak ada dirumah." Ally berjalan menuju pintu. "Minggir, aku mau mandi." kata Ally karena Jonah berada didepan pintu.
"Nona Ally jangan lupa membawa handuk." ucap Jonah tertwa.
**********
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lebih, Jonah masih bersiap-siap. Ponselnya berkali-kali berdering tapi Jonah mengabaikannya.
"Ya, Jonah! tolong angkat teleponnya! Berisik sekali." marah Ally.
"Ah, ini telepon dari gadis kecilku. Dia pasti tak sabar ingin segera bertemu denganku." ucap Jonah tersenyum mengejek pada Ally.
Ally menatap layar ponsel Jonah yang terus-terusan berbunyi. Ia membaca nama yang tertera dilayar dan tertawa kecil. "Oh, aku tak tahu bahwa 'gadis kecil' yang akan bertemu denganmu itu bernama 'Robin', nama yang sangat jantan." tandas Ally.
Jonah yang tengah menyisir rambut segera terhenti dari kegiatannya dan langsung menyambar ponselnya. "Aku pergi sekarang." ucapnya.
"Selamat bersenang-senang bersama Robin si gadis kecil." ejek Ally dan tertawa lantang.
.
.
.
Jonah segera melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah ia sepakati bersama Robin untuk bertemu. Ponselnya terus saja berbunyi, Jonah agak kesal dan akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Ya, Jonah kau ini—"
"Aku sedang diperjalanan." ucapnya langsung memutus sambungan.
Jonah segera memasuki restoran itu dan segera mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Robin. Lelaki yang dicarinya sedang duduk disebuah meja bagian pojok. Jonah lantas menghampirinya.
"Maaf terlambat." ucap Jonah beringsut duduk.
"Ya, Jonah sialan! aku menunggumu hampir satu jam disini!" marah Robin.
"Seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah meluangkan waktu untuk menemuimu." cicit Jonah.
"Ah, tetap saja kau—"
"Apa yang ingin kau bicarakan?" potong Jonah.
"Kenapa kau menghilang beberapa hari ini?" tanya Robin.
"Ayolah, jangan basa-basi." pungkas Jonah.
"Aku serius, Jonah. Kemana saja kau ini? seminggu kenapa tidak masuk bekerja?"
"Aku sibuk." sahut Jonah.
"Sibuk apanya?!" pelik Robin
"Pokoknya aku sibuk."
__ADS_1
"Haah... Jonah, asal kau tahu. Gadis menyebalkan itu selalu menanyaikan tentangmu! aku hampir muak karenanya!" terang Robin.
Jonah berlipat dahi. "Gadis menyebalkan?" tanyanya. Saat Robin mengatakan itu, pikiran Jonah hanya tertuju pada Ally. Apakah ada gadis yang lebih menyebalkan daripada Ally?
"Siapa lagi jika bukan Jessie! mantanmu itu!"
Jonah akhirnya teringat pada nama itu.
"Ada apa dengan dia?" tanya Jonah.
"Ah, gadis itu selalu mendatangiku dan selalu saja bertanya padaku dimana kau! dia sangat menjengkelkan! dia bilang bahwa kau memblokir nomor telponnya, dia bahkan memaksaku agar aku mau meneleponkanmu untuknya!"
"Apa kau melakukan apa yang dia kehendaki?" tanya Jonah.
"Tentu saja tidak! bisa-bisa aku mati ditanganmu!" desis Robin.
Jonah terkekeh pelan. "Bagus jika kau paham."
"Dan lagi, Jessie bahkan menuduh Stevi menyembunyikanmu. Kemarin aku melihat Jessie memarahi bahkan menampar Stevi." adu Robin.
Jonah tertegun. Stevi, nama itu mulai memenuhi kepalanya lagi.
"Tak hanya Jessie, sebenarnya Stevi juga ada menanyakanmu. Dia juga mencarimu, Jonah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Yuhu... segini dulu yaa... jangan tinggalin komen ya🥰 vote dan jangan lupa klik favorite ya😘 like yang banyak biar author semangat buat update😍